HomeCelotehMegawati-Puan Sayang Korea?

Megawati-Puan Sayang Korea?

Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani tampak berkunjung ke tempat insiden Itaewon di Seoul, Korea Selatan (Korsel). Di sisi lain, Megawati dan Puan juga berfoto bersama Presiden Korsel Yoon Seok-yeol dan Ibu Negara Korsel Kim Keon-hee di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. 


PinterPolitik.com

“Uh! What’s good, Korea?” – Nicki Minaj, “IDOL” (2018) 

Tahu nggak sih kalau saat ini ada tren yang menarik di dunia advertising? Tren itu adalah bagaimana advertising yang sukses perlu menggandeng musisi, artis, dan selebriti asal Republik Korea – atau yang lebih dikenal sebagai Korea Selatan (Korsel).

Sadar atau nggak, berbagai brand dan perusahaan asal Asia Tenggara – termasuk perusahaan-perusahaan Indonesia – banyak menggandeng mereka-mereka dari Korsel untuk dijadikan semacam brand ambassador atau bintang iklan. Tokopedia yang menggandeng BTS, misalnya, terkenal dengan iklan yang berisikan personel-personel BTS yang mengatakan tagline, “Tokopedia saja!”

Nggak berhenti di Tokopedia dengan BTS, perusahaan e-commerce lainnya yang identik dengan warna oranyenya – yakni Shopee – juga menggandeng grup musik lainnya asal Korsel, yakni Blackpink. Hayoo, siapa yang kemarin sampai jual tiket konsernya sampai senilai Rp15 juta hingga Rp25 juta? Ckckck.

Ya, terlepas dari tren di dunia advertising ini, selebriti dan figur publik asal Korsel memang sedang laku-lakunya di pasar global, termasuk di Indonesia. Gimana nggak? Waktu kemarin Oh Se-hun – anggota boyband EXO – menjadi brand ambassador yang diundang di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, misalnya, penggemar langsung memenuhi tempat dan membuat pengelola mal serta pembuat acara melakukan sejumlah perubahan.

Peran para idols sebagai brand ambassadors seperti ini menjadi masuk akal. Renuka Bhat dalam tulisannya yang berjudul K-pop: ‘K’ for Kapital menjelaskan bahwa para idols ini akhirnya dibentuk oleh para penguasa industri hiburan Korsel untuk kemudian dikomodifikasikan. Komodifikasi idols di K-pop ini semakin menjadi-jadi dengan fenomena mengglobalnya produk-produk budaya populer Korea.

Baca juga :  Laksamana Yudo Siap Diuji
Skandal Ibu Negara Korsel

Nah, mungkin nih, taktik-taktik advertising dengan menggandeng figur-figur publik Korsel ini nggak hanya disadari oleh perusahaan-perusahaan start-up, melainkan juga oleh para politisi di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

- Advertisement -

Mbak Puan, misalnya, beberapa waktu lalu mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Pukyong National University (PKNU). Selain menerima gelar tersebut, Puan yang juga mengunjungi lokasi kejadian Tragedi Itaewon yang menewaskan banyak orang pada akhir Oktober kemarin.

Hmm, padahal nih ya, tragedi seperti human stampede ini tidak hanya terjadi di Korsel, melainkan juga Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur (Jatim), pada awal Oktober kemarin. Namun, Bu Mega dan Mbak Puan ditengarai belum mengunjungi Stadion Kanjuruhan.

Nggak hanya soal kejadian dan gelarnya Mbak Puan, Bu Mega ternyata juga sering ke Korsel untuk menerima beberapa penghargaan. Pada Mei 2022 lalu, misalnya, Presiden ke-5 RI tersebut juga menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of Arts.

Hmm, mungkin nih ya, Bu Mega dan Mbak Puan ini sadar dengan taktik dan strategi iklan yang dijalankan oleh Tokopedia, Shopee, dan start-ups lainnya. Ya, mungkin, Mbak Puan dan Bu Mega – biar jalan sekalian strateginya secara luas – juga perlu tuh ngundang musisi-musisi Korsel yang populer buat kampanye-kampanye – misal nih untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024

Siapa tahu nih nantinya para ARMY atau EXO-L malah menjadi pemilih potensial tuh buat partainya Bu Mega dan Mbak Puan, yakni PDIP? Hmm, jadi nih, siapa yang cocok buat jadi brand ambassador-nya PDIP, Bu Mega? Apakah itu BTS, EXO, Blackpink, Twice, Mbak Puan, atau Mas Ganjar Pranowo? Hehe. (A43)

Baca juga :  Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan "Toxic"?

spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

More Stories

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?