HomeCelotehMegawati’s Gambit: dari Risma hingga Gibran

Megawati’s Gambit: dari Risma hingga Gibran

Kecil Besar

“The one thing we know about Elizabeth Harmon is that she loves to win” – Komentator, Queen’s Gambit (2020)


PinterPolitik.com

Bagi yang suka permainan strategi, catur mungkin merupakan salah satu permainan yang tidak asing lagi. Dalam permainan ini, strategi dan taktik pun diperlukan untuk menyiapkan pola ofensif hingga defensif.

Layaknya permainan dan olahraga lainnya, catur juga menjadi permainan yang kerap dilombakan. Coba lihat di kampung-kampung setiap tanggal 17 Agustus. Catur terkadang menjadi cabang perlombaan lho. Biasanya sih, bapak-bapak tuh yang ikut.

Hmm, mungkin nihnggak semua perempuan sepakat kalau dunia catur hanya dapat dikuasai bapak-bapak. Phiona Mutesi yang kisahnya diceritakan dalam film Queen of Katwe (2016), misalnya, merupakan master catur perempuan yang berasal dari Uganda.

Nggak cuma Mutesi, baru-baru ini lagi ramai juga tuh seri yang berjudul Queen’s Gambit (2020) yang mengisahkan perjalanan juara catur perempuan, Beth Harmon. Dalam kisahnya, Beth pun juga harus menghadapi pemain-pemain profesional lainnya – sebagian besar laki-laki – hingga mengalahkan juara catur asal Uni Soviet yang bernama Vasily Borgov.

Bukan nggak mungkin, Beth harus banyak berlatih agar dapat mengalahkan lawannya. Di seri tersebut, Beth ini dikisahkan sering berlatih melalui imajinasi hingga membaca sejumlah buku guna mempelajari manuver, taktik, dan strategi baru. Bila salah langkah sedikit saja, Beth harus memitigasi situasi agar pola permainan dapat menguntungkannya kembali.

Nahgambit ala Beth ini sepertinya tidak hanya terjadi di dunia catur lho. Dalam dunia politik, manuver, taktik, hingga strategi bisa jadi mengambil peran penting agar kepentingan politik yang dimaksud dapat tercapai.

Baca Juga: Kader Inginkan Prananda Ketimbang Puan?

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?
Kompetisi Puan Maharani Prananda Prabowo

Mungkin nihgambit politik seperti inilah yang harus dilalui oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Gimana nggak jadi gambit? Sejumlah langkah Bu Mega dalam Pilkada 2020 – seperti memberikan rekomendasi pada Gibran Rakabuming Raka sebagai Calon Wali Kota (Cawalkot) Solo dan mendukung Eri Cahyadi sebagai calon pilihan Tri Rismaharini (Risma) di Surabaya – merupakan gambit karena menciptakan risiko politik tersendiri.

Pilkada Solo 2020, misalnya, menjadi polemik di kalangan DPC PDIP Solo karena Gibran – putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) – muncul menantang calon lain yang telah berkarier politik di Solo sejak lama. Hal yang mirip juga terjadi di Surabaya ketika Risma mengusung Cawalkot yang berasal dari golongan birokrat, yakni Eri Cahyadi.

Ya, meski banyak drama yang terjadi, pilihan-pilihan Bu Mega ini akhirnya sukses memenangkan Pilkada 2020 lho – meskipun masih berdasarkan pada hasil hitung cepat. Kalau kata mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan di blog pribadinya, Bu Mega ini udah sukses pol lah pokoknya. Hehe.

Tapi nih, selain kemenangan di Solo dan Surabaya, PDIP juga menang telak dalam sejumlah Pilkada di Bali lho. Katanya sih, kemenangan-kemenangan itu berkat tangan dingin putra Megawati, yakni Prananda Prabowo.

Wah, mungkin nih, Bu Mega bisa sukses berkat bantuan Mas Prananda juga nih. Lagipula, meski jarang terlihat di publik dan media, Mas Prananda ini disebut-sebut jadi anak favorit Bu Mega lhoHehe.

Hmm, kalau Mas Prananda adalah anak favorit Bu Mega, gimana nasibnya Mbak Ketua DPR Puan Maharani ya? Padahal, kan, Mbak Puan disebut-sebut bakal diusung untuk Pilpres 2024.

Apakah ini pertanda Mbak Puan mulai pudar pengaruhnya? Apalagi, ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang elektabilitasnya terus meningkat seiring kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Hehe. (A43)

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

Baca Juga: Prabowo Pilih Puan atau Ganjar?

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?