HomeNalar PolitikCorona, Tanda Kehancuran Tiongkok?

Corona, Tanda Kehancuran Tiongkok?

Kecil Besar

Di tengah langkah Tiongkok untuk menjelma menjadi kekuatan ekonomi besar dunia untuk menyaingi Amerika Serikat, wabah virus Corona tiba-tiba datang dan menjadi penanda akan terjun bebasnya perekonomian negeri Tirai Bambu. Tidak hanya itu, wabah tersebut juga dinilai akan menjadi preseden bagi kejatuhan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Benarkah demikian?


PinterPolitik.com

Dalam pidatonya ketika memperingati HUT ke-70 Tiongkok di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok pada 1 Oktober 2019 lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan optimis menyebut bahwa tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang Tiongkok, pun begitu dengan menegaskan tidak ada pula kekuatan yang dapat menghentikan Bangsa Tiongkok untuk terus maju.

Menariknya, dua bulan berselang, virus Corona hadir dan menjelma menjadi kekuatan destruktif yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh Xi Jinping.

John Lonski dalam tulisannya Coronavirus May Be a Black Swan Like No Other, menyebutkan bahwa virus Corona menjadi semacam black swan bagi ekonomi Tiongkok, bahkan dunia.

Black swan atau angsa hitam sendiri adalah istilah yang dipopulerkan oleh polimatematikawan, Nassim Nicholas Taleb untuk merujuk pada peristiwa langka yang berdampak besar, sulit diprediksi, dan di luar perkiraan.

Memang tidak berlebihan, virus tersebut justru muncul di tengah digdayanya ekonomi Tiongkok ataupun dalam sengitnya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Konteksnya juga menjadi semakin menarik karena virus tersebut pertama kali diidentifikasi di Kota Wuhan.

Pasalnya, Wuhan merupakan kota tempat persimpangan jalur kereta api yang menghubungkan semua kota-kota besar Tiongkok. Kemudian, Wuhan adalah satu-satunya kota yang memiliki bandara dengan penerbangan langsung ke lima benua di Tiongkok tengah.

Tidak hanya itu, kota yang dijuluki sebagai “jiu sheng tong qu” atau yang berarti “jalan utama dari sembilan provinsi” tersebut juga merupakan kota manufaktur besar yang salah satu fokus utamanya memproduksi peralatan medis.

Karena vitalnya status Wuhan bagi Tiongkok, itu membuat politikus Pakistan, Rehman Malik untuk menyebutkan bahwa virus Corona adalah virus jenius karena menyasar sasaran yang begitu strategis.

Tentu pertanyaannya, seberapa jauh wabah virus Corona ini akan menjadi “penampar” bagi pernyataan optimis Xi Jinping tersebut?

Corona Remukkan Ekonomi Tiongkok?

Peter S. Goodman dalam tulisannya SARS Stung the Global Economy. The Coronavirus Is a Greater Menace, memperkirakan bahwa wabah virus Corona akan memberikan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 persen bagi Tiongkok tahun ini.

Namun, tidak sampai di akhir tahun, pada kuartal I-2020 saja, Tiongkok disebut telah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 persen, di mana pertumbuhan ekonomi Tiongkok saat ini di kisaran angka 5,5 persen.

Getirnya, bank investasi dan broker retail asal AS, Morgan Stanley bahkan menyebutkan pada kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Tiongkok hanya akan tumbuh sebesar 3,5 persen.

Kenneth Rapoza dalam tulisannya Coronavirus Impact, menyebutkan bahwa pekerja Tiongkok yang kembali bekerja sampai saat ini hanya sebesar 15 persen. Kondisinya juga diperparah di tengah larangan berbagai sektor, seperti impor, ekspor, hingga penerbangan.

Di berbagai sektor lainnya, seperti pariwisata, industri film, usaha retail, bursa saham, hingga manufaktur juga telah mendapatkan tamparan hebat. Di sektor pariwisata, industri film, dan usaha retail, diperkirakan Tiongkok akan menelan kerugian sebesar US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.137 triliun.

Kemudian, akibat wabah virus Corona, nilai kapitalisasi pasar bursa saham Tiongkok telah menguap sebesar US$ 420 miliar atau sekitar Rp 5.800 triliun.

Di sektor manufaktur, Kenneth Rapoza dalam tulisannya Coronavirus Could Be The End Of China As A Global Manufacturing Hub bahkan memprediksi bahwa status Tiongkok sebagai manufacturing hub – penyedia manufaktur global – akan berakhir seiring dengan mewabahnya virus Corona.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data United Nations Statistics Division, Tiongkok merupakan menyumbang 28 persen sektor manufaktur global pada 2018, di mana angka itu jauh melebihi AS yang hanya berkisar 16 persen. Dengan total pendapatan sebesar US$ 4 triliun atau sekitar Rp 56.964 triliun, sektor manufaktur menyumbang sebesar 30 persen dari total pendapatan ekonomi Tiongkok pada 2018.

Melakukan kalkulasi sederhana, jika hanya 15 persen pekerja Tiongkok yang kembali bekerja, mudah untuk menyimpulkan bahwa itu akan mengakibatkan banyak pabrik menjadi vakum, di mana itu dapat memicu gejolak sosial. Ekonom dari ING, Iris Pang juga menyebutkan bahwa telah timbul rasa ketidakpastian dari para pekerja terkait kapan pabrik akan kembali bekerja.

Menurut Kenneth Rapoza, berakhirnya Tiongkok sebagai manufacturing hub tidak hanya soal wabah virus Corona, melainkan juga karena faktor perang dagang yang telah dilakukannya dengan AS.

Menariknya, kendati terjadi perang dagang, berbagai perusahaan AS justru memiliki banyak pabrik manufaktur di Tiongkok. Berbagai perusahaan semikonduktor AS misalnya, diketahui sangat mengakar di negeri Tirai Bambu, dan bahkan menyumbang pendapatan yang signifikan.

Sebut saja pelanggan Intel di Tiongkok yang disebut menyumbang pendapatan sebesarar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 274 triliun, di mana itu merupakan 28 persen dari total pendapatan pada 2019.

Lalu, ada pula pembuat chip ponsel, Qualcomm yang juga begitu bergantung pada Tiongkok karena memperoleh 47 persen dari pendapatan tahunannya – hampir US$ 12 miliar atau sekitar 164 triliun – dari penjualannya di negara tersebut.

Akan tetapi, sebagaimana disebutkan oleh Jeanne Whalen dan Abha Bhattarai dalam tulisannya U.S. Companies Face Crucial Test Over China’s Factory Shutdown, wabah Corona telah menimbulkan kekhawatiran bagi perusahaan asal AS terkait keberadaan berbagai pabrik manufakturnya yang berada di Tiongkok.

Dengan adanya kondisi tidak diketahuinya kapan wabah virus Corona akan berakhir, terdapat kemungkinan bahwa pabrik-pabrik asal AS tersebut akan dipindahkan. Terlebih lagi, berbagai pabrik asal AS memang sudah banyak yang tutup di Tiongkok saat ini.

Merujuk pada hal tersebut, Kenneth Rapoza memberikan suatu simpulan yang menarik, yaitu AS diprediksi akan meninggalkan Tiongkok sebagai mitra bisnis, dan digantikan dengan Meksiko. Menurutnya, jika Presiden AS Donald Trump terpilih kembali, itu akan menjadi “mimpi buruk” bagi Tiongkok karena itu akan memuluskan proses pergantian tersebut.

Jika demikian besar dampak virus Corona bagi ekonomi Tiongkok, lantas mungkinkah itu menjadi preseden akan terjadinya gejolak politik besar bagi Xi Jinping?

Xi Jinping Akan Jatuh?

Peneliti dari Eurasia Group, Allison Sherlock menyebutkan bahwa Xi Jinping sebenarnya telah menyadari bahwa kasus virus Corona bukanlah sekedar persoalan krisis kesehatan publik semata, melainkan itu adalah tantangan politik terbesar yang harus dihadapinya sejak menjadi penguasa sejak 2012 lalu.

Tidak hanya soal virus Corona, sebenarnya Xi Jinping juga telah lama menimbulkan gejolak politik tersendiri menyusul dengan dinobatkannya sosok yang mendapatkan gelar “lingdao hexin” atau “pemimpin inti” tersebut menjadi Presiden Seumur Hidup Tiongkok pada 2018 lalu.

Selain itu, Xi Jinping juga dinilai telah menumpuk lawan politik karena caranya dalam membangun kekuatan politiknya justru dengan menyingkirkan satu per satu lawan politiknya.

Atas adanya dugaan terdapat lawan politik Xi Jinping yang telah menaruh dendam padanya, mudah untuk menyimpulkan bahwa isu wabah virus Corona, ataupun demo besar Hong Kong beberapa waktu yang lalu juga dapat menjadi “isu gorengan” yang digunakan untuk mengikis kepercayaan publik terhadap Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok tersebut.

Tidak ketinggalan, besar pula kemungkinan AS akan terlibat dalam proses delegitimasi Xi Jinping, menimbang pada Komandan Angkatan Bersenjata Tiongkok tersebut adalah sosok yang menabuh genderang perang dagang dengan AS.

Pada akhirnya, mungkin dapat disimpulkan, dengan berbagai variabel yang ada, mulai dari Tiongkok kemungkinan akan mengalami resesi ekonomi, hingga penurunan kepercayaan publik, itu dapat menjadi preseden bahwa Xi Jinping dapat kehilangan statusnya sebagai sosok yang paling berpengaruh di Tiongkok saat ini. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

View this post on Instagram

Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik) on

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Tito Karnavian, Politik “Low Exposure”?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...