HomeNalar PolitikCendana Bangkit Bersama Garuda?

Cendana Bangkit Bersama Garuda?

Selain Partai Berkarya yang sudah jelas ditunggangi Tommy Soeharto, Partai Garuda ternyata juga ‘digadang’ menjadi kendaraan politik keluarga Cendana untuk kembali eksis.  


PinterPolitik.com 

[dropcap]T[/dropcap]ommy Soeharto boleh girang saat partainya, Partai Berkarya, berhasil mendapatkan urutan nomor tujuh. Ia bilang, angka tujuh adalah angka yang baik, sementara sisanya angka sial.

Kegirangan Tommy barangkali tak hanya diakibatkan oleh urutan tujuh yang baru saja didapatkannya, tetapi juga ‘kepastian’ bila kakinya mulai berpijak dalam dunia politik negeri. Dirinya bahkan tak malu-malu mengakui bila misi Partai Berkarya memang ingin ‘membangkitkan’ kembali Orde Baru dengan membidik para pemilih yang kecewa dengan reformasi yang sudah berjalan selama dua puluh tahun ini.

Selain nama Tommy Soeharto, nama Siti Herdiyanti Rukmana atau yang disapa Tutut, juga mengemuka. Hal ini karena adanya dugaan Partai Garuda – salah satu partai baru dalam Pemilu 2019 – didukung oleh Tutut Soeharto.

Ketua Umum Partai Garuda, Ahmad Ridha Sabana, terbukti pernah bekerja dengan Tutut di stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Dari sinilah, nama Tutut kemudian dihubungkan dengan partai berlambang garuda tersebut.

Tak hanya tudingan dekat dengan Tutut, Partai Garuda juga dilempar dengan isu memiliki hubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai Gerindra. Bila melihat keterkaitan Partai Garuda dengan Partai Gerindra, memang lebih kentara, sebab simbol yang digunakan keduanya hampir sama – burung garuda – dan Ketua DPP Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria juga sudah membuka hubungannya sebagai kakak kandung dari Ketua Umum Partai Garuda.

Keberadaan Partai Berkarya dan Partai Garuda, dengan aroma Cendana di sekitarnya, memang membuat kedua partai baru ini banyak dibahas oleh publik. Bahkan Partai Garuda terbukti menjadi partai yang paling banyak di-googling di hari pengambilan nomor urut partai tersebut – mengalahkan PSI dan Perindo.

Kuatnya spekulasi yang mewarnai Partai Garuda, terutama hubungannya dengan Cendana, sangat menarik dibedah. Apakah benar ada Tutut di belakang partai yang masih berusia balita tersebut? Apakah Partai Garuda juga ingin menghidupkan kembali Orba? Apa saja upaya yang dilakukan Tutut selama ini untuk memasuki celah politik negeri?

Membedah Isi Perut Garuda

Bila dibandingkan dengan Partai Berkaya ‘kepunyaan’ Tommy Soeharto, informasi mengenai Partai Garuda jauh lebih tertutup dan terbatas. Dalam portal resmi Partai Garuda, tak tersedia nama-nama anggota yang mengisi struktur organisasi, hanya Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal saja terpampang di sana. Sementara Partai Berkarya mantap diketahui menggandeng tokoh purnawiraman di dalamnya, yakni Jenderal Purnawirawan Muchdi Purwoprandjono, sebagai Ketua Dewan Kehormatan dan Wakil Ketua Dewan Pembina.

Dalam wawancara dengan CNN pada 26 Februari lalu, Ridha berkata jika anggota partainya memang 98 persen diisi oleh orang-orang baru atau belum pernah terjun di dunia politik. Tak ada nama atau sosok besar pula di dalam partainya. Ia menambahkan, Partai Garuda memang menyasar anak-anak muda yang anti-mainstream – atau menghendaki adanya wadah untuk berpolitik.

Namun begitu, Partai Garuda juga diketuai oleh sosok yang aktif berorganisasi. Ahmad Ridha Sabana, tercatat pernah berorganisasi di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Dirinya pernah ikut mencalonkan diri sebagai Ketua Umum KNPI periode 2011 – 2014. Namun sayang, langkahnya terjegal oleh sosok Taufan Eko Nugroho Rotorasiko yang tak lain adalah menantu Aburizal Bakrie (Ical).

Seperti yang diketahui, KNPI adalah organisasi kepemudaan yang awalnya merupakan gabungan dari kelompok Cipayung, binaan kader Golkar dan tentara. Dengan demikian, bukan rahasia lagi, jika KNPI sangat kental dengan nuansa Golkar dan tak menutup kemungkinan mengusung ide kejayaan Orde Baru. Hal ini bisa dilihat dari keterlibatan KNPI yang menginisiasi pemutaran kembali film G30S PKI pada Oktober 2017 lalu, di beberapa daerah di Indonesia.

Baca juga :  Mengapa Risma Bisa Saingi Khofifah?

Hal menarik lainnya adalah, tak hanya kalah dalam kompetisi sebagaimana perebutan posisi sebagai Ketua DPP KNPI, Ridha ternyata pernah pula menelan pahit kekalahan saat maju bersama Gerindra. Di tahun 2014 lalu, ia berkendara bersama dengan Gerindra sebagai calon legislatif. Tapi Ridha juga langsung buru-buru membalas, jika dirinya tak pernah menjadi pengurus di partai besutan Prabowo Subianto tersebut.

Selain KNPI, Ridha tercatat pernah pula aktif sebagai Ketua BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) daerah Yogyakarta. Dalam pengukuhan anggota baru angkatan IV HIPMI Pusat, ia terlihat pula berada dekat dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang saat itu masih ‘baru’ berstatus Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2013.

Hal menarik lainnya adalah, bantahan Ridha terhadap relasinya dengan Tutut Soeharto. Ia berkata memang pernah membantu Tutut menyelesaikan masalah stasiun televisi TPI dengan MNC TV. Di tahun 2006 itu, TPI berebut hak kepemilikan dengan stasiun televisi milik Hary Tanoesoedibjo (HT), MNC. Dalam konflik tersebut, Ridha memegang jabatan sebagai Direktur Utama dan mantap berseru bila MNC sudah tak memiliki hak siar lagi.

Seperti yang disebutkan oleh Ridha di beberapa media, hubungannya dengan Tutut, seperti terhenti di sana. Jejak digital bahkan tak lagi merekam hubungan keduanya. Namun, dalam sebuah group di media sosial Facebook, terlihat bahwa Ridha Sabana juga memiliki hubungan cukup baik dengan anggota Front Pembela Islam (FPI) di daerah Aceh.

Meninggalkan Ridha Sabana, sosok sang Sekretaris Jenderal Partai Garuda, Abdullah Mansuri, ternyata lebih ‘dekat’ dengan Cendana. Hal ini mudah dilihat dari seringnya nama Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) tersebut diberitakan di kanal berita cendana news, sebuah portal berita ‘biasa’ namun khusus menyediakan kolom pemberitaan aktivitas politik dan sosial para trah Cendana, mulai dari Tommy Soeharto, Titiek, hingga Tutut.

IKAPPI yang berdiri tahun 2015 ini, mendapat satu halaman penuh untuk mengenalkan organisasinya di cendana news. Seperti yang dikutip dari portal tersebut, IKAPPI memiliki tujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat pedagang pasar dan pedagang kecil di seluruh Indonesia.

Selain akrab dengan para pedagang dan pengusaha kecil, Abdullah Mansuri juga akif merangkul para santri. Dalam wawancara dengan CNN, Abdullah Mansuri berkata kalau dirinya dibesarkan oleh kyai yang dihormati. Pernyataan tersebut dikeluarkan dalam konteks menangkal anggapan bila Partai Garuda berafiliasi dengan PKI. Kedekatan dirinya dengan para santri, terlihat pula dalam dukungannya kepada Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) di akun Facebook-nya.

Lingkaran sosial yang dimiliki oleh Ketua dan Sekjen Partai Garuda hampir bersentuhan erat di kalangan pengusaha dan muslim. Ridha Sabana aktif di Hipmi, sementara Abdullah Mansuri berada di Hipsi. Massa-nya memang rata-rata terdiri dari pedagang atau pengusaha muslim kecil dan menengah, dan anak muda.

Bila jejak Tutut tak lagi bisa terlacak dalam tubuh Garuda, pendekatan yang dilakukan Partai Garuda sebetulnya mengingatkan dengan cara Tommy Soeharto ‘membesarkan’ Partai Berkarya.

Siasat Cendana Kembali Eksis

Sebetulnya usaha trah Cendana untuk kembali eksis di dunia politik, tak hanya bisa diamati saat pemerintahan era Presiden Jokowi ini saja. Saat reformasi baru berdiri, Tutut bahkan mencoba untuk kembali ‘eksis’ di dunia politik negeri dengan bantuan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Saat itu, ia maju sebagai capres di tahun 2004.

Baca juga :  Bahaya IKN Mengintai Prabowo?

Namun sayang, partainya hanya mampu mendapat suara sebanyak 2,11 persen di DPR. Selanjutnya PKPB hilang ditelan bumi di tahun 2009 karena tersandung peraturan undang-undang baru, yakni Presidential Threshold (PT) 20 persen. Partai kecil Tutut mau tak mau harus ‘mengalah’ di sana.

Soeharto, walks with his eldest daughter, Siti Hardiyanti Rukmana. (sumber: istimewa)

Bila dibandingkan dengan Tommy Soeharto dan Titiek, Tutut memang lebih berpengalaman dan lama berkecimpung di dunia politik. Di tahun 1997, Tutut menjabat sebagai Menteri Sosial.

Dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto karya Salim Said, ketika masih di Golkar, Tutut bahkan sudah berani melawan pihak yang berseberangan dengan Soeharto. Ia tak hanya mencegah PDIP berdekatan dengan NU, namun juga berani bersuara layaknya Megawati dan Gus Dur.

Tak hanya itu, Salim Said juga sempat meramal bila Tutut nantinya akan menggantikan Harmoko duduk sebagai Ketua DPR/MPR. Tapi sayang, hal tersebut meleset jauh dan Harmoko malah makin kuat duduk sebagai Ketua Umum Golkar.

Tommy Soeharto pun juga tak ketinggalan pernah mencoba untuk ‘panjat tangga’ sosial dalam Partai Golkar. Tetapi sayang, langkahnya terjegal karena kasus hukum yang pernah membelitnya. Sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilu yang melarang mantan terpidana lebih dari 5 tahun mencalonkan diri sebagai capres dan ketum Golkar, langkah Tommy selalu dihentikan dan akhirnya keluar untuk mendirikan sendiri partainya.

Titiek juga tak ketinggalan mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar di tahun 2017. Saat itu, ia harus berhadapan dengan Airlangga Hartarto. Tapi sayang, popularitasnya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Airlangga.

Partai Garuda, Kendaraan Lain Cendana?

Pola pendekatan yang dilakukan dalam Partai Garuda sedikit banyak mengingatkan pada Partai Berkarya, terutama pendekatannya pada kantong-kantong santri. Partai Garuda, jika diamati dari akun media sosial yang ada, memang memiliki massa yang terdiri dari santri, simpatisan FPI, atau gerakan 212, serta kalangan pengusaha. Sementara Partai Berkarya merangkul punawirawan dan massa muslim.

Sebagai pendiri dan Ketua Dewan Pembina, Tommy Soeharto sudah ‘bergerilya’ mendatangi banyak tapal kuda Jawa Timur, seperti contohnya Pesantren Ahlussunna Wal Jamaah di Probolinggo. Ia juga mendatangi haul Habib Husein bin Hadi al-Hamid ke-33, serta tentu saja datang ke Milad FPI ke-19 pada Agustus 2017 lalu. Strategi ini dilakukan Tommy menggaet masyarakat yang simpatik dengan FPI dan gerakan Islam.

Tetapi tentu saja, hal tersebut tak bisa menjadi sebuah kesimpulan jika Partai Garuda adalah kendaraan politik trah Cendana. Jika berafiliasi, hal itu masih sangat mungkin terjadi. Hubungan Tommy, Titiek, atau Tutut sekalipun, masih kabur dan berkabut dalam Partai Garuda.

Kembali lagi pada petuah Soeharto dalam sebuah kesempatan, ia berkata bahwa, “Kemuliaan terbesar kami adalah tidak pernah jatuh, tetapi meningkat setiap kali kita jatuh,” agaknya petuah ini menjadi bensin bagi anak-anak Soeharto untuk terus mencari celah memasuki dunia politik negeri.

Tentu saja partisipasi politik dari trah Cendana sangat tak bermasalah di mata demokrasi, sekalipun benar adanya bila Partai Garuda memang diisi oleh kekuatan Cendana.

Tetapi dengan begitu, Pemilu 2019 mau tak mau akan menjadi hari-hari yang penuh omong kosong (harmoko), sebab anak-anak Cendana masih juga belum mau beranjak dari ‘surga’ yang dibangun Ayahnya. (A27)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Ridwan Kamil, Kunci Golkar 2029?

Golkar masih menimbang-nimbang soal kemungkinan Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil untuk maju di Pilkada Jakarta atau Pilkada Jawa Barat.

Royal Rumble Pilkada: Jokowi vs Mega vs Prabowo

Pilkada 2024 akan makin menarik karena melibatkan pertarungan perebutan pengaruh para elite. Ini penting karena kekuasaan di level daerah nyatanya bisa menentukan siapa yang paling berpengaruh di level elite.

Mengapa Risma Bisa Saingi Khofifah?

Nama Tri Rismaharini (Risma) diwacanakan untuk jadi penantang bagi Khofifah Indar Parawansa di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2024.

Krisis Kader, Megawati Harus Waspada?

Pilgub 2024 dipenuhi calon-calon kuat yang sebagian besar tidak berasal dari ‘rahim’ PDIP. Hal ini berbeda jauh dari penyelenggaraan Pilgub-pilgub tahun-tahun sebelumnya. Mengapa demikian? 

Prabowo Cari Pengganti Erick Thohir?

Posisi Menteri BUMN adalah salah satu jabatan krusial dalam pemerintahan, termasuk bagi kabinet Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming nanti.

Mengapa Kaesang Ngebet ke Anies?

Meski Anies Baswedan tampak menghindar dari wacana dipasangkan dengan Kaesang, putra bungsu Jokowi itu tampak tetap tertarik. Mengapa?

Mengapa Islamophobia Tinggi di Eropa?

Islamophobia menjadi horor yang terus menghantui Benua Eropa. Mengapa kebencian ini bisa terus ada?

Mungkinkah PDIP Jerumuskan Anies di Jakarta?

Sinyal dukungan PDIP kepada Anies Baswedan untuk berlaga di Pilkada Jakarta 2024 terus menguat. Namun, selain dinilai karena kepentingan pragmatis dan irisan kepentingan sementara belaka, terdapat interpretasi lain yang kiranya wajib diwaspadai oleh Anies dan entitas yang benar-benar mendukungnya.

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....