HomeNalar PolitikBaiknya Anies Mendorong Ridwan Kamil? 

Baiknya Anies Mendorong Ridwan Kamil? 

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut

Kelompok pendukung Anies Baswedan di Jakarta disebut akan jadi kelompok swing voters yang besar. Bagaimana para kandidat Pilgub Jakarta meraih dukungan dari kelompok tersebut? 


PinterPolitik.com 

Kandidat di Pemilihan Gubernur Jakarta 2024 (Pilgub Jakarta 2024) sudah mantap, pada 27 November nanti, warga Jakarta akan memilih antara pasangan calon (paslon) Ridwan Kamil (RK)-Suswono, Pramono Anung-Rano Karno, atau Dharma Pongrekun-Kun Wardana. 

Ya, Pilgub Jakarta 2024 pada akhirnya tidak diikuti oleh Anies Baswedan, bakal kandidat yang sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) kemarin sudah memiliki elektabilitas yang begitu dominan di Jakarta. Hal ini tentunya merupakan kejutan yang begitu besar, namun adalah suatu kenyataan yang tampaknya perlu diterima dengan lapang dada oleh jutaan penduduk Jakarta. 

Namun, meskipun Anies tidak jadi dicalonkan dalam Pilgub Jakarta 2024, keabsenannya kini justru memunculkan satu pertanyaan besar, yakni siapa yang akan dipilih oleh para pendukung Anies yang ditinggalkan? Apakah mereka akan memilih RK, Pramono, atau Dharma? 

Pada hasil Pilpres silam, Anies berhasil mendapatkan suara sebesar 2.653.762. Kalau angka para pendukung Anies tersebut masih terjaga hingga sekarang, tentu baik RK, Pramono, atau Dharma, akan memiliki ketertarikan yang tinggi untuk menarik perhatian mereka. 

Pada akhirnya, kenyataan situasi politik di Jakarta telah membuat para pendukung Anies sebagai kantong suara swing voters yang begitu besar. Lantas, siapa yang kira-kira akan berhasil “merayu” mereka?

image

 

RK Jadi yang Paling Familiar? 

Meskipun RK memiliki keunggulan yang cukup besar, baik dari segi partai pendukung hingga elektabilitas, ada baiknya Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus tidak merasa jumawa di Pilgub Jakarta, karena jumlah pendukung Anies yang diprediksi berjumlah kurang lebih 41 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) di Jakarta bisa menjadi penentu kemenangan ataupun kekalahan pada hari pemilihan nanti. 

Kendati demikian, jika dibandingkan para pesaingnya, RK tampaknya memiliki peluang besar untuk menarik dukungan dari pendukung Anies. Berikut adalah beberapa faktor strategis dan psikologisnya.  

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Pertama, kedekatan personal dan citra media. Pengamat politik, Hendri Satrio menilai bahwa jika dibandingkan dengan Pramono Anung, RK tampaknya lebih berpeluang meraih hati para pendukung Anies karena memiliki sejumlah momen kedekatan sejak lama, bahkan ketika keduanya masih menjabat sebagai gubernur Jakarta dan Jawa Barat (Jabar), keduanya bahkan pernah bermain bola bersama pada 2022 silam. Sementara, Pramono dan Dharma tidak pernah memiliki momen bersama di media. 

Bagi pendukung Anies, yang selama ini merasa terhubung dengan sosok Anies baik secara emosional maupun ideologis, melihat RK sebagai “teman” Anies dapat mempengaruhi mereka untuk beralih mendukung RK. Citra ini penting karena dalam politik, hubungan personal dan keakraban dapat menciptakan rasa kepercayaan dan kenyamanan di antara pemilih, yang mungkin merasa bahwa RK dapat meneruskan visi Anies di Jakarta. 

Kedua, Anies dan RK pun memilki citra yang tidak jauh berbeda, baik RK maupun Anies Baswedan kerap dipandang oleh para publik sebagai tokoh yang melampaui identitas politik tradisional, dan lebih berfokus pada pencapaian profesional. Anies karena latar belakangnya sebagai akademisi, dan RK karena latar belakangnya sebagai arsitek. Kesamaan identitas ini lantas bisa menjadikan RK sebagai alternatif yang wajar bagi para pendukung Anies.  

Ketiga, salah satu alasan utama mengapa RK lebih mudah menarik pendukung Anies dibandingkan Pramono adalah citra dan rekam jejak politik yang dimiliki keduanya. Pramono, meskipun memiliki pengalaman luas sebagai politisi dan pejabat tinggi di pemerintahan, lebih dikenal sebagai bagian dari elite politik nasional yang berafiliasi erat dengan PDI-P, partai yang mungkin tidak selalu sejalan dengan visi dan nilai-nilai yang dianut oleh pendukung Anies.  

Sementara itu, RK telah membangun citra sebagai pemimpin daerah yang dekat dengan rakyat, inovatif, dan berprestasi dalam menjalankan pemerintahan di tingkat lokal. Pemilih yang menyukai Anies cenderung mencari sosok pemimpin yang dapat mereka anggap sebagai “pemimpin dari rakyat untuk rakyat,” dan RK lebih memenuhi kriteria ini dibandingkan Pramono. 

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Namun, di balik faktor-faktor ini, terdapat satu hal krusial yang bisa merubah segalanya. Apakah itu? 

image

Menunggu “Endorsement” Anies? 

Terlepas dari semua analisis yang sudah diungkapkan di atas, segala upaya yang dilakukan oleh para kandidat Pilgub Jakarta dalam kampanyenya untuk meraih hati para pendukung Anies pada akhirnya akan bergantung kepada satu hal, yakni endorsement langsung dari Anies Baswedan.  

Di dalam politik sendiri kita mengenal sesuatu yang disebut sebagai teori efek bandwagon. Richard L. Hensel dalam tulisannya The Emergence of Bandwagon Effects: A Theory, menyebutkan bahwa  dalam sebuah peristiwa pengambilan keputusan besar seperti pemilu, individu cenderung mengikuti perilaku atau pilihan orang lain, terutama ketika suatu pilihan tampak populer atau memiliki dukungan luas.  

Anies Baswedan sebagaifigur yang cukup masih memegang banyak hati pemilih Jakarta melalui kepemimpinannya sebelumnya sebagai Gubernur, diprediksi akan ciptakan efek bandwagon yang besar jika memberikan sinyal calon mana yang menurutnya cocok memimpin Jakarta. 

Jika Anies memberikan endorsement kepada salah satu kandidat, para pemilih yang masih ragu atau belum memutuskan kemungkinan besar akan mengikuti arahan ini, karena mereka mempercayai penilaian dan rekam jejak Anies. Dalam konteks ini, endorsement dari Anies bisa menciptakan gelombang dukungan yang semakin besar untuk kandidat yang didukung. 

Namun, tentu pertanyaannya kemudian adalah, apakah Anies akan memberikan endorsement ke salah satu kandidat Pilgub Jakarta? Well, sejujurnya hal itu bisa saja, jika para kandidat pada akhirnya memutuskan akan mencari jalan pintas untuk meraih kelompok pendukung Anies. Dengan logika demikian, maka kita bisa berasumsi akan ada proses-proses negosiasi di masa depan kepada Anies untuk membuat sinyal-sinyal dukungan. 

Pada akhirnya, kita bisa simpulkan bahwa Pilgub Jakarta kali ini tampaknya tidak akan berjalan semudah yang awalnya dibayangkan. Menarik untuk kita simak perkembangannya. (D74) 

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Ketika hampir semua selat strategis dunia punya wacana bypass secara bersamaan, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepanikan logistik — dan Indonesia perlu membacanya sebelum terlambat.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri.