HomeCelotehMenyoal Wisata Mistis ala Sandiaga

Menyoal Wisata Mistis ala Sandiaga

Kecil Besar

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno memiliki gagasan untuk mengembangkan konsep wisata mistis atau ghost tourism di Indonesia. Meski sudah diterapkan di beberapa negara, PSI malah melontarkan kritik untuk Sandiaga.


PinterPolitik.com

Siapa yang nggak merinding kalau mendengar kisah-kisah menyeramkan dan berbau mistis? Hampir semua pasti jawab iya. Lhagimana nggak merinding? Kisah-kisah hantu yang menyeramkan terkadang sampai membuat tidak bisa tidur lho.

Ya, meski kisah-kisah seram yang berbau-bau mistis sering membuat merinding, ada banyak lho orang-orang yang suka. Sampai-sampai, nggak sedikit film-film horor yang laku keras lho.

Film-film horor asal Hollywood, Amerika Serikat (AS), misalnya, biasanya berhasil menarik banyak penggemar lho. Film yang berjudul The Conjuring (2013), contohnya, menurut mimin, adalah salah satu film horor yang menarik buat diikuti terus tuh kelanjutan sekuel-sekuelnya.

Nggak hanya film-film horor Hollywood, Indonesia juga punya dong film-film horor berkelas. Salah satunya yang sempat mendunia adalah Pengabdi Setan (2017) karya Joko Anwar. Film satu ini juga sempat menarik perhatian sejumlah festival film internasional.

Tidak berhenti di film, pengalaman-pengalaman horor dan menyeramkan seperti ini biasanya juga dijadikan wahana-wahana di tempat hiburan lhoHayoo, siapa yang nggak berani buat masuk ke rumah hantu? Mimin salah satunya sihHuhu.

Nah, mungkin, gara-gara saking menariknya konsep menyeramkan nan mistis semacam ini, akhirnya Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno punya ide menarik. Kata beliau sih, dengan kumpulan hantu khas Indonesia yang sudah pasti menyeramkan, negara kita punya potensi lho buat mengembangkan wisata mistis atau ghost tourism.

Baca Juga: Jalan Terjal Duet Sandiaga-RK

Wisata Menakutkan ala Sandiaga Uno

Wah, menurut mimin, ini bisa jadi menarik nih. Apalagi, orang-orang Indonesia pasti demen banget lah sama hal-hal yang berbau horor dan mistis. Bukan nggak mungkin, banyak wisatawan dalam negeri yang juga bakal suka tuh.

Kalau nggak percaya, coba lihat aja gimana dunia perkontenan sekarang. Dari Twitter, YouTube, hingga TikTok, pasti ramai dah kalau ngomongin soal cerita dan kisah horor. Bahkan, sejak sebelum media-media sosial (medsos) seperti ini ramai, udah ramai duluan tuh acara televisi yang isinya uji-uji nyali.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi

Tapi nih, sepertinya, ada yang nggak suka kalau banyak warganet menggandrungi konten-konten horor dan mistis semacam ini nih, yakni PSI. Partai yang mengklaim diri mereka sebagai partai anak muda itu malah mengkritik gagasan Bang Sandi dan bilang kalau sekarang ini bukan saat yang tepat untuk mempromosikan hal-hal berbau takhayul (khayalan).

Yaelah, namanya juga hiburan. Khayalan dan imajinasi lah yang digunakan untuk berkreasi. Masa iya masyarakat harus berkhayal terus soal “manfaat baik” kelapa sawit yang malah memberikan banyak mudharat buat masyarakat lokal? Uppss.

Lagipula, nggak hanya masyarakat Indonesia kok yang suka hal-hal berbau mistis. Pemerintah Indonesia sendiri juga suka. Kalau nggak percaya, coba deh tanya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kira-kira, mengapa nih Pak Jokowi kerap reshuffle kabinet pada hari Rabu? Terus, mengapa Pak Presiden nggak dibolehin untuk berkunjung ke Kediri, Jawa Timur (Jatim)? Gimana tuh, Bro dan Sis? Hehe. (A43)

Baca Juga: Sandiaga Siap Goyang Dangdut?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?