HomeCelotehPDIP Berani Lawan Semua Partai?

PDIP Berani Lawan Semua Partai?

Kecil Besar

Delapan dari sembilan fraksi partai politik (parpol) di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI membuat pernyataan sikap bersama yang menolak usulan sistem pemilihan umum (Pemilu) proporsional tertutup – menjadikan PDIP satu-satunya fraksi yang mendorong sistem tersebut.


PinterPolitik.com

“It’s just us against the world in this life of sin. Ain’t nobody gonna take us out. It’s always us, never them” – SZA, “Just Us” (2019)

Pernah nggak sih kalian ngerasa paling jago ketika teman-teman kalian berada di samping kalian? Apalagi nih, perasaan sok paling jago ini makin menjadi-jadi ketika teman-teman satu “geng” juga merasa paling superior di sekolah.

Nah, terbentuknya komunitas-komunitas “geng” atau circle seperti ini kerap terbentuk di berbagai kesatuan sosial (social units) – entah di sekolah, kampus, hingga lingkungan pekerjaan. “Pokoknya, kelompokku paling keren!” ucap batin kita yang angkuh.

Mungkin, fenomena umum seperti inilah yang dicoba untuk digambarkan oleh produk-produk budaya populer seperti video game yang berjudul Bully (2006). Hmm, kalian yang dulu pernah main game ini di PlayStation (PS) 2 masih ingat nggak?

Nah, di game ini, kita memainkan karakter utama bernama James “Jimmy” Hopkins yang harus mengarungi geng-geng (cliques) di sekolah – mulai dari Jocks, Greasers, Preppies, Bullies, dan Nerds. Geng-geng inipun memiliki dan saling menunjukkan pengaruh mereka di Bullworth Academy.

Di antara kelompok-kelompok ini, ada juga hierarki yang menentukan strata anggota-anggotanya. Kelompok geng yang dianggap paling kuat adalah Jocks yang dipimpin oleh Ted Thompson dan Damon West.

PDIP Against the World

Nah, perebutan pengaruh antar-geng seperti di gim video Bully ini tampaknya juga eksis di berbagai aspek kehidupan nyata, termasuk dalam kancah perpolitikan Indonesia. Boleh jadi, hierarki cliques di Bully ini semacam kepemilikan kursi parlemen antar-partai di DPR RI tuh. Hehe.

Kalau Jocks dianggap yang paling dominan dan berpengaruh, mungkin, di DPR, kelompok yang paling dominan adalah Fraksi PDIP. Gimana nggak? Dari 575 kursi, PDIP menguasai kursi terbanyak sebanyak 128 kursi. 

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon

Hmm, terus apa efeknya kalau PDIP jadi partai yang paling dominan? Nah, mengacu ke penjelasan Matthijs Bogaards dan Françoise Boucek di buku berjudul Dominant Political Parties and Democracy: Concepts, Cases and Comparisons, partai politik (parpol) yang dominan biasanya juga memiliki perilaku yang berfokus pada diri mereka sendiri (self-centered behavior).

Ya, kurang lebih mirip lah ya dengan para jocks – baik di dunia nyata maupun di Bully. Soalnya, kan, selain mereka populer dan paling “dihormati”, mereka biasnya punya sifat self-centered juga lho.

Nggak percaya? Coba lihat aja soal perdebatan terkait usulan sistem pemilihan umum (Pemilu) proporsional tertutup. Ketika delapan dari sembilan fraksi di DPR menolak, PDIP jadi satu-satunya tuh yang paling getol mendukung.

Hmm, apa kita juga perlu nih sosok di Bully semacam Jimmy yang akhirnya bisa menyatukan semua “cliques” alias parpol? Tentu, pertanyaan utamanya bukan itu sih. Pertanyaannya adalah apakah ada sosok seperti itu di demokrasi Indonesia di era Reformasi. (A43)


spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?