HomeNalar PolitikDi Balik “Caper” Amien Rais

Di Balik “Caper” Amien Rais

Kecil Besar

Kritikan Amien Rais pada Jokowi dalam Rakornas PA 212 dianggap berbagai pihak terlalu berlebihan. Apakah ini cara Amien dalam mencari perhatian?


PinterPolitik.com

“Sedikitnya perhatikan perkataan Anda, jangan sampai pernyataan itu merusak peruntungan Anda.” ~ William Shakespeare

[dropcap]S[/dropcap]ebagai sastrawan legendaris asal Inggris yang telah menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, nasihat Shakespeare untuk memperhatikan apa yang akan diucapkan di muka umum, sepertinya harus diingat baik-baik. Sebab hanya gara-gara gemar berbicara, Socrates harus mengalami kematian tragis dengan meminum racun.

“Tibalah kini saat kita berpisah, aku menjelang mati dan kalian menempuh hidup, mana yang lebih baik, hanya Tuhan mengetahui.” Begitulah pidato terakhir Socrates di hadapan para muridnya, sebelum denyut nadi filsuf aliran klasik tersebut berhenti secara perlahan. Kematian menyakitkan gurunya itu, kemudian diabadikan Plato dalam buku Apologia.

Buku yang mengisahkan epilog kehidupan Bapak Filosofi Barat ini, merupakan versi lain dari semangat dramaturgi kebudayaan Athena di kehidupan nyata. Namun setidaknya, dari buku itu para Socratics dapat belajar mempertahankan prinsip secara lugas, menghantam lawan tanpa takut, namun tetap tidak kehilangan kerendahan hati.

Kerendahan hati, mungkin elemen itu yang kurang dirangkum dalam pidato Amien Rais di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Persaudaraan Alumni (PA) 212, di Cibubur, Jakarta, Selasa (29/5) lalu. Di hadapan para peserta demo Bela Islam berjilid tersebut, Amien secara tegas menyatakan kalau Jokowi akan dilengserkan oleh Allah SWT.

Ketua Majelis Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) yang telah berusia 74 tahun ini, memang dikenal sangat vokal mengkritisi Jokowi, bahkan sebelum mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menjabat sebagai presiden ketujuh. Sudah berkali-kali pula, mantan Ketua MPR ini yakin kalau Jokowi akan segera dilengserkan.

Meski begitu, pernyataannya kalau Jokowi akan dilengserkan Allah, akhirnya menuai kritikan tajam. Bahkan politikus Golkar Ali Muchtar Ngabalin yang kini berada di jajaran staf kepresidenan, mengingatkan Amien untuk menjaga lisannya dan tidak bertindak layaknya Allah dengan menentukan takdir seseorang seenaknya.

Entah karena peringatan Ngabalin, atau Amien yang menyadari kalau pernyataannya sudah kelewat batas, belakangan muncul wacana untuk mempertemukan Ketua Dewan Penasihat PA 212 tersebut dengan Jokowi. Bahkan, Amien sendiri sudah membuka pintu rumahnya bila Jokowi ingin bertemu.

Perubahan sikap Amien ini, pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, apakah Amien sebenarnya berusaha mencari perhatian (caper) pada Presiden selama ini? Ataukah ada maksud lain dari undangannya, sebab secara tegas Bapak Reformasi ini tidak mau bertemu di istana? Sebenarnya, ada apa di balik sikap capernya itu?

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Manuver Komunikasi Sang Kancil

“Perkataan adalah cermin dari jiwa; saat seseorang berbicara, seperti itulah dirinya.” ~ Publilius Syrus

Walau bukan filsuf, namun nama Publilius Syrus sangat terkenal sebagai penulis hebat di era 83-45 SM. Bahkan konon, Brutus dan Julius Caesar saja begitu mengagumi karya-karyanya. Meski begitu, pengalamannya yang sempat dijual ke Romawi sebagai budak asal Suriah, membuat Syrus dikenal sebagai seseorang yang sangat rendah hati.

Contideam natur qui semper timet” atau yang secara bebas diterjemahkan menjadi “Yang setiap hari menuduh adalah yang selalu takut” merupakan adagium Syrus paling terkenal. Menurutnya, orang yang selalu curiga akan senantiasa melihat kekurangan pada orang lain dan lupa dengan kekurangannya sendiri.

Bila ditarik pada pernyataan Amien yang selalu menuding dan menjelek-jelekkan Jokowi, apakah itu juga dapat diartikan kalau ia tengah takut atau mencurigai sesuatu? Namun di sisi lain, Psikolog Behavioristik BF. Skinner memandang, bisa saja tudingan yang selalu dilontarkan Amien memang memiliki tujuan tertentu.

Bila dilihat dari acara yang dihadiri, yaitu Rakornas PA 212 yang notabene merupakan kelompok yang berseberangan dengan Pemerintah, pidato Amien memang dapat dikatakan berada di tempat yang tepat. Bisa jadi, Amien memang sengaja atau merencanakan untuk mengatakannya guna memberikan stimulus dan respons yang sama dari yang hadir.

Sebagai tokoh yang terkenal agamis, Amien juga sangat mungkin membawa-bawa nama Tuhan dalam upaya memperkuat argumentasinya. Terlepas dari etis atau tidak, bagi sebagian umat, pidatonya bisa jadi menggetarkan. Keahlian ini, menurut Psikolog Kognitif Noam Chomsky, biasanya memang merupakan bakat yang dibawa sejak lahir.

Praduga Chomsky ini, ternyata dibenarkan oleh Sri Bintang Pamungkas yang mengatakan kalau Amien Rais memang sejak dulu sudah pandai bicara. Sosok yang sempat dijuluki “si kancil” berkat kecerdikannya bermain kata-kata dengan Soeharto di masa pergolakan reformasi lalu, memang diakui kepandaiannya bersilat lidah saat berorasi.

Elaborasi Pemikiran Pendekar Chicago

“Semua ucapan sia-sia dan kosong, kecuali jika disertai dengan tindakan.” ~ Demosthenes

Orator legendaris dari Athena, Demosthenes, sudah membuktikan sendiri bahwa kata-kata saja tak cukup tanpa disertai tindakan. Akibat gagap yang dideritanya, ketika kecil Demosthenes bukan saja ditertawakan semua orang di muka umum, tapi juga harus kehilangan warisan kekayaan orangtuanya yang telah meninggal.

Namun dengan kemauan dan tekad yang kuat, Demosthenes mampu mengalahkan kekurangannya tersebut. Ia bukan saja berkembang menjadi orator profesional yang begitu dikagumi kata-katanya dan menjadi pemimpin penting dalam politik Athena, tapi juga berhasil merebut kembali warisan orangtua dari dompet walinya yang serakah.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Walau tidak memiliki masa kecil kelam seperti Demosthenes, namun Amien Rais juga dikenal sebagai orator dan pemimpin politik di tanah air. Mantan Ketua MPR yang pernah dituding sebagai sosok yang paling bertanggung jawab mengusik kesucian UUD 1945 melalui empat kali amandemen ini, latar belakangnya juga tidak sembarang.

Sepak terjang Amien sebagai alumnus Chicago University, tentu tak bisa lepas dari jaringan koneksi almamaternya yang konon disebut sebagai Chicago Connection. Sehingga belum tentu kritikan yang Amien lontarkan pada Pemerintah, hanya sekedar ungkapan emosional dirinya semata.

Sebagai politisi andal, Amien yang dijuluki sebagai “pendekar Chicago” oleh Gus Dur ini, tentu juga menyadari efek dari pernyataannya tersebut. Berdasarkan teori relativitas linguistik, setidaknya ada tiga dampak yang menjadi tujuan sebuah pernyataan, yaitu membuat pendengarnya berpikir, mempengaruhi persepsi, dan mengubah pola pikirnya.

Sehingga, kalau ditilik dari ucapan Amien yang membawa nama Tuhan, bisa jadi Amien berusaha untuk menguatkan stigma buruk kepemimpinan Jokowi dengan mengaitkannya pada agama. Di sisi lain, gencarnya kritikan Amien pada Jokowi sangat dimungkinkan karena ia memiliki informasi yang masyarakat, atau bahkan Jokowi sendiri, tidak tahu.

Dalam sejarah, Amien telah membuktikan kalau tujuannya dalam memperjuangkan demokrasi, membuat dirinya menjadi salah satu orang yang paling bertanggung jawab dalam menumbangkan pemimpin negeri ini. Bukan hanya Soeharto, tapi juga Ketua PBNU dan presiden keempat Indonesia, Gus Dur.

Jadi bila ingin mengelaborasi atau mengasumsikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan mantan ketua umum PAN ini, berdasarkan Teori Elaborasi atau Elaboration Likelihood Theory (ELT), ada baiknya untuk memproses pernyataan Amien tersebut dengan lebih mendalam, hati-hati, dan kritis.

Pertama, apakah pernyataan Amien ini termasuk argumen yang kuat (strong arguments) berupa peringatan kalau Jokowi sebentar lagi akan segera dilengserkan? Siapa kekuatan itu? Berkaca dari kebijakan proteksionis Jokowi dan kedekatannya dengan Tiongkok serta Rusia, sangat mungkin Jokowi memiliki musuh dari pihak asing.

Kedua, mungkinkah pernyataan Amien ini hanyalah sekedar “menyenangkan” dan mengobarkan semangat anggota PA 212 untuk tidak memilih lagi Jokowi di Pilpres 2019 nanti? Sehingga pernyataannya tersebut dapat dianggap sebagai pepesan kosong (neutral arguments) atau malah membuat pendengarnya kecewa (weak arguments)?

Sejauh ini, pidato Amien Rais masih terkesan argumentasi netral dan cenderung lemah, mengingat banyak pihak yang menyayangkan pernyataan tersebut. Namun, undangan Amien agar Jokowi bertandang ke rumahnya, tentu juga menimbulkan asumsi tersendiri. Mungkinkah di saat pertemuan itu, sang pendekar akan mengeluarkan senjata pamungkasnya? Menarik untuk ditunggu. (R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...