HomeHeadlineCahaya Harapan MK untuk Keterwakilan Perempuan

Cahaya Harapan MK untuk Keterwakilan Perempuan

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio dibuat menggunakan AI.

Perempuan tidak kekurangan tempat di surat suara. Mereka kekurangan tempat di ruang kekuasaan.


Pinterpolitik.com

Narasi yang beredar selama ini sederhana: perempuan tidak mau masuk politik. Laporan Women Research Institute justru menunjukkan sebaliknya. Perempuan sudah maju, tetapi sistem politik Indonesia lebih menghargai modal kampanye daripada modal sosial yang mereka bangun bertahun-tahun. Masalahnya bukan keberanian perempuan untuk maju. Masalahnya adalah sistem yang tidak pernah sungguh-sungguh dirancang agar mereka menang. 

Dina yang Sadar Hanya Menjadi Pelengkap Administratif

Dua puluh tahun Dina aktif di posyandu, pengajian, dan kegiatan kampung. Ketika partai datang menawarkan pencalonan, ia percaya pengabdiannya punya nilai politik.

Ternyata tidak. Karena tidak mampu menyediakan biaya saksi, nomor urutnya diturunkan. Ia berkampanye dari pintu ke pintu. Dalam kontestasi itu, dua puluh tahun pelayanan kalah oleh amplop yang dibagikan dalam hitungan hari. Janji atas dukungan politik dan logistik ternyata palsu.

Setelah pemilu, cemoohan datang dari orang-orang yang dulu memanggilnya dengan hormat. “Kalau nggak punya uang, jangan sok ikut pencalonan.” Dina tidak berani keluar rumah. Dina sadar bahwa dirinya hanya dijadikan pelengkap administratif.

Anna dan Kemenangan Semu

Anna mencalonkan diri untuk kedua kalinya, meraih suara terbanyak di dapilnya, divalidasi dari tingkat provinsi hingga nasional, dan sudah mengikuti pelatihan anggota DPR terpilih.

Lalu partai memecatnya sebelum pelantikan dengan tuduhan yang diputus secara internal, tanpa memberinya kesempatan membela diri. Anna pergi ke pengadilan. Pengadilan memutus tidak bersalah. Partai tidak bergerak. Kursinya tidak pernah ia duduki.

Ia yakin bahwa ada maksud lain dirinya dihentikan

“Kini saya merasa partai hanya melihat partisipasi politik perempuan sebagai alat, bukan tujuan,” tulisnya dalam kesaksian kepada Women Research Institute. Memperlihatkan dirinya yang sudah pasrah akan pengalaman politiknya yang buruk

Baca juga :  Efek Ahok, Peluang Sherly di 2029?

Ketika MK Bawa Cahaya Harapan Keterwakilan Perempuan

Ada yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kisah Dina dan Anna.

Dari 128 anggota DPR perempuan terpilih pada 2024, hampir separuhnya memiliki hubungan dinasti politik. Anak perempuan tokoh partai. Istri bupati. Keponakan ketua fraksi. Bukan perempuan dari posyandu. Bukan perempuan yang dua puluh tahun membangun kepercayaan di kampung. Ketika perempuan akhirnya masuk ke parlemen, yang masuk lebih sering bukan Dina. Yang masuk adalah perempuan yang mewarisi nama belakang yang benar.

Pergantian wajah dalam oligarki yang sama.

Cara kerja sistemnya sederhana dan brutal sekaligus. Partai menaruh caleg perempuan di dapil yang sudah dikuasai dinasti lokal sejak dua pemilu lalu. Nomor urut kompetitif disimpan untuk mereka yang punya koneksi atau bisa mendanai sendiri. Logistik kampanye mengalir ke kandidat dengan jaringan donatur, bukan kepada Dina yang hanya punya dua puluh tahun kerja sosial. Dan ketika partai akhirnya menempatkan perempuan di kursi legislatif, perempuan yang dipilih sering kali bukan karena membawa agenda perempuan, melainkan karena menjaga suara keluarga politik yang lebih besar.

Di banyak daerah, perempuan yang paling mengenal kebutuhan warganya justru paling jauh dari kursi yang mewakili mereka. Bukan karena tidak bekerja. Karena politik Indonesia lebih menghargai warisan nama daripada warisan pengabdian.

Kekuasaan sering bertahan bukan dengan menolak tuntutan, melainkan dengan memberi perubahan secukupnya agar tidak ada alasan untuk memberontak. Kuota 30 persen tanpa sanksi selama dua dekade bekerja persis seperti itu. Cukup untuk membuat Indonesia terlihat demokratis di forum internasional. Tidak cukup untuk memaksa siapapun benar-benar berbagi kekuasaan. Papan permainannya tetap miring. Yang berubah hanya siapa yang diizinkan duduk di meja.

Baca juga :  Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Putusan MK 128/2026 mengubah satu aturan penting dalam permainan itu. Partai yang gagal memenuhi kuota 30 persen perempuan akan dicoret dari dapil tersebut. Untuk pertama kalinya ada harga yang harus dibayar. Tapi sanksi ini bekerja di permukaan, sementara mesin sesungguhnya berputar lebih dalam. Ia memaksa partai memasukkan lebih banyak perempuan ke dalam daftar. Ia tidak menyentuh siapa yang memutuskan dapil mana yang diberikan kepada perempuan itu. Ia tidak masuk ke ruang rapat tertutup tempat nomor urut diputuskan. Ia tidak mengubah fakta bahwa logistik kampanye masih mengalir mengikuti siapa yang punya koneksi, bukan siapa yang punya rekam jejak.

Iris Marion Young mengamati bahwa ketidakadilan struktural tidak butuh penjahat. Ia hanya butuh orang-orang yang terus melakukan hal yang masuk akal dalam sistem yang tidak adil. Tidak ada ketua partai yang bangun pagi dengan niat menyingkirkan Dina. Mereka hanya membuat keputusan yang rasional dalam logika partai sebagai mesin elektoral. Hasilnya tetap sama: Dina pulang, Anna kehilangan kursinya, dan separuh anggota DPR perempuan membawa nama keluarga yang sudah lama berkuasa.

Yang akhirnya memaksa perubahan ini bukan ketua umum partai, bukan komisioner KPU, bukan anggota DPR yang dua dekade duduk di kursi itu. Empat mahasiswi hukum yang belum pernah menyentuh kursi parlemen. Mereka tidak melawan seorang politisi jahat. Mereka melawan sebuah arsitektur. Dan arsitektur itu tidak runtuh hanya karena satu tiangnya berhasil digoyang.

Demokrasi tidak diuji ketika semua orang boleh mencalonkan diri. Demokrasi diuji ketika sistem tidak lagi bisa memastikan hanya orang-orang tertentu yang menang. Aturan mainnya baru saja berubah satu langkah. Tapi sampai hari ini, kunci ruang kekuasaannya masih dipegang keluarga-keluarga yang sama. (A99)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Messi-Ronaldo adalah Eksperimen Politik?

Pilih Messi atau Ronaldo — dan kamu mungkin baru saja membocorkan identitasmu dengan tanpa sadar.

Indonesia, Si Paling ‘Negara Potensi’?

Selalu berpotensi, tak pernah berhasil. Dari Fairchild sampai Lokananta, kenapa Indonesia betah berhenti di ambang? Apakah ini Kutukan Ambang?

Dody di Tengah Rashomon Effect?

Kebenaran soal siapa yang benar tak lagi penting — yang lebih menentukan justru siapa paling diuntungkan dari ambiguitas.

Arifah Mustahil Se-level Khofifah?

Arifah Fauzi secara teknis dan filosofis adalah suksesor Khofifah di pucuk Muslimat NU dan elite nasional. Namun, bisakah ia menyamai pengaruh politik sang pendahulu? Di antara perbedaan ambisi, jejaring kekuasaan, dan gaya komunikasi, tersimpan pertanyaan lebih besar, yakni apakah Arifah sedang membangun penerus Khofifah, atau menciptakan jalannya sendiri?

Kasus Febrie dan Doktrin Kambing Hitam

Nama Febrie Adriansyah kini beririsan dengan sosok perempuan di medsos. Siapa sebenarnya yang sedang kita hakimi dalam kasus ini? 

Wasit FIFA & Oknumisme Politik-Hukum?

Wasit FIFA bukan hanya pengadil lapangan — mereka adalah wajah yang paling mudah disalahkan dari ketidaksempurnaan sebuah sistem.

PDIP-Golkar, Drama Minerba Warisan Orba?

Sengkarut satir "bolu ketan" antara kubu PDIP dan Golkar di sektor ESDM tampaknya bukanlah sekadar adu mulut elite biasa. Ini adalah kelanjutan perang klasik dua titan dalam diskursus sumber daya sejak era Orba. Tentang menjadi si paling bersih di industri ekstraktif yang inheren kotor ini, Benarkah demikian? 

Kuasa Lepas Jokowifikasi

Wajah Jokowi kini muncul di meme, karakter fiksi, penyanyi Jepang, sampai kursi gaming. Siapa sebenarnya yang memegang kuasa atas wajah itu? 

More Stories

Pacul Mencoba Bersinar di “Penjara” Politik?

Julukannya Sang Komandan Korea, ia naik jabatan tapi kehilangan arena. Seperti dipenjara tetapi dalam konteks politik. Yang menarik bukan nasibnya, melainkan cara dia melawan nasib itu.

Drama Patungan Transjakarta KDM – Pramono

Dengarkan artikel ini: Setiap pagi, 4,5 juta orang melintas tanpa peduli batas provinsi. Tapi tagihan subsidi mereka hanya jatuh ke satu meja, milik Pramono Anung,...

Bahlil, Loid Forger-nya Indonesia?

Jika melihat gerak politik Bahlil, hampir sama dengan karakter Loid Forger dari Anime Spy X Family. Loid bisa berperan sebagai apapun di situasi manapun karena dia adalah seorang mata-mata. Tetapi, Bahlil melakukan itu untuk tetap relevan di kedua poros kekuasaan politik yang berbeda.