HomeData PolitikKetimpangan Ekonomi Picu Radikalisme

Ketimpangan Ekonomi Picu Radikalisme

Kecil Besar

Menurut Faisal, kelompok miliarder di Indonesia mampu meraup dua pertiga kekayaannya dari praktek bisnis di sektor kroni (crony sectors), yang dimungkinkan karena kedekatan dengan kekuasaan. Oleh karena itu tidak mengejutkan jika crony-capitalism index Indonesia bertengger di peringkat ketujuh di dunia. Posisi Indonesia pada tahun 2016 itu memburuk dibandingkan tahun 2007 dan 2014.


PinterPolitik.com

Radikalisme dan diskriminasi sosial akhir-akhir ini kembali merebak di Indonesia. Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri berpendapat bahwa hal itu merupakan akibat kegagalan pemerintah mempersempit ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin. Menurut Faisal Basri, pertumbuhan ekonomi yang bisa dijaga di atas 5 persen sepanjang tahun lalu, dinilai tidak berkualitas karena rasio gini yang semakin buruk.

Faisal Basri mengungkapkan hal tersebut melalui hasil riset yang dipublikasikan melalui blog-nya. Faisal Basri menyebut pemerintahan Jokowi mengklaim berhasil mengurangi tingkat ketimpangan sebagaimana tercermin dari penurunan rasio gini. Bahkan pada Maret 2016, rasio atau nisbah gini sudah turun di bawah 0,4, yang berarti tingkat ketimpangan tergolong baik.

“Namun perlu diingat, nisbah gini yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak mengukur tingkat ketimpangan pendapatan (income inequality) maupun ketimpangan kekayaan (wealth inequality),” kata Faisal.

Faisal mengatakan bahwa BPS menghitung rasio gini berdasarkan data pengeluaran yang diperoleh dari Survei Sosial Ekonomi Nasional. Survei tersebut dipastikan menyajikan ketimpangan pengeluaran yang sudah tentu lebih rendah ketimbang ketimpangan pendapatan maupun ketimpangan kekayaan. Karena perbedaan konsumsi orang terkaya dibandingkan konsumsi orang termiskin cenderung jauh lebih kecil dibandingkan perbedaan pendapatan dan kekayaannya.

Faisal yang pernah menjabat sebagai Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) menuturkan, peraga yang paling tepat digunakan pemerintah untuk melihat ketimpangan secara lebih riil adalah Data Pengeluaran yang juga dirilis BPS.

Baca juga :  Jokowi: Saya akan Lawan! Part 2

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data tersebut kelompok 20 persen terkaya menyumbang 47 persen pengeluaran, sedangkan kelompok 40 persen termiskin hanya 17 persen dengan kecenderungan menurun dan stagnan dalam enam tahun terakhir.

Faisal kemudian membandingkan dengan data kekayaan yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse. Credit Suisse menyebut bahwa 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional.

“Konsentrasi kekayaan pada 1 persen terkaya di Indonesia terburuk keempat di dunia setelah Rusia, India, dan Thailand. Jika dinaikkan menjadi 10 persen terkaya, penguasaannya mencapai 75,7 persen,” jelasnya.

Menurut Faisal, kelompok miliarder di Indonesia mampu meraup dua pertiga kekayaannya dari praktek bisnis di sektor kroni (crony sectors), yang dimungkinkan karena kedekatan dengan kekuasaan. Oleh karena itu tidak mengejutkan jika crony-capitalism index Indonesia bertengger di peringkat ketujuh di dunia. Posisi Indonesia pada tahun 2016 itu memburuk dibandingkan tahun 2007 dan 2014.

Faisal kemudian mengutip Ibnu Khaldun bahwa pembangunan berkualitas tak dapat dicapai kecuali melalui keadilan. Kemampuan untuk menciptakan keadilan tersebut merupakan standar penilaian keberhasilan kepemimpinan. Jika rasa keadilan semakin terusik, maka harmoni sosial akan terganggu, yang berpotensi meningkatkan ketegangan sosial dan politik seperti yang terjadi saat ini.

Persoalan yang kemudian digarisbawahi Faisal adalah masalah pendapatan kerja. Kenaikan upah minimum setiap tahun, dinilai Faisal tidak mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja. Lantas, bagaimana kaum pekerja menyiasati hidup dalam tekanan yang semakin berat menurut Faisal?

Menurut Faisal, hal pertama adalah akan lebih banyak anggota keluarga yang masuk pasar kerja.

“Sangat boleh jadi itu termasuk anak-anak yang terpaksa drop out dari sekolahnya untuk menopang kehidupan keluarga. Maka tak heran tingkat partisipasi angkatan kerja naik cukup tajam sejak 2014,” katanya.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Hal kedua adalah bahwa pekerja harus mencari pekerjaan tambahan atau menambah jam kerja. Lebih dari seperempat pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam seminggu. Faisal mencatat jumlah pekerja keras Indonesia hanya kalah dengan Korea Selatan dan Hongkong.

“Terlalu miskin bagi mereka untuk menganggur alias too poor to be unemployed. Ditambah lagi mencari pekerjaan semakin sulit. Jika sebelum tahun 2010 mencari pekerjaan tidak sampai enam bulan, sejak tahun 2010 bertambah menjadi satu tahun atau lebih,” jelas Faisal.

Faisal melanjutkan bahwa yang juga perlu diwaspadai adalah relatif tingginya penganggur di kalangan usia muda. Negara-negara di Timur Tengah yang mengalami gejolak politik pada umumnya ditandai oleh tingginya penganggur belia.

Hal inilah yang menyebabkan banyak dari orang-orang tersebut yang kemudian menerima ‘tawaran’  dari kelompok-kelompok radikal yang memberikan ‘tawaran’ bagi mereka. Dengan kata lain, kita bisa mengatakan bahwa masalah ‘perut’ adalah hal utama yang melahirkan konflik. Jika perut lapar, maka orang akan lebih mudah bertengkar.

Apa yang diungkapkan oleh Faisal Basri ini merupakan sebuah fenomena yang terjadi di masyarakat sekitar kita. Jika ketimpangan ekonomi dan jarak antara yang kaya dan miskin tidak diperkecil, maka tidak perlu diragukan bahwa radikalisme dan diskriminasi akan makin sering terjadi. Sampai kapan hal tersebut akhirnya bisa diselesaikan? Tentu saja kalau ketimpangan ekonomi kita dapat diperbaiki. Apakah bisa? Tentu saja kalau ada keinginan dan kerja keras, tidak ada hal yang mustahil. (CNN/S13)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.