HomeNalar PolitikAnies Dilantik, Prabowo Berbalik?

Anies Dilantik, Prabowo Berbalik?

Kecil Besar

Pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) sebagai gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta akan berdampak pada Prabowo Subianto – elit yang mengusung pasangan ini. Hal ini juga menandai kekuasaan mantan jenderal ini atas ibukota.


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]B[/dropcap]ukan tanpa alasan jika banyak yang menyebut kekuasaan atas ibukota adalah hal yang sangat penting bagi konstelasi politik nasional. Saking pentingnya, jika Presiden disebut sebagai RI-1 dan Wakil Presiden disebut sebagai RI-2, Gubernur Jakarta sering disebut sebagai RI-3.

Beberapa hari lagi pasangan Anies-Sandi akan dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta. Keduanya adalah produk pesta demokrasi dengan tajuk Pilkada 2017 dan menjadi penguasa baru di provinsi dengan total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 2.177 triliun – atau mencapai 17 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2016.

Masyarakat tentu menantikan bagaimana pasangan pemimpin baru ini merealisasikan janji-janji kampanye dan menyelesaikan berbagai macam pekerjaan rumah yang masih tertinggal. Namun, apakah hanya itu yang dinantikan?

Dengan jumlah penduduk hampir 10 juta jiwa – bahkan bertambah saat jam kerja kantoran – ekonomi di Jakarta menunjang 70 persen perputaran uang di tingkat nasional. Jumlah ini tentu menunjukkan betapa pentingnya Jakarta dalam skema ekonomi nasional.

Selain itu, secara politik, hampir semua aktivitas politik nasional terjadi di Jakarta dan dengan demikian memiliki signifikansi yang erat dengan konstelasi politik nasional. Kota ini juga menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis.

Oleh karena itu, pelantikan Anies-Sandi disebut-sebut menjadi pembalikan situasi politik nasional karena peristiwa ini menandai berkuasanya oposisi di ibukota. Ini akan menjadi pembuktian, apakah kekuasaan di ibukota benar-benar akan mempengaruhi posisi Prabowo yang belakangan kian loyo jika dilihat dari hasil survei beberapa lembaga.

Akankah momen ini menjadi kado terindah untuk Prabowo yang akan berulang tahun pada tanggal 17 Oktober nanti?

Bukan Janji, Tapi Kerja Pasti

Pelantikan Anies-Sandi akan menjadi awal pembuktian janji-janji kampanye keduanya. Ekspektasi publik terhadap pasangan ini juga sangat besar. Terlepas dari kasus hukum yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjadi lawan politik keduanya, program-program Anies-Sandi tentu saja menjadi hal yang menarik hati para pemilih ibukota untuk memenangkan pasangan ini.

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Publik menanti program-program unggulan misalnya program rumah DP 0 persen, program 200 ribu lapangan pekerjaan baru, pembangunan stadion sepakbola setara Old Trafford milik klub Manchester United, pengaturan hunian deret, hingga soalan tempat-tempat hiburan malam.

Beberapa isu krusial yang akan berpengaruh secara nasional juga menanti keduanya, mulai dari reklamasi teluk Jakarta, kemacetan ibukota, hingga proyek-proyek infrastruktur – misalnya yang berkaitan dengan persiapan Asian Games 2018. Untuk persoalan penolakan reklamasi misalnya, sikap keduanya akan menjadi pembuktian apakah mereka adalah pemimpin yang konsisten atau tidak.

Ekspektasi publik terhadap Anies-Sandi juga sangat besar, mengingat dalam kepemimpinan Jokowi-Ahok-Djarot begitu banyak perubahan terjadi di ibukota. Anies-Sandi mengemban tugas lanjutan pembenahan sekaligus pembuktian bahwa kemenangan keduanya memang karena kapabilitas sebagai pemimpin, bukan hanya karena faktor doublethink para pemilih.

Anies Dilantik Prabowo Berbalik

Selain janji kampanye, publik juga menanti sinergi di antara Anies dan Sandi. Apakah mereka akan kompak atau tidak, siapa yang lebih dominan, dan lain sebagainya. Kekompakan keduanya memang terlihat sangat kuat selama masa kampanye, tetapi apakah hal yang sama juga akan terlihat saat memimpin?

Apalagi, jika dilihat dari masa kampanye, Sandi mengeluarkan dana kampanye yang lebih banyak dibandingkan Anies. Publik tentu menantikan apakah hal  ini mempengaruhi sinergi keduanya saat telah resmi menduduki balai kota Jakarta. Di samping itu, sinergi juga akan terlihat dari bagaimana keduanya mengakomodasi kepentingan barisan pendukung.

Tantangan terbesar tentu adalah menjadi ‘pendamai’ kelas-kelas dalam masyarakat Jakarta sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan kekumuhan ibukota tanpa gusur sana gusur sini. Ahok misalnya, dengan segala aksi gusur-menggusur yang dilakukannya memang mendatangkan konflik dengan masyarakat kelas bawah. Menyelesaikan masalah kekumuhan tanpa ‘perang’ antar kelas tentu menjadi pekerjaan yang tidak mudah untuk Anies-Sandi.

Menanti Kiprah Prabowo: The King Maker

Pelantikan Anies-Sandi tentu saja juga akan menjadi pembuktian, apakah benar pendapat yang mengatakan bahwa politik ibukota mempengaruhi politik nasional. Pilkada Jakarta adalah kemenangan bagi Prabowo. Kontes politik ini juga membuatnya layak mendapat gelar The King Maker. Gelaran politik ini pula yang sempat meningkatkan elektabilitas mantan Danjen Kopassus ini di awal tahun 2017.

Namun, dalam 5 bulan terakhir, keunggulan politik yang diperolehnya pada Pilkada Jakarta saat hasil-hasil quick count yang menunjukkan kemenangan Anies-Sandi terpampang di layar televisi, serasa memudar. Elektabilitas Prabowo menurun, bahkan tidak lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2016 lalu. Dalam dua bulan terakhir, beberapa lembaga survei mempublikasikan hasil survei elektabilitas calon presiden, dan Prabowo jauh tertinggal dari Jokowi.

Baca juga :  Nadiem dan Senjata Karet UU Tipikor?

Hal ini sebetulnya beralasan, mengingat pasca pilkada, elektabilitas Prabowo terus digembosi oleh lawan-lawan politiknya. Publik tentu ingat klaim Ketua MPR Zulkifli Hassan tentang keterlibatan Jusuf Kalla (JK) dalam penentuan pasangan Anies-Sandi. Atau pernyataan Ketua PPP, Romahurmuziy tentang klaim keterlibatan dirinya dalam pencalonan Anies-Sandi. Elit-elit politik seolah tidak memberikan kesempatan Prabowo mengambil panggung sendirian.

Anies Dilantik Prabowo Berbalik
Akankah Prabowo Subianto dapat memanfaatkan kekuasaan Anies-Sandi di ibukota untuk mendongkrak elektabilitasnya? (Foto: jurnalpatrolinews.com)

Situasi bertambah buruk pasca kelompok massa pendukungnya juga digembosi dan ditekan, katakanlah lewat Perppu Ormas dan berbagai kasus hukum lain. Prabowo adalah elit yang sangat diuntungkan dengan berbagai aksi massa selama perhelatan Pilkada Jakarta. Namun, setelah massa dengan basis isu penodaan agama ini bubar – entah karena kasus hukum para pemimpinnya, Ahok telah dipenjara, atau karena alasan finansial – Prabowo seolah juga ikut kehilangan elektabilitas.

Untuk menggunakan cara yang sama melawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) – yang saat ini menjadi lawan politik paling kuat – juga sangat sulit. Jokowi adalah seorang muslim dan ia juga pribadi yang sangat tenang bertutur kata, berbeda dengan Ahok yang non muslim dan sangat ceplas ceplos saat berbicara. Jokowi adalah jenis politisi yang mengukur dan bahkan menghitung setiap kata yang dikeluarkannya. Hal ini juga membuat isu lain – misalnya PKI – tidak mempan terhadap Jokowi.

Dengan kondisi politik yang demikian, tentu masyarakat menunggu-nunggu, apakah pelantikan Anies-Sandi akan menjadi pembalikan situasi politik yang sangat tidak menguntungkan Prabowo ini. Dengan posisi Jakarta yang ‘seksi’ secara politik dan finansial, kekuasaan di ibukota akan meningkatkan bargaining politik Prabowo.

Pelantikan Anies-Sandi juga akan menjadi pembuktian teori yang selama ini berlaku: kemenangan di Jakarta akan menentukan kemenangan di Pilpres di tahun berikutnya – setidaknya itulah yang terjadi pada Jokowi. Apakah ini berarti Prabowo akan menang di 2019?

Bisa jadi. Semuanya tergantung pada bagaimana Prabowo memanfaatkan kekuasaan di ibukota untuk menguatkan posisi politik dan finansialnya. Jika hal ini berhasil dilakukan, tentu Jokowi juga akan menghitung ulang strategi politiknya untuk 2019. Menarik untuk ditunggu, langkah politik apa yang akan dilakukan oleh Prabowo setelah Anies-Sandi menduduki balai kota Jakarta. (S13)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.