Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Menyoal Kedekatan Risma-Mega

Menyoal Kedekatan Risma-Mega


F46 - Friday, September 4, 2020 7:00
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kiri) dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) (kanan) di Kota Surabaya, Jawa Timur. (Foto: L6)

0 min read

“If we exiled our sins, our virtues would get lonely without their old sparring partners” – Henry S. Haskins, penulis asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Gengs, kalian penikmat Hollywood pasti kan? Nah tentu nggak asing dong dengan film yang diperankan oleh Cameron Diaz, Drew Barrymore, Lucy Liu dalam Charlie’s Angels (2003). Kisah film itu benar-benar keren sekali ya, cuy.

Bayangkan saja, tiga perempuan hebat bersatu padu melakukan aksi heroik dalam misi menemukan satu set cincin titanium yang dicuri dari Departemen Kehakiman. Kerennya lagi, sebenarnya ketiga-tiganya tuh memiliki karakter yang berbeda-beda tetapi, entah bagaimana, kepentingan menyukseskan misinya Charlie menjadi penguat ikatan solidaritas mereka.

Bahkan nih, nggak tanggung-tanggung, dalam menghabisi penjahat, mereka kerap kali rebutan diri untuk menjadi umpan pancingan agar si penjahat mudah ditangkap. Solid banget nggak tuh? Memang benar di beberapa situasi tertentu suatu tim harus rela mengambil keputusan sulit agar kepentingan yang lebih besar bisa didapat.

Setidaknya, itu sih poin yang pengen mimin ceritakan ke kalian karena nanti memiliki sangkutan dengan bahasan tulisan ini, yakni tentang duo perempuan Partai berlambang banteng, Tri Rismaharini (Risma) dan Megawati Soekarnoputri.

Memang sih, dibanding dengan Charlie’s Angels, keduanya memiliki perbedaan mencolok. Ya selain jumlah personel, juga misinya berbeda kok. Kalau Cameron Diaz dan kawan-kawan menjalankan misi menangkap penjahat, maka duet Bu Risma dan Bu Mega adalah menangkap peluang politik ke depan.

Hal tersebut tampak sekali dalam keputusan PDIP yang memberikan mandat kepada Eri Cahyadi-Armuji untuk berkompetisi dalam Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Surabaya 2020. Keputusan ini kalau dalam kondisi normal sih nggak wooow banget sebenarnya.

Namun, sebab ada fakta bahwa sebenarnya ada satu kader partai yang juga pengen maju, yakni Whisnu Sakti Buana yang notabene dulunya jadi wakil Bu Risma, maka kesatupaduan Risma-Mega ini layak disoroti, sob.

Kok bisa kompak sih, gengs, buat mendorong Eri-Armuji? Kok nggak Whisnu yang sudah pernah jadi wakil wali kota?

Menurut mimin, kalau dilihat dari karier, agaknya Eri dipilih karena memiliki banyak kesamaan dengan Risma. Dulu kita kan tahu bahwa Bu Risma tuh sebelum jadi Wali Kota juga menjabat sebagai Kepala Bappeko Surabaya.

Nah, Mas Eri ini juga Kepala Bappeko lho sekarang. Jadi, mungkin, Bu Mega menimbang adanya 'keberuntungan yang beruntun' kali ya – atau bahasa umum anak santri ya 'sanad kepemimpinan'.

Waduh, jangan-jangan, untuk menjadi Wali Kota Surabaya kini jalurnya tidak harus masuk menjadi kader dan mulai dari bawah di partai. Apa jangan-jangan Bappeko ini sekarang jalur bagi Wali Kota ya? Hehe.

Lagian sih, kalau dibandingkan dengan Whisnu, Eri ini lebih taat kepada Bu Risma lho. Kalian kan tahu sendiri gimana hubungan Whisnu dengan Risma toh? Tarik ulur mulu seperti layangan yang sedang diadu.

Beda dengan Eri. Bu Risma bilang A, pasti Eri langsung mengiyakan. Sementara itu, kita juga pahamlah bahwa Bu Risma tuh merupakan salah satu anak ideologis yang dicintai Megawati.

Makanya, siapa saja yang berani sama Bu Risma, bisa-bisa nggak dipilih deh – sekalipun Whisnu adalah kader partai sendiri. Karena bagi orang partai, kesuksesan misi dan ketaatan pada pimpinan adalah kunci, meski harus mengorbankan hati kadernya sendiri. Uppss, sakit. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait