HomeCelotehSoal Papua, Jokowi Ungguli Trump

Soal Papua, Jokowi Ungguli Trump

Kecil Besar

“Menyatakan tindakan pemerintah yang dilakukan tergugat 1 dan 2 adalah perbuatan melanggar hukum”. – Hakim Ketua Nelvy Christin


PinterPolitik.com

Jadi penguasa memang enak. Apalagi di negara yang menganut hukum positif di mana penguasa bisa menjadi orang yang membuat hukum, menegakkan dan – dalam beberapa kasus – juga melanggarnya. Uppps.

Padahal, sejak Samuel Rutherford menerbitkan bukunya yang berjudul Lex Rex pada tahun 1644, konsep “King is The Law” atau raja adalah hukum sebenarnya telah mengalami pembalikan menjadi “Law is The King” alias hukum adalah raja.

Inilah sebetulnya awal mula pemikiran bahwa kekuasaan setinggi apa pun tetap harus tunduk pada hukum yang berlaku, sekalipun pada pelaksanaannya tak pernah mencapai titik ideal yang digariskan buku tersebut.

Lain hukum, lain lagi hak asasi manusia atau HAM. Yang satu ini juga penting untuk disorot juga karena pelanggaran HAM sering kali efek dan dimensinya jauh lebih buruk daripada sekedar pelanggaran hukum sebab HAM berhubungan dengan prinsip-prinsip moral yang tertinggi sebagai manusia.

Nah, perdebatan tentang hukum dan HAM inilah yang hadir saat kasus kerusuhan terjadi di Papua pada pertengahan jelang akhir 2019 lalu. Pasalnya, kebijakan melambatkan akses internet yang diambil oleh pemerintah – let’s say Presiden Jokowi selaku pemegang kekuasaan tertinggi dan Menkominfo Johnny G. Plate selaku pelaksana – dianggap oleh beberapa pihak melanggar hukum sekaligus melanggar HAM.

Soal pelanggaran hukum kini telah sah setelah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta memvonis baik Presiden Jokowi maupun Menteri Johnny melanggar hukum akibat kebijakan tersebut. Keduanya diharuskan membayar denda sebesar Rp 457 ribu. Well, nggak salah tulis ya, jumlahnya memang sekecil itu.

Sementara, soal pelanggaran HAM ini mengemuka karena diskursus kebutuhan internet sebagai hak-hak dasar manusia sebetulnya telah muncul dalam laporan yang dideklarasikan oleh Dewan HAM di Majelis Umum PBB pada 2016. Artinya, membatasi kebutuhan akses internet masyarakat adalah sebuah pelanggaran HAM.

Ngeri-ngeri sedap nggak tuh.

Tapi nih, yang patut disoroti adalah kebijakan yang “melanggar HAM” tersebut sebetulnya cukup efektif membendung gejolak yang terjadi di Papua. Berita-berita yang silih berganti yang belum jelas kebenarannya dan tersebar masif di media sosial akhirnya bisa terkontrol.

Perlahan, isu Papua ini mulai surut. Hmm, emang nih pemerintah suka banget pakai cara-cara yang melanggar HAM kalau soal Papua. Uppps.

Nah, sekarang persoalan yang mirip – tentang rasisme juga – sedang dihadapi oleh Presiden Donald Trump di Amerika Serikat. Sayangnya, Trump nggak menemukan cara untuk mengontrol keadaan.

Yang ada malah doi dianggap bersembunyi dari berbagai situasi yang saat ini terjadi. Mau lambatin internet kayak yang dilakukan oleh Pak Jokowi? Kayaknya nggak berani deh. Soalnya bakal bisa menimbulkan kemarahan yang berlipat ganda.

Walaupun demikian, cukup sudahlah pakai cara-cara yang melanggar HAM untuk mengatasi gejolak sosial. Sudah saatnya semua orang dihargai dan dihormati secara sama sebagai manusia, warga negara, dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Semoga yang di AS cepat mereda, dan yang di Papua masalahnya cepat juga terselesaikan hingga ke akar-akarnya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Jokowi si Politisi Jenius?

Profesor Kishore Mahbubani menyebut Presiden Jokowi sebagai pemimpin jenius dalam tulisan terbarunya. Berbagai kebijakan mantan Wali Kota Solo tersebut mendapat pujian. Mahbubani bahkan menilai pemerintahan Jokowi layak ditiru oleh berbagai negara. Apakah Presiden Jokowi adalah politisi jenius?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.