HomeNalar PolitikCorona dan Pendekatan Transendental Terawan

Corona dan Pendekatan Transendental Terawan

Kecil Besar

Penyebaran virus Corona yang terjadi selama 2 minggu terakhir membuat masyarakat di berbagai belahan dunia cemas dan serba ketakutan. Menariknya, saat di mana hampir semua negara sudah mulai meningkatkan kewaspadaan melalui aneka kebijakannya, Indonesia di bawah Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto justru meminta masyarakat agar tetap santai dan memperbanyak doa agar terhindar dari virus jahat tersebut.


PinterPolitik.com

Merujuk data terbaru dari Xinhua, angka kematian yang disebabkan virus corona saat ini telah mencapai 106 orang, dari yang sebelumnya 82 orang. Sementara, sebanyak 4.515 orang lainnya telah terkonfirmasi positif terinfeksi virus tersebut.

Adapun, sejauh ini virus corona telah terdeteksi menyebar di 16 negara, termasuk Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Kamboja, Malaysia, Nepal, Kanada, Sri Lanka, Perancis, Vietnam, dan Jerman.

Sedangkan, untuk Indonesia sendiri sejauh ini masih dalam kondisi aman, alias belum ada warga Indonesia yang terdeteksi terinfeksi virus mematikan itu.

Meski begitu, bukan berarti pemerintah berdiam diri dalam menyikapi persoalan ini, apalagi meremehkannya. Jika diamati, pemerintah sampai sekarang masih belum tegas mengambil langkah-langkah serius untuk menyiasati fenomena ini.

Hal ini misalnya, terlihat dari sikap Menkes Terawan yang tampak “enteng” menanggapi virus tersebut. Alih-alih memperketat kebijakan sosialisasi dan [pencegahan, Terawan justru meminta warga untuk senantiasa bersantai dan memperbanyak doa.

Sikap Terawan ini justru bertolak belakang dengan Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie, yang menilai penyebaran virus corona yang cukup cepat di berbagai negara patut disikapi secara serius. Ia pun meminta pemerintah agar segera mencanangkan status darurat terhadap virus tersebut.

Jika ditelaah, pendekatan yang digunakan Terawan dalam menyikapi bahaya virus corona dengan meminta masyarakat “berdoa” sebetulnya menyerupai pendekatan transendental alias metode yang cenderung nonsaintifik. Pendekatan ini jelas bertolak belakang dengan pendekatan saintifik yang melihat sebuah fenomena atau persoalan dengan menggunakan kaidah-kadiah ilmiah. 

Lantas, bagaimana memaknai kedua pendekatan dan apa konsekuensinya?

Menkes Terawan imbau masyarakat waspada virus corona

Pendekatan Saintifik vs Transendental

Dalam tradisi ilmu-ilmu sosial, perdebatan antara metode saintifik (ilmiah) versus metode nonsaintifik, yang di dalamnya termasuk metode transendental, telah berlangsung cukup lama, bahkan hingga sekarang.

Kedua gugus pengetahuan ini diakui memiliki kerangka analisis yang berbeda dalam memahami sebuah perkara. Dalam tradisi saintifik, sebuah peristiwa hanya dapat dimengerti jika metode yang digunakan adalah metode ilmiah, yakni berbasis pada bukti-bukti empirik (kasat mata), dapat diobservasi, terukur, rasional, teruji, objektif dan seterusnya.

Baca juga :  Lapar yang Tidak Ikut Libur

Atau, seperti dinyatakan Soyombo dalam Science, Social Research and Scientific Approach, bahwa pendekatan saintifik umumnya berpijak pada kaidah-kaidah ilmiah. Kaidah ilmiah sendiri di dalamnya mencakup beberapa elemen penting seperti konsep, variabel, hipotesis, pengukuran dan teori.

Pasalnya, pendekatan saintifik umumnya memahami sebuah fenomena melalui serangkaian aktivitas mulai dari pengumpulan data lewat observasi atau eksperimen, kemudian data tersebut diolah dan dianalisis hingga akhirnya menemukan satu simpulan akhir.

Dalam konteks dunia kesehatan, menurut ulasan Mathews dalam Scientific Method In Epidemiology And Research In Community Health, pendekatan saintifik dimaksudkan untuk mendefinisikan situasi masalah dengan mengajukan satu atau lebih pertanyaan spesifik (ilmiah-sistematis) yang, jika dijawab, akan membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Berbeda dengan metode saintifik, pendekatan transendental lebih condong pada nilai-nilai transendental (nilai-nilai ketuhanan) atau spiritual dalam menjamah sebuah fenomena.

Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam misalnya, mengartikan metode transendental atau transendensi sebagai upaya mengarahkan orientasi hidup lebih kepada nilai-nilai keilahian. Dengan demikian, transendensi berarti sebuah pandangan atau cara hidup yang menuntun manusia kepada nilai-nilai ketuhanan.

Selain itu, pendekatan transendental juga kerap dipertentangkan dengan metode saintifik dan dianggap sebagai cara pandang atau pendekatan yang cenderung mengabaikan atau bahkan menegasikan fakta-fakta empirik dalam memahami sebuah peristiwa.

Dalam dunia kesehatan, pendekatan transendental lazim digunakan dalam teknik meditasi. Teknik ini belakangan cukup populer dengan sebutan transcendental meditation. Ted Heywood dalam Transcendental Meditation, menyebut metode ini merupakan teknik untuk mengalihkan pikiran dan mendorong kondisi perhatian yang penuh relaksasi.

Singkatnya, teknik ini memungkinkan pikiran dapat berpikir aktif dan membuat seseorang dapat mengakses tingkat pikiran yang lebih dalam, lebih tenang, dan pada saat yang sama, memungkinkan tubuh untuk mengambil keadaan istirahat yang dalam dan relaksasi sesuka hati.

Dengan demikian, terdapat perbedaan cukup tegas di antara kedua pendekatan. Jika dalam pendekatan saintifik, sebuah fenomena harus didiagnosis menurut langkah-langkah ilmiah, maka dalam pendekatan transendental lebih menitikberatkan pada nilai-nilai ketuhanan dan spiritual.

Lugasnya, metode ilmiah menuntut manusia untuk memecahkan sebuah persoalan berdasarkan ilmu pengetahuan, sedangkan metode transendental adalah kebalikannya.

Lalu, apa yang bisa dimaknai di balik pendekatan transendental yang kini tengah digunakan Menkes Terawan dalam mengantisipasi bahaya virus corona di Indonesia?

Terawan dan Pendekatan Transendental

Seperti telah disinggung di awal, bahwa Menkes Terawan dalam imbauannya kepada masyarakat agar tetap santai, tak perlu panik, dan banyak berdoa di tengah merebaknya virus corona ini mirip dengan pendekatan masalah ala transendental.

Baca juga :  Mentalitet Korea Ala Bahlil

Terawan meyakini, dengan cara tersebut masyarakat akan terhindar dari infeksi virus. Pertanyaannya, seberapa efektif metode tersebut diterapkan dalam tubuh sosial?

Satu hal yang luput dalam diagnosis Terawan terkait masalah ini terletak pada pendefinisian terhadap subjek masalah itu sendiri. Terawan lupa bahwa gejala virus corona sudah tergolong gejala sosial, bukan lagi individual.

Dikatakan gejala sosial karena faktanya, penyebaran virus tersebut kini terjadi melalui kontak fisik secara sosial (interaksi sosial). Selain itu, virus tersebut juga dengan cepat menjangkit dari satu tubuh ke tubuh yang lain.

Dalam tafsir sosiologis, semacam ada konsensus bahwa problem sosial tidak bisa diurai dengan menggunakan keranga mikro-individual. Ambil contoh, teknik meditasi transendental yang lebih menekankan pada sisi psiko-individual, jelas tidak akan bisa diterapkan dalam bentangan tubuh sosial yang luas dan kompleks.

Terawan juga, dalam konteks ini, tampaknya gagal dalam menempatkan diri sebagai seorang Menteri dan Dokter. Sebagai Menkes, jelas publik sangat mengharapkan lahirnya inisiasi program atau kebijakan konkret dalam melakukan antisipasi sekaligus pencegahan atas bahaya virus tersebut, bukan meminta masyarakat berdoa.

Imbauan agar masyarakat senantiasa berdoa biar dijauhkan dari segala bencana, malapetaka dan marabahaya, biarkan itu menjadi porsi dan tugas para agamawan. Tugas seorang menteri adalah menggunakan kewenangannya untuk menggerakan mesin birokrasi serta menyusun langkah-langkah strategis lainnya.

Ketimbang meminta warga berdoa, mungkin lebih bijak jika Terawan bersedia menggerakan seluruh perangkat birokrasi baik dari pusat hingga di berbagai pelosok untuk melakukan sosialisasi secara masif serta membantu meningkatkan imunitas warga lewat program-program nyata, entah dalam bentuk bantuan kesehatan ataupun lainnya.

Selain itu, sebagai seorang dokter, Terawan mestinya menggunakan basis keilmuwannya untuk mengambil langkah-langkah ilmiah dalam melakukan pencegahan dini. Sebab sangat disayangkan, menyandang gelar dokter, namun diagnosis terhadap masalah kesehatan justru menggunakan pendekatan nonmedis.

Pentingnya menggunakan metode ilmiah ini seperti dikatakan Mathews akan membantu mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan masyarakat tanpa harus bergantung pada takhayul ataupun pada tekanan politik, sosial dan ekonomi.

Untuk itu, penting bagi Menkes Terawan untuk melihat kembali persoalan ini agar persoalan virus corona ini tak membuat masyarakat larut dalam kepanikan. (H57)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Saat Yasonna Takluk Pada Pers

Misteri keberadaan tersangka kasus dugaan suap, Harun Masiku akhirnya terkuak. Investigasi Tempo berhasil membongkar disinformasi yang berhembus selama beberapa minggu terakhir yang menyebut Harun...

Sandi, Lawan Anies di 2024?

Baru berselang 3 bulan pelantikan presiden dan wakil presiden, kini sudah bermunculan wacana calon yang akan bertarung di Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2024 mendatang....

Megawati di Pusaran Demokrasi Elitisme

Banyak yang menilai kebijakan-kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sebagian besar dipengaruhi oleh keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri. Jika benar...