HomeCelotehSaatnya Minum “Jamu” ala Jokowi?

Saatnya Minum “Jamu” ala Jokowi?

Kecil Besar

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) untuk acuan pembangunan bila terjadi pergantian pemerintahan setelah pemilihan umum (Pemilu). Apakah GBHN ini “jamu” ala pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk jadi obat mujarab pembangunan Indonesia?


PinterPolitik.com

Gaes, pernah tahu nggak sih kalau ternyata ada sejumlah negara yang katanya memiliki produk Coca-Cola yang berbeda? Mimin juga baru tahu lho. Katanya sih, Coca-Cola yang dijual di Meksiko punya rasa yang berbeda dengan produk Cola pada umumnya.

Mimin baru tahu setelah iseng-iseng scrolling video-video yang ada di halaman recommended YouTube miminNgomong-ngomong soal YouTube nih, video-video buatan mimin juga pasti ada dong di recommended kalian. Kalau belum tahu video-videonya mimin, cek aja tuh channel PinterPolitik TVHehe.

Oke oke, balik lagi ke cerita Coca-Cola tadi. Jadi, katanya sih, Cola yang diproduksi di negara Amerika Tengah itu masih menggunakan formula asli yang digunakan perusahaan itu sejak zaman dulu kala. Makanya, ada yang bilang kalau di Meksiko itu, Cola-nya adalah the real Cola.

Hmmmimin jadi penasaran nih buat nyobain. Soalnya nih, jujur aja ya, mimin tuh suka banget sama minuman-minuman berkarbonasi macam Cola. Sampai-sampai, mimin biasanya beli tuh tiap hari di kantin sekolah pas masih zaman SMA. Peace ya, Om Deddy Corbuzier. Mimin tahu kok kalau itu nggak sehat sama sekali. Hehe.

Makanya, ibu mimin itu suka ngelarang kalau misalnya mimin ketahuan beli Cola atau soda-soda manis lainnya. Karena sayang, ibu mimin khawatir tuh kalau minuman itu nantinya bisa berujung ke macam-macam persoalan kesehatan – mulai dari obesitas, diabetes, sampai penyakit-penyakit lainnya.

Baca juga :  The One-Man Band

Ya, daripada soda-soda macam Cola, ibu mimin lebih suka kalau mimin minum jamu tuh. Maklum lah, kan mimin terlahir di keluarga Jawa. Gimana-gimanamimin pun harus tuh minum jamu yang dibikinin sama ibu mimin.

Baca Juga: Mengapa Puan ‘Mirip’ Teh Botol?

Kotak Pandora Jokowi GBHN

Tapi nihngomong-ngomong soal minuman Cola nih, kalian tahu kan kalau minuman jenis ini juga diproduksi oleh merek-merek yang berbeda? Nah, mereknya itu namanya Pepsi. Hubungan kedua merek ini sering tuh menimbulkan perdebatan soal mana yang lebih enak – berujung menjadi sebuah rivalitas tuh.

Dulu sih mimin lebih suka yang Pepsi sih soalnya rasanya agak beda gitu. Ya, meski begitu, gimana lagi, gaes? Pepsi udah nggak dijual lagi di Indonesia. Ehtapi, ternyata ada lho orang yang menilai Pepsi dan Cola ini sama aja. Beliau adalah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

Dalam acara Seminar dan Dialog 50 Tahun CSIS Indonesia pada Senin (26/7) kemarin, Pak Abdul bilang Pepsi dan Cola ini rasanya mirip-mirip meskipun beda merek. Rasa yang mirip-mirip ini berlaku tuh dalam arah pembangunan negara ala Amerika Serikat (AS).

Intinya sih, Pak Abdul bilang kalau pergantian presiden di negeri Paman Sam ini mirip-mirip sama Pepsi-Cola – beda merek tapi satu rasa. Nah, maka dari itu, Pak Sekretaris Umum PP Muhammadiyah bilang Indonesia juga perlu tuh menggunakan jenis “minuman” yang sama, yakni Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Hmm, kalau di Indonesia kan, udah nggak ada Pepsi nih, Pak. Gimana kalau jenis “minuman” ini diganti sama yang selalu ada tuh, yakni jamu. Kan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sukanya jamu tuh. Bahkan, katanya, Pak Jokowi minum jamu hampir tiap hari.

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Bisa jadi tuh, kalau udah ada jamu GBHN, presiden-presiden setelah Pak Jokowi akhirnya bisa minum minuman yang sama nanti. Ya, meski jamu sendiri ada banyak macamnya ya – mulai dari sinom hingga beras kencur, pemerintah nanti tetap aja minum jamu yang rasanya pahit nan pedas tapi sehat tuhHehe.

Siapa tahu kan nanti pembangunan Indonesia jadi lebih sehat juga tuh dengan kehadiran “jamu” bersama itu? Tapi, ingat ya, minumannya harus jamu – bukan teh botol (colek Ketua DPR Puan Maharani). Hehe. (A43)

Baca Juga: Perlukah GBHN Kembali?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?