HomeHeadlineAda Apa Dengan Risma?

Ada Apa Dengan Risma?

Kecil Besar

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini kembali menghadirkan kontroversi setelah sujud di kaki guru SLB dan mencuci mobil dinas. Dengan presumsi memahami konsekuensi minor bagi citranya, mengapa hal itu masih dilakukan Risma? Serta akankah “drama” Risma akan berdampak pada tingkat keterpilihan PDIP di 2024? 


PinterPolitik.com 

Setelah cukup lama tak terlihat, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini kembali muncul ke pemberitaan berkat dua kontroversi beruntun dalam satu pekan terakhir. 

Seakan terbiasa dengan tingkah laku sosok yang kerap disapa Risma itu, pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menyebut sang Mensos memang kerap membuat “drama”. 

“Drama” pertama ditampilkan Mensos Risma dalam sebuah video yang viral di media sosial. Dirinya tampak mendadak bersujud di hadapan salah satu pengajar SLB Negeri A Pajajaran Kota Bandung pada 21 Februari lalu. 

Aksi dilakukan Risma di tengah-tengah perdebatan dengan sang pengajar yang juga penyandang disabilitas tunanetra atas perkara hibah lahan. 

Sayangnya, setelah bangkit dari sujudnya, Risma kembali berbicara dengan nada tendensius yang seketika memantik tanggapan negatif, baik dari sang pengajar maupun para warganet. 

Lima hari berselang, drama kedua Mensos Risma muncul. Kembali beredar melalui video yang viral di media sosial, politisi PDIP itu tampak sedang mencuci mobil dinas Kementerian Sosial (Kemensos). 

risma sudah tenggelam ed.

Alih-alih mendapat simpati, aksi tersebut justru membuat dirinya dinilai berlebihan karena tidak ada maksud pasti yang ingin dicapai. 

Tak sedikit warganet yang menyebut aksi itu bukanlah tupoksinya sebagai menteri dengan banyak persoalan pelik yang belum terselesaikan, seperti pemutakhiran data penerima bantuan sosial (bansos) hingga menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat prasejahtera. 

Drama yang terekam di lensa kamera bukan dua kali itu saja ditampilkan Mensos Risma. Ekspresi emosi dan tingkah laku yang kerap “berlebihan” dan inkonsisten dalam tupoksinya sebagai menteri bahkan telah dilakukannya sejak awal menjabat. 

Mulai dari blusukan di Jakarta mencari gelandangan pada akhir 2020 lalu, mengancam ASN Kemensos mutasi ke Papua, memaksa tunarungu untuk berbicara, menyapu kompleks makam seorang syekh di Sumatera Barat, hingga memarahi pendamping bansos di Gorontalo pada September 2021. 

“Kamu tak tembak ya! Tak tembak!,” begitu ekspresi ancaman Mensos Risma di Gorontalo atas dugaan pencoretan nama penerima bansos. 

Bahkan, atas ekspresi kemarahan dan ancaman tersebut, Gubernur Gorontalo Rusli Habibie turut buka suara karena merasa tersinggung oleh emosi berlebihan Risma terhadap warganya. 

Baca juga :  Rame “Ke-trigger” PDIP, PAN Chill

Mensos Risma disebut tak semestinya berlaku demikian sebagai seorang pejabat negara. 

Serangkaian tabiat itu semestinya telah dipahami akan berkonsekuensi minor terhadap citranya. Itulah yang kemudian memantik pertanyaan sederhana, yakni mengapa Mensos Risma masih melakukan “drama” semacam itu? 

Citra Berserkers? 

Dengan karakteristik respons kritis warganet di lini masa, kiranya mustahil tim media atau orang terdekat “pembisik” Mensos Risma tak menyadari serangkaian ekspresi kemarahan hingga sejumlah aksi tak relevannya akan kontraproduktif. 

Berkaca pada jamaknya ekspresi kemarahan Risma, fokus analisis di bagian ini akan menitikberatkan pada karakteristik spesifik personal tersebut. 

Secara psikologis, ekspresi marah Mensos Risma yang kerap ditampilkannya secara “konsisten” jamak dinilai menggambarkan karakter pembawaannya yang memang selalu ingin tampil frontal ketika menemukan gejala ketidakberesan. 

Dalam dimensi politik, karakteristik politisi semacam itu disebut memiliki korelasi dengan karisma tertentu dan populisme. Salah satunya yang dianalisis Paul Joosse dan Dominik Zelinsky dalam Berserk!: Anger and the Charismatic Populism of Donald Trump

Sebagaimana judulnya, Joosen dan Zelinsky menelaah ekspresi frontal yang kerap ditampilkan Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) Donald Trump, baik saat kampanye maupun saat menjabat. Keduanya mengutip publikasi Max Weber berjudul Ancient Judaism

Konsep berserk-charisma atau karisma berserk dikemukakan Weber untuk menggambarkan subtipe antusiasme karismatik yang mengedepankan emosi kemarahan dari seorang pejuang atau pahlawan. 

Asal muasalnya, para berserkers merupakan prajurit Nordik Lama yang berperang dalam keadaan marah dan mengamuk. Ihwal itu melahirkan kata berserk yang dalam Bahasa Inggris bermakna “kekerasan atau di luar kendali”. 

Kendati bertendensi “kecerobohan”, karakteristik itu adalah kunci untuk memahami kekuatan berserk. Kemarahan dikatakan memiliki nilai taktis tersendiri untuk mencapai suatu tujuan, termasuk yang diadopsi ke dunia politik. 

Joosen dan Zelinsky menganalogikan bagaimana hal itu bekerja sebagai asimetri psikis yang ditampilkan karakter pahlawan fiksi Hulk yang mengamuk dan penuh amarah dalam tindakannya demi sebuah kebaikan. 

Secara praktik, keduanya melihat ciri-ciri tersebut dalam perilaku politik Trump. Menariknya, hal itu mewakili sebagian kalangan pemilih di AS yang melihat Trump menawarkan keberpihakan dalam dimensi berbeda dengan karakter frontalnya yang dianggap berkarisma. 

Baca juga :  Jebakan Logika Bedah Kasus Nadiem?

Muaranya, populisme karismatik ala berserkers berhasil membawa Trump ke Gedung Putih sekaligus memperkuat posisi politiknya saat menjabat. 

Ihwal serupa yang kiranya dianut oleh Mensos Risma. Kemungkinan, dirinya juga menyadari ada sekelompok masyarakat yang menerima serta mendukung aksi “kemarahan” dan populisme karismatiknya selama ini. Sesuatu yang bahkan telah dipraktikan Risma sejak menjabat Wali Kota Surabaya. 

Namun, eksistensi gelombang sentimen negatif terhadap dirinya, plus PDIP, kiranya memang tetap harus diperhatikan. 

Lantas, sejauh mana manuver dan berbagai aksi itu akan berdampak bagi karier politik Mensos Risma dan impresi terhadap PDIP? 

risma bantah pdip tidak beragama ed.

Justifikasi Iron Lady PDIP? 

Ketika berbicara dampak kontroversi Mensos Risma terhadap karier politik dan posisinya di PDIP, dirinya kemungkinan akan tetap menjadi ikon tersendiri sekaligus mendapatkan tempat. 

Sebagaimana diketahui, sejauh ini PDIP mungkin adalah satu-satunya partai politik yang memiliki ketua umum, calon suksesor ketua umum, dan banyak kader prominen perempuan di level nasional. 

Alasan terbesar yang mungkin membuat Risma tetap menjadi ikon adalah citra representasi perempuan tangguh (iron lady) yang memang menjadi salah satu kekuatan PDIP. 

Tercatat, selain sang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan calon suksesor Puan Maharani, nama Risma, Ribka Tjiptaning, hingga Rieke Diah Pitaloka bisa dikatakan menjadi tulang punggung PDIP dengan perannya masing-masing. 

Bahkan, kekuatan inheren politisi perempuan telah menjadi bagian strategi dan mesin politik PDIP. Kurniawati Hastuti Dewi dalam buku berjudul Indonesian Women and Local Politics: Islam, Gender and Networks in Post-Suharto Indonesia menyebutkan sampel Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah (Jateng) 2008. 

Kemenangan Bibit Waluyo, disebut Kurniawati salah satunya dikarenakan jejaring sosial-politik yang dimiliki sang wakil yang merupakan kader PDIP, yakni Rustriningsih. 

Selain itu, justifikasi kepemimpinan perempuan agaknya akan terus dipertahankan PDIP melalui pemberian tempat kepada kader prominen seperti Risma. 

Terlebih dengan potensi kekuatan elektoral bersrekers dalam konteks gaya politik Risma sebagaimana telah dijelaskan di bagian sebelumnya. 

Tapi sekali lagi, citra dan sentimen minor agaknya tetap harus diperhatikan, baik oleh PDIP maupun para aktor di dalamnya demi menyongsong pertarungan elektoral. 

Oleh karena itu, Pemilu 2024 mendatang tampaknya akan menjadi pembuktian, apakah kontroversi yang dilakukan para iron lady PDIP, termasuk Risma, akan berpengaruh terhadap tingkat keterpilihan mereka? Menarik untuk dinantikan. (J61) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.