HomeCelotehMungkinkah "The Last of Us" di Dunia Nyata?

Mungkinkah “The Last of Us” di Dunia Nyata?

Kecil Besar

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal serial The Last of Us (2023) yang mengambil Jakarta, Indonesia, sebagai setting di mana penyebaran wabah zombie dimulai. Apakah Menkes ikut cemas?


PinterPolitik.com

“…continued disturbances in Jakarta, but are advising US citizens…” – penyiar radio, The Last of Us (2023)

Begitulah cara yang dilakukan para pembuat serial The Last of Us (2023) membocorkan gambaran tentang situasi dunia di episode pertama serial tersebut. Melalui pengumuman berita di radio, penulis cerita seakan-akan memberitahukan bahwa suatu ancaman telah terjadi di negeri nan jauh di sana, yakni di Indonesia.

Se-enggak-nya, gambaran itu yang terlihat jelas ketika Joel Miller bertanya mengenai lokasi Jakarta. Sambil menyantap sarapannya, Joel langsung membayangkan Jakarta sebagai sebuah kota yang berlokasi di Timur Tengah – sebuah kawasan jauh yang kerap digambarkan kontras dengan Barat yang penuh dengan progresivitas.

Namun, tak sampai hitungan lebih dari satu hari, pandemi jamur cordyceps langsung tiba di kotanya di Amerika Serikat (AS). Pemerintahan pun langsung luluh lantak karena pandemi jamur tersebut.

Namun, siapa sangka kalau cerita fiksi yang ada di serial ini bisa mendapat komentar dari Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin. Kata Pak Budi nih, meski ini cerita fiksi, wabah yang paling sulit dikendalikan adalah wabah yang disebabkan oleh patogen jamur (fungus).

Waduh, apakah ini artinya The Last of Us mampu meramalkan kejadian yang bakal terjadi di masa depan? Mungkinkah Jakarta suatu hari nanti bisa menjadi pusat wabah cordyceps yang berangkat dari pabrik tepung?

Tidak ada yang tahu. Yang jelas, cerita fiksi apapun itu kerap didasarkan pada abstraksi atas realitas yang eksis di dunia kita.

Ada Indonesia di the Last of Us Coy

Jangankan The Last of Us, banyak orang menyebutkan serial kartun The Simpsons (1989-sekarang) disebut-sebut bisa meramalkan masa depan. Salah satunya adalah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Ya, para pembuat serial The Simpsons pun sebenarnya tidak benar-benar melakukan itu atas dasar ‘ramalan’, melainkan justru berkaca pada realitas sosial dan politik masyarakat AS kala itu. Bukan nggak mungkin, apa yang dilakukan The Last of Us juga demikian – yakni pada realitas yang ada.

Apalagi nih, kata Neil Druckmann – kreator gim video The Last of Us yang diadaptasikan dalam serial berjudul sama, kisah yang mereka buat sebenarnya terinspirasi dari fenomena yang terjadi di dunia nyata, yakni pandemi influenza pada 1918 – atau lebih dikenal sebagai Flu Spanyol 1918.

Salah satu unsur dari Flu Spanyol 1918 yang menginspirasi The Last of Us adalah bagaimana situasi sosial-politik akhirnya turut terpengaruh. Orang-orang kala itu akhirnya menjadi semakin xenophobik dan saling menutup sama lain antar-komunitas.

K. Schultz dan R. Throop dalam tulisan mereka yang berjudul Popular Culture menjelaskan bahwa budaya populer – layaknya film dan musik – banyak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kehidupan kita sehari-hari – mulai dari keinginan kita, bahasa, identitas, hingga interaksi momen-ke-momen yang kita semua jalani.

Mungkin, menjadi jelas apabila situasi wabah bisa menginspirasi serial, gim, dan film seperti The Last of Us. Boleh jadi, gim dan serial ini turut menggambarkan bagaimana dunia belum siap sama sekali dalam menghadapi pandemi yang lebih berbahaya – misalkan karena patogen jamur.

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus saja membuat dunia kewalahan. Lantas, bagaimana bila suatu saat nanti pandemi cordyceps terjadi? Masuk akal tuh kalau Pak Budi Gunadi menjadi cemas bila seandainya jamur bisa berevolusi di masa depan. (A43)


spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?