HomeCelotehPDIP Hilang Dari Bansos?

PDIP Hilang Dari Bansos?

Kecil Besar

“ICW mempertanyakan kenapa dalam dakwaan Juliari kembali dihilangkan nama-nama politisi yang diduga memperoleh paket besar dalam pengadaan bansos sembako di Kemensos, seperti Herman Hery dan Ihsan Yunus”. – Kurnia Ramadhana, Peneliti ICW


PinterPolitik.com

Tahun-tahun 1990-an hingga 2000-an adalah masa ketika film dan series kolosal merajai televisi serta bioskop di Indonesia. Kisah-kisah yang diambil dari sejarah maupun mitologi Indonesia menjadi penghias utamanya.

Angling Dharma, Mahabharata, Karmaphala, dan masih banyak yang lainnya lagi adalah beberapa contoh di antaranya. Naik daunnya series-series yang demikian ini juga membuat masyarakat Indonesia familiar dengan istilah-istilah mitologi, salah satunya siluman.

Siluman memang dikisahkan sebagai makhluk halus yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Mereka bisa terlihat sebagai manusia biasa, namun punya wujud asli yang berupa hewan tertentu atau makhluk lainnya.

Baca Juga: Ada Agenda Penenggelaman Ma’ruf Amin?

Salah satu ciri khas siluman adalah kemampuan mereka untuk menghilang atau pergi dengan cepat. Mungkin nggak mirip dengan jurus Kamui milik Obito di serial Naruto, tapi prinsip kerjanya sama kayak gitulah kira-kira.

Nah, ngomongin soal berpindah tempat atau hilang-menghilang, ternyata ini juga disoroti oleh Indonesian Corruption Watch alias ICW loh. Ini terkait kasus korupsi bantuan sosisal yang emang lagi ditangani KPK.

Sorotan ICW ini terkait hilangnya nama 2 politikus PDIP, Herman Hery dan Ihsan Yunus, di dakwaan jaksa KPK terhadap mantan Mensos Juliari Batubara. Padahal, nama Herman dan Ihsan sempat muncul dalam persidangan dengan terdakwa 2 penyuap Juliari.

Adapun Herman Hery merupakan Ketua Komisi III DPR. Sementara Ihsan Yunus merupakan mantan Wakil Ketua Komisi VIII DPR yang kini menjadi anggota Komisi II DPR usai kasus bansos terungkap.

Baca juga :  Jika Ahok jadi Ketua KPK

Dalam perkara ini, Ihsan Yunus pernah diperiksa KPK. Kediamannya pun sempat digeledah meski penyidik tak menemukan bukti. Sementara Herman Hery belum pernah diperiksa dalam kasus bansos ini.

KPK sendiri udah buka suara mengenai tak adanya nama Herman dan Ihsan di dakwaan Juliari. KPK menyebutkan bahwa surat dakwaan sudah disusun berdasarkan pemeriksaan saksi pada tahap penyidikan. Artinya, kalau namanya tidak ada, berarti buktinya belum cukup kuat.

Wih, hilang-menghilang berasa siluman atau gimana nih? Uppps. Padahal, seperti diulas oleh Tempo, perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Herman misalnya, disebut-sebut mendapat kuota pengadaan bansos sebanyak 7,6 juta paket senilai Rp 2,1 triliun. Iyess, Rp 2,1 triliun cuy.  

Hmm, apa emang tradisi “hilang-menghilang” ini udah jadi bagian dari sejarah PDIP ya? Lha, ada tuh kasus Harun Masiku yang sampai sekarang belum jelas masih hidup atau udah mati. Uppps.

Semoga nggak makin parah. Tau-tau nanti malah nama Juliari yang tiba-tiba hilang dari kasus ini. Kan bakal ribut kita nanti. Ah, syudahlah, mungkin kita terlalu banyak nonton series tentang siluman. Uppps. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.