HomeNalar PolitikAsal Tunjuk Ketua DPR Baru

Asal Tunjuk Ketua DPR Baru

Kecil Besar

Tidak sadar atau merasa tak dapat perhatian, kini Setnov membuat lagi drama baru. Judulnya adalah ‘Surat Sakti Papa’.


PinterPolitik.com 

[dropcap]E[/dropcap]ntah akan ada berapa babak dalam drama Setya Novanto (Setnov) tersebut. Tapi yang jelas, saat ini giliran ‘jeroan’ Partai Golkar yang sedang disorot dan ribut. Maklum, surat sakti yang jadi judul utama drama ini, membuat tokoh-tokoh partai beringin hitam tersebut ikut gonjang-ganjing.

Bagaimana tidak gonjang-ganjing? Saat Setnov dikira sudah legowo dan pasrah, dengan menyatakan pengunduran diri sebagai Ketua DPR RI pada Minggu (10/12/2017), ternyata ia malah menunjuk kroninya, Aziz Syamsuddin, untuk menggantikannya.

Jelas saja keputusan itu disambut respon beragam. Pihak Golkar yang sejak awal konsisten berseberangan dengan Setnov menilai jika mandat yang diberikannya kepada Aziz Syamsuddin, ilegal. Salah satu yang menyatakan keberatan adalah Doli Kurnia yang juga Ketua Generasi Muda Partai Golkar.

Menurut Doli, seharusnya hak menunjuk Ketua DPR RI yang baru tidak lagi tergantung pada Setnov, tapi Partai Golkar. Memang menurut UU No. 17 Tahun 2014 pasal 87 Ayat (4), jelas menyatakan bahwa: “Bila salah seorang pimpinan DPR berhenti dari jabatannya, penggantinya berasal dari partai politik yang sama.”

Maka, bukan hal aneh jika kelompok tertentu di Golkar ada yang tak terima, sebab bisa jadi pelik masalahnya bagi mereka yang ingin menyodorkan kandidat ‘impiannya’ untuk menggantikan Setnov. Aziz Syamsuddin tentu bukan sosok yang diidamkan, sebab ia sangatlah dekat dengan Setnov. Mengganti Setnov dengan Aziz, barangkali hanya mengganti alas duduk saja. Sebab yang berkuasa masih orang yang sama.

Aziz Syamsuddin dan Setnov (sumber: istimewa)

Kedekatan Aziz dan Setnov juga bukanlah isapan jempol politik belaka. Ia adalah saksi yang didatangkan Setnov guna meringankannya dalam kasus mega korupsi KTP elektronik. Selain itu, Aziz pula yang menemani Setnov mendatangi Nazarudin, pesakitan kasus korupsi Hambalang dari Partai Demokrat, ke Lapas Sukamiskin, Bandung.

Hal itu dikatakan langsung oleh Nazar kepada khalayak di tahun 2014 lalu. Menurutnya, kedatangan Setnov dan Aziz waktu itu hendak menawarkan sesuatu padanya, namun ditolak oleh Nazar. Sayang sekali, Nazar tak mau merinci apa yang ditolaknya waktu itu. Namun, ‘nyanyian’ Nazar tak lupa menyebut kalau Aziz terlibat korupsi SIM Korlantas Polri.

Tetapi yang jelas, saat ini pengunduran diri Setnov yang disampaikannya melalui surat sudah diterima pihak DPR RI. Dalam Musyawarah Nasional DPR, akhirnya mereka menerima pengunduran diri Setnov, tapi menunda pembahasan proses pergantian Ketua DPR yang diimpikan Setnov.

Terlepas dari rumitnya masalah yang membelit Aziz dan Setnov, serta Partai Golkar, sebetulnya bagaimana sih alur yang tepat untuk mengganti Ketua DPR RI yang sah dan legal? Siapa pula sosok Azis Syamsuddin?

Baca juga :  Indonesia: "Lone Wolf" Penyelamat Iklim?

Siapa Aziz?

Sebelum membahas alur pergantian Ketua DPR yang baru, ada baiknya mencolek sosok Aziz Syamsuddin. Nama Aziz barangkali belum terlalu familiar bagi masyarakat awam. Tapi sebetulnya, Aziz cukup sering wara-wiri di kancah politik negeri. Saat ini,  ia duduk sebagai anggota Komisi III DPR RI yang mengurusi bidang Hukum, HAM, dan Keamanan. Ia tentu saja juga merupakan kader Partai Golkar.

Aziz pernah menjajal peruntungan dalam laga Pilkada DKI Jakarta 2012 – 2017, tapi sayang, sebelum layar terkembang ia sudah keburu mengundurkan diri. Jejak langkah Aziz juga terekam dalam revisi Undang-Undang KPK Nomor 30 Tahun 2002. Ia disinyalir jadi pihak yang berperan banyak atas munculnya sejumlah ketentuan dalam draf revisi UU KPK yang cenderung mengurangi wewenang komisi tersebut. Misalnya, wewenang penuntutan KPK tiba-tiba jadi hilang, dan penyadapan KPK harus dibuat ‘panjang’ dengan mendapatkan izin dari pengadilan terlebih dahulu.

Yang juga menarik dari Aziz adalah, saat ia mencoba menegur Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana saat rapat kerja Komisi III di tahun 2011. Tegurannya mungkin baik, yaitu mengingatkan supaya yang bersangkutan fokus pada rapat, sebab Denny terlihat terus memainkan telepon genggamnya.

Hanya saja, kalimat yang digunakan untuk mengingatkan Denny adalah dengan menyebut Denny ‘tidak ganteng’. “Saudara Wamen (Wakil Menteri) tidak usah cengengesan. Mohon maaf, Anda tidak ganteng.” Kira-kira seperti itulah peringatan yang disampaikannya.

Jika menilik karir politiknya yang tak terlalu cemerlang serta bagaimana jejak pekerjaannya di ranah politik, tak terlalu mengagetkan jika ia dekat dengan Setnov. Sebab, mereka keduanya sama-sama pragmatis, jika tak mau disebut oportunis.

Tak Bisa Seenak ‘Jidat’

Ketika kepepet, Setnov memang lihai mengeluarkan beragam jurus dan aksi tertentu. Dulu, saat namanya terjerat dalam kasus ‘Papa Minta Saham’ di penghujung 2015 lalu, ia mundur dari kursi ketua DPR karena terjerat kasus pelanggaran etika. Saat itu, pengunduran diri Setnov juga dilakukan melalui surat yang oleh MKD langsung dikabulkan.

Partai Golkar yang saat itu diketuai Aburizal Bakrie, kemudian menunjuk Ade Komarudin, untuk menggantikan posisi Setnov sebagai ketua DPR. Semua dilakukan Tanpa pleno.

Kini keadaan memang tidak seperti dulu. Setnov yang menjabat sebagai Ketum Golkar, sudah mengundurkan diri dan menunjuk Idrus Marham sebagai plt Ketum Golkar.

Penunjukan sepihak Setnov yang sudah tak menjabat sebagai Ketua Umum Golkar dalam surat, juga melanggar AD/ART Golkar, yakni Pasal 27 Ayat (2) yang berisi bahwa pengangkatan dan penetapan pimpinan DPR harus melalui keputusan bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Baca juga :  Jalan-jalan dengan Sepatu Roda 'Girl Power'

Dengan demikian, sangat masuk akal jika Setnov diserang karena menunjuk Aziz, sebab, selain pihak yang seharusnya berwenang menunjuk pengganti Ketua DPR adalah Idrus Marham. Sehingga tindakan Setnov tersebut dapat dianggap melanggar AD/ART Golkar.

Ketua DPR Bukan Mainan

Pergantian Ketua DPR juga sudah diatur dalam UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPRD, dan DPD (UU MD3). Di UU MD3 sendiri, terdapat aturan yang menyoal tata tertib pergantian ketua DPR. Aturannya berbunyi seperi berikut,

 

Dengan demikian, aksi Setnov ini memang secara peraturan sudah melangkahi AD/ADRT Partai Golkar dan secara otomatis membingungkan pihak DPR RI pula.

Bukan Pertama Kali

Dideretan pihak yang merespon ‘galak’ surat sakti Setnov, ada Akbar Tanjung di sana. Jika mau nostalgia sejenak, Akbar Tanjung sebetulnya juga pernah berada di posisi Setnov sewaktu menjabat sebagai Ketua DPR di tahun 2002 silam. Ia terjerat kasus korupsi nonbujeter yang merugikan negara sebesar Rp. 40 miliar.

Akbar Tandjung (sumber: istimewa)

Baik Setnov dan Akbar Tandjung juga sama-sama melakukan manuver kabur. Akbar menumpangi Toyota Land Cruiser dan hendak meninggalkan gedung Kejaksaan lewat pintu belakang, namun sudah keburu ditutup dan dikunci cepat. Sehingga lelaki kelahiran Sibolga berusia 72 tahun itu digiring dan ditangkap.

Sementara Setnov sempat menghilang saat KPK mendatangi rumahnya. Keesokan harinya, ia menghebohkan masyarakat karena mengalami kecelakaan. KPK lantas memindahkannya dari RS Permata Hijau ke RSCM dan dimasukan ke rutan KPK.

Namun bedanya, Akbar saat itu tidaklah goyah dari bangku Ketua DPR RI. Sementara Setnov, mengundurkan diri melalui surat dari jabatan Ketua DPR dan Partai Golkar. Setnov sebenarnya bisa saja berkaca dari ‘seniornya’ tersebut, agar dapat terus melenggang walau dikenai kasus korupsi besar.

Akbar Tandjung hanya dikenai hukuman 4 tahun penjara dan makin memendek saat kasasi yang ia ajukan ke Mahkamah Agung dikabulkan pada 12 Februari 2004. Sementara senjata yang dimiliki Setnov hanyalah praperadilan saja. Hukuman yang dikenai juga belum ketahuan berapa lama.

Sepertinya, memang agak ajaib jika membayangkan Setnov akan bernasib seperti Akbar, kecuali hakim praperadilan kembali menerima gugatannya. Berkaca dari kasus Akbar tersebut, mustahil pula jika Setnov dijatuhi waktu lebih dari 4 tahun kurungan oleh KPK.

Kelanjutan babak baru dalam drama ‘Surat Sakti Papa’ memang sebaiknya kita saksikan dan tunggu bersama. Nah, bagaimana pendapatmu. (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....