HomeCelotehPDIP Takut “Gerakan Tambahan”?

PDIP Takut “Gerakan Tambahan”?

Kecil Besar

“Jadi, kita ikuti tahapan-tahapan tersebut dengan penuh kedisiplinan. Terkait dengan capres-cawapres, kongres telah memberikan mandat kepada ketua umum sehingga seluruh anggota dan kader partai tidak boleh membuat suatu gerakangerakan tambahan” – Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal DPP PDIP


PinterPolitik.com

Beberapa hari lalu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto memberikan arahan kepada kader PDIP untuk tegak lurus kepada ketentuan partai dan tidak melakukan “gerakan tambahan” terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. 

Hasto menilai bahwa mandat Kongres PDIP yang memberikan hak prerogatif kepada Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri untuk memutuskan nama pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) harus dijunjung sebagai keputusan bersama kader-kader PDIP. 

Dalam konteks ini, gerakan tambahan yang dimaksud Hasto kemungkinan berkaitan dengan akrobat-akrobat politik yang dilakukan kader-kader PDIP yang terjadi beberapa waktu lalu. 

Jika kita ingat, sebelumnya muncul gerakan Dewan Kolonel yang diinisiasi oleh Anggota DPR RI Fraksi PDIP Johan Budi dan beberapa rekan-rekannya, yang mana menginginkan Ketua DPR RI Puan Maharani maju menjadi capres dari PDIP. 

Setelah itu muncul juga pernyataan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo yang siap maju pada Pilpres 2024. Disusul pernyataan Ketua DPC PDIP, FX Hadi Rudyatmo secara terbuka mendukung Ganjar. 

image 26
Hasto PDIP “Sekjen Killer”?

Anyway, melarang gerakan tambahan dan menginginkan gerakan tunggal merupakan salah satu strategi partai yang ingin setiap gerakan politiknya menjadi efisien dan efektif.  Lantas, kenapa masih ada kader PDIP yang melakukan gerakan tambahan? Apakah mungkin mereka tidak ingin gerakan partai mereka lebih lancar? 

Nah, motif gerakan tambahan kader PDIP ini kemungkinan akibat dari kesan partai yang lambat dalam merespons persoalan politik terkait pencalonan Pilpres 2024 mendatang.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Seperti yang kita tahu, PDIP menggunakan siasat waitandsee sehingga sampai saat ini belum secara terbuka mendeklarasikan tokoh yang mereka usung. 

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago berusaha memahami mengapa deklarasi tidak dilakukan saat ini oleh PDIP. Menurutnya, PDIP memiliki kebiasaan untuk selalu menggunakan penghujung waktu sebagai momentum mengumumkan siapa tokoh yang mereka usung. 

Menurut Pangi, PDIP selalu bermain injury time atau last minute. Gerakan politik PDIP menjadi sulit dibaca sehingga partai banteng ini akan lebih leluasa membaca kondisi politik

Jadi, bisa disimpulkan kalau gerakan tambahan para kader ini tidak berangkat dari ruang yang kosong. Ada efek kausalitas yang bermula dari gerakan partai yang lambat sehingga muncul gerakan tambahan, yang mungkin bagi partai akan “nyusahin” karena menghambat gerakan utama partai. 

By the way, jika mendengar gerakan tambahan, jadi ingat pertunjukan-pertunjukan drama loh karena biasanya istilah “gerakan tambahan” lumrah dalam seni pertunjukan untuk membedakan dengan istilah “gerakan pokok”. 

Gerakan pokok biasanya adalah gerakan yang sudah direncanakan sedangkan gerakan tambahan merupakan gerakan yang tidak direncanakan dan tidak perlu latihan, seperti improvisasi. 

Hmm, tunggu dulu deh, Hasto pakai istilah gerakan tambahan yang rupanya istilah dalam drama. Jangan-jangan Hasto sudah biasa dengan dunia drama. Atau mungkin melarang orang lain untuk buat gerakan tambahan bisa jadi adalah sebuah gerakan tambahan ala Hasto kali ya? Who knows, kan? Hehehe. (I76)


PDIP Mati Tanpa Megawati?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...