HomeFokus BUMNAnggota Dewan Sebut Ada Sosok Perempuan Jadi Mafia di Kemen BUMN

Anggota Dewan Sebut Ada Sosok Perempuan Jadi Mafia di Kemen BUMN

Kecil Besar

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Andre Rosiade menyebut ada sosok perempuan mafia yang bercokol di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya perempuan ini sangat berkuasa dan perlu dienyahkan dari lingkungan BUMN.


PinterPolitik.com

“Tolong, saya tidak ingin menyebut nama,” kata Andre dalam rapat di ruang Komisi VI DPR, sebagaimana disampaikan kepada wartawan, Senin (17/2).

Pada kesempatan itu Andre berbicara mengenai kerja-kerja BUMN dalam menangani proyek negara. Perempuan yang dimaksud Andre tersebut disebut bisa mengatur proyek.

Namun Andre mengatakan dia bukan pejabat, entah yang Andre maksud pejabat adalah pejabat negara atau pejabat swasta, dia kurang begitu jelas dalam mengungkapkan sosok yang dimaksudnya.

“Tapi karena ini bukan pejabat, saya nggak mau menyebut. Kurang keren saya membesarkan nama dia. Tapi yang pasti, bapak-bapak tahu itu, ada perempuan yang bisa atur-atur proyek di tempat bapak,” papar Andre.

Ciri selanjutnya, perempuan itu punya ciri fisik tertentu. “Perempuan ini rambutnya berwarna. Bapak-bapak sudah paham, rambutnya berwarna khusus,” kata Andre mencoba ungkap penampilan sosok misterius itu.

Andre menyebut perempuan itu sebagai mafia. Semua orang di BUMN harus mewaspadainya. Dia mempersilahkan semua orang untuk menebak-nebak, siapa gerangan perempuan itu?

“Saya minta ini tolong dipastikan, jangan ngatur-ngatur proyek di tempat bapak. Nggak ada mafia yang boleh ngatur proyek di tempat bapak (lingkungan Kemen BUMN),” tandasnya. (R58)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus
spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

Erick Thohir Pastikan 4,7 Juta Masker Telah Didistribusikan

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan 4,7 juta masker yang diproduksi oleh perusahaan pelat merah, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) telah...

BUMN akan Bangun RS Darurat Corona di Daerah

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memerintahkan jajarannya untuk membangun Rumah Sakit Darurat Corona di sejumlah daerah di Indonesia. Hal itu untuk mengantisipasi lonjakan...

BUMN Back Up Sepenuhnya RS Darurat Covid-19

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN),  Erick Thohir  menjamin RS Darurat Penangan Covid-19 siap beroperasi  pada Senin (23/3). BUMN sepenuhnya siap back up kebutuhan...