Cross BorderFinlandia Ujian Menentukan Bagi Rusia?

Finlandia Ujian Menentukan Bagi Rusia?

- Advertisement -

Resmi sudah Finlandia menjadi negara anggota terbaru Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Selasa kemarin telah diumumkan keanggotaan negara tersebut, yang secara simbolis ditunjukkan dengan penaikkan bendera Finlandia di markas NATO. Hal ini tentu menjadi ancaman bagi Rusia yang secara langsung berbatasan dengan Finlandia. Rusia sendiri sebut akan menyiapkan “balasan” atas manuver ini. Apa yang sebenarnya dimaksud Rusia?


PinterPolitik.com

“Politik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah”, Mao Zedong

Selasa lalu (4 April 2023), pengumuman resmi soal keanggotaan Finlandia di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) diumumkan. Negara tersebut resmi menjadi anggota ke-31 dari organisasi tersebut. Secara simbolis juga diadakan upacara penaikkan bendera Finlandia di markas NATO. 

Pasca serangan Rusia ke Ukraina pada Februari tahun  lalu, Finlandia bersama dengan Swedia mengambil langkah untuk bergabung bersama NATO. 

Namun, karena keanggotaan sebuah negara baru harus mendapat persetujuan dari semua negara anggota, maka proses tersebut sempat terhenti. Hal ini karena masih terdapat penolakan dari Turki, yang disebabkan karena Turki merasa kedua negara tersebut mendukung organisasi pekerja Kurdi yang merupakan organisasi teroris bagi pihak Ankara

Akhirnya, setelah melewati negosiasi panjang, Finlandia mendapat dukungan Turki untuk bergabung dengan NATO. Dukungan ini membuat negara tersebut akhirnya dapat bergabung dengan NATO.

Rusia sendiri mengatakan akan merespons hal tersebut dengan memperkuat militer mereka di wilayah yang berbatasan dengan Finlandia. Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia, yakni Sergei Shoigu sendiri mengatakan Rusia akan mengambil tindakan “pencegahan yang memadai”, salah satunya dengan pembentukan sekitar 12 unit dan divisi di wilayah baratnya.

Finlandia menjadi negara NATO ketiga yang berbatasan langsung dengan wilayah utama Rusia, setelah Estonia dan Latvia. Tentu ini dapat menjadi sebuah ancaman bagi Rusia, apalagi jarak dari Helsinki ke St. Petersburg hanya sekitar 350 km saja. Namun, apakah Rusia sanggup untuk melakukan intervensi militer ke Finlandia?

image 6

Tak Cukup Kuat?

Tidak semua kebijakan penguatan angkatan militer sebuah negara dimaksudkan untuk melakukan agresi kepada negara lain. Terkadang hal tersebut justru dilakukan hanya untuk mencegah serangan potensial dari negara lain. Konsep ini disebut sebagai deterrence theory.

Deterrence theory sendiri menjelaskan bahwa “ancaman” yang dihadirkan sebenarnya hanya digunakan untuk menggertak pihak musuh saja, bukan untuk menyerang mereka.

Konsep ini dikatakan sukses apabila ancaman tersebut  berhasil membuat pihak musuh mengurungkan niat ofensifnya.

Sebagai salah satu dari tiga negara dengan militer terkuat di dunia, tentu di atas kertas adalah hal yang mudah bagi Rusia untuk “melahap” Finlandia. Akan tetapi, jika kita berkaca pada kondisi saat ini, maka akan sulit membayangkan Rusia sanggup melakukan intervensi militer ke sana.

Baca juga :  Mengapa Xi-Putin Terjebak “Situationship”?

Bahkan untuk menghadirkan kekuatan deterrence yang memadai di sekitar Finlandia saja, sulit untuk dilakukan oleh Rusia.

Penyebab utamanya adalah perang di Ukraina yang belum selesai, di mana Rusia menderita kerugian besar. Perang yang dimulai pada Februari tahun lalu ini menunjukkan bahwa Rusia tidak “sekuat” itu. Bukan dalam arti negara tersebut tidak memiliki cukup pasukan dan alutsista, namun lebih kepada faktor teknis, dimana masalah logistik menjadi kendala utama dari “petualangan” mereka di Ukraina.

Selain karena panjangnya garis suplai, manajemen logistik yang kurang baik juga menyebabkan masalah tersebut. Menurut Bradley Martin, seorang peneliti kebijakan di RAND, kesalahan Rusia adalah kurangnya pertimbangan sebelum memulai perang. Baginya, selain karena ketergantungan ekonomi Rusia pada ekspor minyak, ekspektasi awal yang menargetkan perang di Ukraina akan berakhir dengan cepat menjadi sebuah bencana.

Selain itu, kondisi yang “menyedihkan” juga dapat kita lihat dari salah satu negara superpower militer ini, seperti program wajib militer bagi warganya dan penggunaan kembali alutsista lawas di Ukraina. Hal ini menunjukkan bahwa ada masalah besar yang sepertinya  menghinggapi pasukan Rusia. 

Dan perlu diingat pula bahwa kini Finlandia telah resmi menjadi bagian dari NATO, sehingga negara tersebut memiliki proteksi penuh dari organisasi tersebut. Sesuai dengan artikel 5 NATO, negara tersebut dijamin keamanannya oleh organisasi pertahanan Amerika Serikat (AS) dan kawan-kawan itu..

Tentu, kalau Rusia bertindak lewat batas dalam unjuk gigi pada Finlandia, maka negara-negara NATO tidak hanya akan sebatas membantu dalam aspek persenjataan saja, namun juga memiliki “legitimasi” untuk terlibat langsung dalam mempertahankan negara tersebut.  

Kondisi tersebut bisa dibilang akan membawa konsekuensi perang dunia yang bisa meletus. Tentu Rusia akan berpikir dua kali untuk melakukan tindakan beresiko seperti itu.

Namun dengan ancaman yang begitu nyata ada di depan “halaman” mereka sendiri, apakah Rusia hanya akan berpangku tangan? Dan jika memilih untuk bertindak, apakah Rusia siap dengan konsekuensinya?

image 7

Pilihan Terakhir?

Sebagai salah satu negara superpower militer, Rusia tentu memiliki berbagai kepentingan nasional. Berbeda dengan negara-negara “biasa”, kepentingan nasional Rusia sangat sensitif dan rentan  bergesekan dengan kepentingan negara lain, khususnya negara Barat. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi keputusan Rusia untuk menginvasi Ukraina.

Sementara, dalam kasus Finlandia, Kementerian Luar Negeri Rusia sendiri menyatakan akan mengikuti perkembangan situasi di Finlandia. Ini tergantung pada penyebaran infrastruktur militer NATO di wilayah Finlandia.

Baca juga :  Ada Kongkalikong Antara Iran dan Israel?

Keputusan ini tentu dapat dipahami, karena jarak antara Rusia dan Finlandia yang dekat. Jarak dari Ibukota Helsinki ke St. Petersburg saja hanya sekitar 350 km. Hal ini tentu dapat menjadi ancaman, apalagi jika nantinya rudal balistik milik NATO ditempatkan di Finlandia.

Bagi Rusia, wilayah di sekitar Finlandia memang sangat penting. Karena di dekat Finlandia terdapat dua tempat penting bagi Rusia, yakni St. Petersburg dan juga Murmansk. Di St. Petersburg sendiri terdapat pelabuhan yang sangat penting bagi ekonomi perdagangan Rusia. Dan jika sampai dikuasai dan diblokade oleh NATO, maka Rusia dalam masalah yang serius. Selain itu kota tersebut merupakan “pintu masuk” ke Moskow dari arah Finlandia.

Sementara di Murmansk terdapat markas armada utara dari AL Rusia (Russian Northern Fleet), yang menjadi salah satu modal bagi Rusia untuk mendominasi wilayah Laut Barents hingga Samudra Arktik. Jarak dari Helsinki ke wilayah Murmansk sendiri hanya kurang dari 1.500 km, jarak yang mudah dijangkau oleh Rudal Minuteman III milik AS, apabila suatu saat AS menempatkannya disana.

Dengan segala potensi ancaman tersebut, tentu tidak mengherankan apabila suatu saat Rusia memutuskan untuk “melewati” batas dalam mempertahankan dirinya, sekalipun harus melawan NATO sepenuhnya. Dan apabila hal ini sampai dilakukan Rusia, maka hampir pasti terjadi Perang Dunia Ketiga. Karena tentu sekutu Rusia seperti Iran, Tiongkok dan Korea utara tidak akan berdiam diri saja.

Selain itu, Rusia juga bisa memaksakan kondisi krisis nuklir, sebagai salah satu senjata “pamungkas” miliknya, apabila memang negaranya benar benar terancam dengan kebijakan ekspansionis NATO. Bukan tidak mungkin, dunia akan dihadapkan pada sebuah dispute, di mana setiap pihak tidak mau untuk saling mengalah.  

Namun, hal diatas tentu hanya sebatas hipotesis. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, baik oleh Rusia maupun NATO. Pecahnya perang sendiri tidak diinginkan oleh setiap pihak, karena akan mengancam stabilitas pangan, politik hingga ekonomi dunia.

Secara objektif, kita tentu harus memahami kepentingan Rusia, yang harus menghadapi “pengepungan” NATO. Hal ini sangat mempengaruhi kepentingan politik dan pertahanan negara tersebut. Bukan bermaksud membenarkan setiap tindakan kekerasan, namun terkadang suatu pihak memilih menyerang bukan karena keinginan, namun kehabisan pilihan. 

Harapan terbesar kita semua tentunya adalah semoga semua pihak bisa saling menghormati dan menahan diri. Karena perdamaian bukan hanya untuk dan milik satu pihak saja, tapi milik semua manusia di dunia. (R87).

spot_imgspot_img

More from Cross Border

Nuklir Oppenheimer Justru Ciptakan Perdamaian?

Film Oppenheimer begitu booming di banyak negara, termasuk Indonesia. Menceritakan seorang Julius Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika yang berperan penting pada Proyek Manhattan, proyek...

Oppenheimer, Pengingat Dosa Besar Paman Sam?

Film Oppenheimer baru saja rilis di Indonesia. Bagaimana kita bisa memaknai pesan sosial dan politik di balik film yang sangat diantisipasi tersebut?  PinterPolitik.com  "Might does not...

Zelensky Kena PHP NATO?

Keinginan Ukraina untuk masuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mendapat “hambatan” besar. Meski mengatakan bahwa “masa depan” Ukraina ada di NATO, dan bahkan telah...

Eropa “Terlalu Baik” Terhadap Imigran?

Kasus penembakan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian terhadap seorang remaja imigran telah memicu protes besar di Prancis. Akan tetapi, kemarahan para demonstran justru...

More Stories

Betul Iran di Balik Kematian Presiden Iran? 

Kendati dilaporkan sebagai akibat kecelakaan, kematian Presiden Iran, Ibrahim Raisi masih ramai dispekulasikan sebagai bagian dari sebuah desain politik. Bila benar demikian, apakah mungkin ada andil Israel di belakangnya? 

Elon Musk, Puppet or Master?

Harapan investasi besar dari pebisnis Elon Musk tampak begitu tinggi saat disambut dan dijamu oleh pejabat sekaliber Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan hingga beberapa pejabat terpilih lain. Akan tetapi, sambutan semacam itu agaknya belum akan membuat CEO SpaceX hingga Tesla itu menanamkan investasi lebih di Indonesia.

Menguak Siasat Yusril Tinggalkan PBB

Sebuah langkah mengejutkan terjadi. Yusril Ihza Mahendra memutuskan untuk melepaskan jabatan Ketum PBB. Ada siasat apa?