HomeCeloteh'Red Flag' Anies, Prabowo, hingga Puan?

‘Red Flag’ Anies, Prabowo, hingga Puan?

Kecil Besar

Dinamika menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 semakin memanas dengan persaingan di antara nama-nama yang disebut berpotensi untuk menjadi calon presiden (capres). Namun, layaknya memilih jodoh, mungkinkah para capres ini memiliki “red flags” yang harus dipertimbangkan? 


PinterPolitik.com

“And I wanted it, I wanted it bad. But there were so many red flags” – Sia, “Elastic Heart” (2013)

“Kukira dialah orang yang aku cari-cari selama ini,” ucap batin ketika usai bertemu dengan seorang match dari aplikasi pencari jodoh (dating apps). Rasanya, ketika bertemu sosok yang memenuhi kriteria – alias tipe, dunia serasa berhenti sejenak.

Namun, terkadang, kenyataan menampar. Layaknya apa yang sering dibilang orang-orang, manusia hanya bisa berencana ketika Tuhan yang menentukan segalanya.

Gimana nggak? Ternyata, ada salah satu hal dari individu tersebut yang membuat kita berpikir ulang. Ada pertimbangan-pertimbangan yang harus dilihat kembali.

Misal nih, ternyata, individu itu bilang kalau dia tidak siap untuk berkomitmen. Ucapan-ucapan seperti ini nih yang sering dibilang oleh orang-orang di media sosial (medsos) sebagai red flags – istilah kontemporer yang dipahami sebagai peringatan (warning) akan “bahaya”. 

Run away!” ucap orang-orang di timeline Twitter, reels Instagram, atau for you page (FYP) TikTok ketika red flags macam kecemburuan berlebihan, ketidaksiapan untuk berkomitmen, atau ekspresi cinta berlebih (love-bombing).

Hmm, by the way, ini kan website PinterPolitik.com ya. Ngapain bahas red flags ya? 🤔

Chill, guys. Pertimbangan-pertimbangan ala red flags begini juga bisa diaplikasikan dalam politik. Gimana nggak? Kan, memilih partai politik (parpol) atau pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) juga harus dilakukan melalui banyak pertimbangan.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus
Wacana Penundaan Pemilu is Real

Kata Morris P. Fiorina dalam tulisannya The Voting Decision: Instrumental and Expressive Aspects, beberapa faktor yang mempengaruhi pertimbangan pemilih adalah identifikasi parpol, kualitas kandidat, dan isu yang dibawa oleh kandidat. Ibaratnya nih, faktor-faktor ini adalah tipe (type) ketika swipe ke kanan atau ke kiri di “layar” kertas suara pemilihan umum (Pemilu). 

Identifikasi parpol, misalnya, bisa dipahami sebagai kecocokan seseorang terhadap suatu parpol. Misal nih, ketika pemilih tersebut lebih merasa cocok dengan parpol A, maka kandidat yang dipilih adalah kandidat yang diusung parpol A. 

Kemudian, “tipe” berikutnya yang biasa dipertimbangkan adalah kualitas capres-cawapres. Buat orang yang “sapiosexual” – alias lebih suka sama orang yang pintar dan cerdas, bisa aja kandidat yang dipilih adalah kandidat yang memiliki kualifikasi pendidikan yang tinggi.

Nah, terakhir nih, ada juga isu yang dibawa kandidat. Ini semacam melihat dari sisi apa saja “kegemaran” dan “hobi” sang kandidat. 

Misal nih, di dating apps, kita akan melihat musik-musik apa yang didengarkan sang match. Nah, kalau di Pemilu, hal yang dilihat adalah isu-isu apa yang sering menjadi concern dari sang kandidat. 

So, sejauh ini, udah ada yang nge-rasa match belum dengan capres-capres potensial di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024? Apakah hati telah memilih Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, Ridwan Kamil, Airlangga Hartarto, atau Muhaimin Iskandar (Cak Imin)? 

Jangan sampai belum bisa “move on dari yang sebelumnya lho, guys. Yang sudah biarlah sudah ya. Betul nggak tuh, Pak Presiden Joko Widodo (Jokowi)? 

Hayo, siapa yang kemarin masih ramai soal penundaan Pemilu? We know kalau “moving on” itu terkadang susah. But life goes on, guys. Jadi, move on yuk! Hehe. 👀 (A43)

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?