HomeCelotehRidwan Kamil ‘Ungguli’ Jokowi?

Ridwan Kamil ‘Ungguli’ Jokowi?

Kecil Besar

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) memberikan masukan terkait proses sayembara desain Istana di Ibu Kota Negara (IKN) yang baru. Pasalnya, pradesain Garuda Istana yang sempat diunggah Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut timbulkan pro dan kontra di masyarakat.


PinterPolitik.com

Siapa di sini yang pernah bermain gim yang bertajuk The Sims? Hampir semua pasti pernah dengar soal gim video satu ini. Serunya tuh, gim ini mengizinkan pemainnya untuk menjalankan sebuah simulasi kehidupan sehari-hari manusia.

Dalam gim tersebut, kita bisa mengurus sejumlah manusia yang harus memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya – mulai dari makanan hingga kebutuhan sosial. Nah, salah satu kebutuhan itu juga meliputi soal papan lho, yakni tempat tinggal.

Guna memenuhi kebutuhan satu itu, pemain bisa bebas membangun rumah untuk si Sim yang akan kita mainkan. Di sini lah, mulai tuh para pemain menggunakan gaya-gaya kreatifnya dalam membangun bangunan yang indah. Bahkan, banyak lho konten-konten YouTube yang membahas soal gaya arsitektural dalam gim satu ini.

Kreasi-kreasi bangunan yang indah dan megah seperti ini tentunya juga merefleksikan pikiran kreatif di dunia nyata dong. Coba aja deh kita tanya Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya nih, Pak Presiden beberapa waktu lalu mengunggah gambar pradesain atas Istana barunya yang akan dibangun di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Tapi nih, namanya juga hal-hal yang mengandung unsur-unsur kreatif, banyak yang akhirnya tidak menyukai pradesain Istana di Ibu Kota Negara (IKN) baru tersebut. Pradesain karya seniman patung I Nyoman Nuarta yang berbentuk Garuda itu dianggap memiliki kesan tidak modern, tidak rendah emisi, dan tidak sejalan dengan konsep bangunan ramah lingkungan lho.

Hmmmimin jadi penasaran nih. Kira-kira, gimana ya komentar para arsitek lainnya? Menariknya, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) yang juga seorang arsitek menyebutkan bahwa penilaian atas pradesain seperti itu sifatnya subjektif kok – tergantung selera masing-masing orang.

Baca juga :  The One-Man Band

Baca Juga: Nasdem Lebih Cocok Dengan Ridwan Kamil

Ridwan Kamil Jokowi Pradesain Garuda Istana

Namun nih, menariknya, Pak Gubernur yang biasa disapa Kang Emil itu memberikan masukan tuh buat Pak Jokowi. Kata beliau, seharusnya proses sayembara desain tersebut harus lebih terbuka tuh supaya masyarakat dapat menilai dan terwakilkan secara lebih baik.

Ya, mungkin, apa yang dibilang Kang Emil ini juga ada benarnya kali ya. Lagipula, Pak Gubernur Jabar ini udah berpengalaman banyak lho di bidang arsitektural seperti ini.

Beliau punya banyak sumbangsih dalam mendesain banyak masjid di Jabar lho. Selain itu, Kang Emil juga terlibat dalam pembangunan Museum Tsunami Aceh dan berbagai proyek internasional – seperti di Marina Bay Sands, Singapura, hingga sejumlah kota baru di Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Mungkin nih, berbagai bangunan arsitektural yang dibuat oleh Kang Emil ini merupakan warisan (legacy) pribadi sang Gubernur Jabar ini. Kalau emang benar begitu, banyak juga dong legacy-nya Kang Emil ya.

Hmm, kalau legacy Pak Jokowi dalam bentuk bangunan-bangunan monumental dan arsitektural seperti ini ada nggak ya? Istana baru yang baru pradesain aja langsung menimbulkan banyak polemik.

Kalau gini caranya, Kang Emil udah mengungguli Pak Jokowi dong dalam hal legacy bangunan monumental seperti ini. Wah wah, padahal, Kang Emil belum jadi presiden lhoGimana kalau tahun 2024 ke depan nanti ya? Hehe. (A43)

Baca Juga: Ridwan Kamil, the Next ‘Rudy Hartono’?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?