HomeHeadlineWaduh, 100 Lamaran Kerja, Zero Jawaban

Waduh, 100 Lamaran Kerja, Zero Jawaban

Kecil Besar

Audio dibuatAudio dibuat menggunakan AI.


Kamu kirim lamaran ke-127. Tutup laptop. Besok ulang lagi. Tidak ada balasan, bahkan penolakan otomatis pun tidak. Semua orang menawarkan penjelasan yang sama: kamu kurang skill, sertifikatmu kurang, CV-mu belum ATS friendly. Bacaan itu dipercaya hampir semua orang, dan kamu ikut mempercayainya sampai merasa ada yang salah pada dirimu. Nalar ini tidak bertanya siapa yang salah. Ia bertanya satu hal yang jarang ditanya. Bagaimana kalau keheningan itu bukan soal kamu, dan bukan cuma soal ada lowongan palsu, melainkan tanda pasar kerja digital yang perlahan kehilangan kemampuan untuk dipercaya?

Ada satu bagian mesin yang paling gampang dilihat: lowongan hantu. Ini bukan istilah gaul, ini objek riset. Hunter Ng menganalisis data Glassdoor dan menemukan hingga sekitar 21 persen iklan lowongan dalam datanya berpotensi merupakan lowongan hantu, terutama di perusahaan besar dan sektor keahlian khusus. Analisis internal Greenhouse yang dikutip Wall Street Journal menemukan 18 sampai 22 persen lowongan yang diiklankan kliennya pada 2024 tidak pernah terisi, dan hampir 70 persen perusahaan penggunanya memasang setidaknya satu lowongan semacam itu pada kuartal kedua 2024. Dalam definisi ketat, lowongan hantu berbeda dari lowongan yang sekadar belum terisi: posisi itu dipasang tanpa niat segera mengisinya. Kenapa praktik ini muncul? Biaya memasang lowongan rendah, sementara perusahaan bisa membangun stok kandidat, menjaga kesan aktif merekrut, atau memberi sinyal internal bahwa tenaga pengganti tersedia. Sistemnya bikin perusahaan tetap bisa untung walau kursi itu tidak pernah diisi.

Tapi lowongan hantu hanya pemantik, bukan seluruh mesin. Mesin sebenarnya lebih besar, dan kamu bagian darinya. Dulu melamar kerja mahal: surat, dokumen, waktu, ongkos. Sekarang satu klik. Easy Apply. Karena ongkos melamar jauh turun, orang bisa mengirim jauh lebih banyak lamaran. Volume pun membengkak. Perusahaan kebanjiran, lalu memperketat mesin penyaring otomatis. Beban recruiter naik, dan banyak lamaran tersaring sebelum sempat dinilai manusia. Kamu membalas dengan memakai AI untuk memoles CV dan mengirim lebih banyak lagi. Perusahaan membalas dengan filter lebih keras. Tidak ada penjahat tunggal di sini. Kedua pihak bertindak masuk akal, tapi hasil bersamanya buruk untuk semua. Perusahaan pun menanggung ongkosnya: tumpukan lamaran yang tak sanggup mereka baca.

Baca juga :  Rudal di Depan, Nikel di Belakang

Angka-angka tadi dari Amerika, dan nalar ini tidak mengklaim persentase untuk Indonesia. Tapi mesinnya global, dan gejalanya sudah dikenali di sini. Pencari kerja muda Indonesia belajar bikin CV ATS friendly dari, hafal font yang katanya disukai mesin, lalu tetap dighosting tanpa satu balasan. Munculnya istilah-istilah itu bukan bukti angka, tapi tanda bahwa pengalaman ini sudah punya nama di sini.

Dua ekonom peraih Nobel membantu menjelaskan kenapa mesin ini masuk akal. Dengan kerangka sinyal Michael Spence, satu lowongan bisa dibaca punya dua fungsi: mencari pekerja, dan mengirim sinyal bahwa perusahaan sedang aktif. Masalahnya, fungsi kedua bisa tetap berguna walau perekrutan tidak terjadi. Maka lowongan bisa terus terpasang tanpa kursi di baliknya. Kerangka George Akerlof membantu melihat sisi yang jarang kita lihat. Selama ini kita mengira perusahaan yang sibuk menyaring kandidat. Padahal kamu, pelamar, juga sedang menghadapi pasar lowongan yang kualitasnya tak bisa kamu verifikasi. Mana yang asli, mana yang hantu, kamu tidak tahu. Ketika sinyal rusak dari dua arah, yang paling langka bukan lowongan atau kandidat. Yang langka adalah perhatian manusia untuk mencocokkan keduanya.

Ada satu lapisan yang lebih besar dari nasibmu sendiri. Kalau sebagian lowongan tidak mewakili kebutuhan merekrut yang nyata, data lowongan yang dibaca ekonom, investor, bahkan siswa yang memilih jurusan, ikut mengandung derau. Hunter Ng menemukan lowongan hantu dapat membantu menjelaskan ketidaksinkronan indikator lowongan dan pengangguran di Amerika. Artinya yang mungkin berhantu bukan cuma lowongannya, tapi juga sebagian statistik tentang berapa banyak pekerjaan yang sebenarnya tersedia.

Jadi begini yang sebenarnya terjadi saat kamu menekan Apply untuk yang ke-127. Kamu tidak sedang bersaing memperebutkan satu kursi. Kamu bersaing memperebutkan beberapa detik perhatian manusia, di pasar yang sinyalnya sedang rusak dari dua arah. Ini tidak berarti skill tak penting atau kamu boleh berhenti berusaha. Artinya nol balasan itu bukan vonis atas dirimu. Keheningan itu punya arsitektur. Begitu kamu melihat mesinnya, kamu berhenti menyalahkan cermin.

Baca juga :  Singapura dan 'Benalu' Complex

Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), sebagaimana diatur dalam Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014.

spot_imgspot_img

#Trending Article

Game, Kunci RI “Mengejar” Tiongkok?

Rating tinggi di Steam ternyata belum cukup untuk membawa game buatan Indonesia naik kelas — dan jawabannya mungkin bukan soal bakat, melainkan soal siapa yang berani menaruh modal di baliknya.

Kho Ping Hoo dan “Pendekar-isme” Prabowo

Kho Ping Hoo wafat 31 tahun lalu, tetapi dunia Kang-Ouw ciptaannya masih hidup. Mengapa presiden pun ikut membacanya?

“Shogun Dilawan!”

Di tengah dinamika terkait Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara, Jepangseolah mulai menggugat tabu pasca-1945, nuklir, intelijen, hingga militer global. Apakah Tokyo sedang membangunkan kembali naluri Shogun?

Operasi Mamdani Menangkap Netanyahu

Zohran Mamdani sebut sedang pertimbangkan menahan Netanyahu di New York. Mungkinkah seorang wali kota tangkap seorang perdana menteri? 

“Gonjang-Ganjing Trunojoyo”, Cawang & Semanggi?

Polemik Febrie Adriansyah agaknya tidak berhenti di ruang hukum. Substansinya menjalar ke Trunojoyo, jantung Mabes Polri, dan menghidupkan kembali satu pertanyaan yang selalu sensitif di setiap rezim: siapa yang akan memegang komando kepolisian. Mengapa itu bisa terjadi?

Ruang Heterotopia & Euforia Kemenangan Spanyol

Stadion tempat Argentina kalah bukan sekadar lapangan hijau — ia adalah dunia lain yang untuk sesaat diizinkan menampilkan wajah asli kekuasaan.

“Tikus Got” di Balik Kebakaran TPA?

Api yang terus berulang di gunungan sampah kita mungkin bukan sekadar soal cuaca — melainkan soal siapa yang diam-diam diuntungkan oleh kekacauan itu sendiri.

Dari Lekra ke Hindia: Oktaf Kuasa

Dari biola Supratman hingga distorsi Hindia di TikTok, nada Indonesia tak pernah netral. Kini, algoritma pegang kendali soal siapa yang boleh bersuara.

More Stories