HomeHeadlineBudi Gunawan Disiapkan Jadi Cawapres Ganjar?

Budi Gunawan Disiapkan Jadi Cawapres Ganjar?

Kecil Besar

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (BG) mencuat sebagai salah satu cawapres Ganjar Pranowo. Mungkinkah BG sudah disiapkan sebagai cawapres?


PinterPolitik.com

“Politics has become entertainment.” — Joe Eszterhas

Tanpa keraguan, diumumkannya Ganjar Pranowo sebagai capres PDIP telah menggerakkan bandul politik. Berbagai partai langsung merapat. Berbagai sosok juga melamar sebagai cawapres Ganjar. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahkan menyebut terdapat lebih dari 10 nama kandidat cawapres Ganjar.

Jika memilih satu, sosok Budi Gunawan (BG) terbilang sangat menarik. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu tengah ramai didorong menjadi cawapres Ganjar. Juga telah terbentuk kelompok relawan dengan nama Barisan Relawan Ganjar-Budi Gunawan (Begawan).

Menengok ke belakang, bukan kali pertama BG mencuat sebagai kandidat cawapres. Pada Pilpres 2019, nama BG juga dimunculkan menjadi cawapres Joko Widodo (Jokowi).

Kendati BG dinilai mempunyai pengalaman mumpuni untuk mendampingi Ganjar, terdapat persoalan mendasar yang menjadi catatan. Menurut Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Dimas Oky Nugroho, posisinya sebagai Kepala BIN membuat nama BG kurang begitu dikenal.

“BG punya jaringan dan pengalaman. Namun, sebagai Kepala BIN profilnya mungkin masih tertutup dari public exposure,” ungkap Dimas pada 1 Mei 2023.

operasi intelijen dan politik ed.

Intelijen vs Demokrasi

Menelisik lebih jauh, penekanan Dimas sebenarnya adalah benturan dari cara kerja intelijen dengan cara kerja demokrasi. Inti dari intelijen adalah kerahasiaan. Sedangkan demokrasi adalah soal akuntabilitas.

Pasal 18 huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, menyebutkan bahwa setiap personel intelijen negara wajib merahasiakan seluruh upaya, pekerjaan, kegiatan, sasaran, informasi, fasilitas khusus, alat peralatan dan perlengkapan khusus, dukungan, dan/atau personel intelijen negara yang berkaitan dengan penyelenggaraan fungsi dan aktivitas intelijen negara.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Irawan Sukarno dalam bukunya Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut Intelijen, menjelaskan bahwa intelijen diciptakan bukan untuk dipanggungkan dan ditepuktangani, apalagi untuk sebuah popularitas.

Sebagai Kepala BIN, penekanan atas operasi senyap dan menghindari sorotan publik sekiranya menjadi pegangan BG. Eks Wakapolri itu tidak berada pada posisi yang menguntungkan di teater demokrasi.

Muhammad Ikhwan dalam tulisannya Ajang Pilpres, Politainment dan Politik Citra Para Kandidat, menjelaskan bahwa panggung politik telah berubah menjadi politainment (politik entertainment) untuk menarik perhatian khalayak. Situasi itu membuat peran politisi dan selebritas menjadi semakin kabur.

Lantas, dengan mengacu pada hakikat laku intelijen, apakah itu membuat peluang BG begitu kecil menjadi cawapres Ganjar?

BG Sudang Ancang-ancang?

Menariknya, apabila kita melihat tindak tanduk BIN beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran aktivitas menjadi lebih terbuka. Dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Kenapa BIN Menjadi Terbuka?, telah dijabarkan bahwa BIN menjadi lebih terbuka, serta lebih aktif terlibat dalam kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Tangguh Chairil dalam tulisannya Indonesia’s Intelligence Service is Coming Out to Counter COVID-19, misalnya, menjelaskan terdapat nuansa perluasan peran BIN di pandemi Covid-19. BIN yang seharusnya berkutat pada pelacakan kontak (contact tracing) untuk melacak penyebaran virus, justru meluaskan perannya ke segala sesuatu yang berkaitan dengan pandemi.

Pada 13 Maret 2020, BIN mengumumkan ke publik soal prediksi puncak pandemi di Mei 2020. Pada 17 April 2020, BIN menyerahkan bantuan alat kesehatan dan obat-obatan ke Satgas Covid-19 dan pemerintah daerah.

ganjar budi gunawan untuk 2024

BIN juga menyiapkan laboratorium mobile rapid test di berbagai kota, penyemprotan disinfektan ke beberapa wilayah, dan mengedukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19. Kemudian pada 12 Juni 2020, BIN mengumumkan sedang mengoordinasikan percepatan produksi obat Covid-19.

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Atas penunjukan eksistensi yang ada, Tangguh Chairil memberikan pertanyaan penting. “BIN dulu tidak mencari kredit untuk pekerjaannya. Lalu, mengapa BIN keluar dari kegelapan untuk melakukan tugasnya secara terang benderang?”

Melihatnya secara holistik dan relasional, pertanyaan Chairil tampaknya berkorelasi dengan munculnya nama BG sebagai cawapres Ganjar.

Coba bayangkan ini. Jika BIN menjelaskan secara terbuka aktivitasnya, serta lebih intens ke kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bukankah mudah untuk menyebutkan bahwa pimpinan BIN telah berkontribusi besar ke masyarakat.

Sebagai Kepala BIN, tentunya BG mendapat kredit khusus atas segala tindak tanduk BIN. Katakanlah BG benar-benar terpilih sebagai cawapres Ganjar, pasti akan ada banyak sosialisasi soal kehebatannya memimpin BIN. Misalnya soal aktivitas BIN ketika menghadapi pandemi Covid-19.

Singkatnya, jika benar nama BG telah lama disiapkan untuk maju di Pilpres 2024, mungkin perubahan BIN menjadi lebih terbuka dalam beberapa tahun terakhir ini bukan lagi sebuah tanda tanya tak terjawab.

Sebagaimana analisis pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, gestur BIN belakangan ini yang terbuka dan seolah ingin “mencari panggung”, tampaknya berkaitan dengan alasan politik. (R53)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...