HomeCelotehMahfud Ramal Akhir Pemerintahan Jokowi?

Mahfud Ramal Akhir Pemerintahan Jokowi?

Kecil Besar

“Dua jenderal polisi kita gelandang ke pengadilan, jaksa kita cokok, Jokcan kita tangkap, Maria Pauline kita ambil. Empat koruptor Jiwasraya dijatuhi hukuman seumur hidup. Kalau mau cari-cari ya ada saja yang belum tertangkap. Tapi intinya, pemerintah akan runtuh kalau berlaku tak adil, siapa pun”. – Mahfud MD


PinterPolitik.com

Negara gagal atau failed state adalah salah satu terminologi yang umum diberikan kepada negara yang mengalami permasalahan akut yang kemudian berujung pada hilangnya legitimasi dari pemerintahan berdaulat.

Kondisi tersebut bisa ditandai dengan disintegrasi dan ketidakmampuan pemerintah menjalankan fungsi-sungsinya.

Menariknya, Indonesia pernah dicap sebagai failed state loh. Tepatnya terjadi di akhir era pemerintahan Presiden Soeharto di mana krisis politik dan ekonomi saat itu menjadi penanda utamanya.

Intinya, failed state ini bisa dibilang sebagai keruntuhan dari sebuah negara atau dalam konteks yang lebih spesifik keruntuhan pemerintahan. Wih, serem cuy. Lha iya, soalnya kalau failed state terjadi, maka yang dipastikan ada adalah chaos yang tidak terkendali.

(Baca juga: Rizieq dan FPI Bangkitkan Islamofobia? )

Nah, walaupun tidak menyebutkan secara spesifik istilah failed state, hal inilah yang sempat disinggung oleh Menko Polhukam Mahfud MD. Dalam salah satu pernyataannya, Mahfud menyebutkan bahwa sebuah pemerintahan akan runtuh jika berlaku tidak adil.

Ini terkait kasus yang menjerat pentolan FPI, Rizieq Shihab. Banyak yang menyebutkan bahwa penetapannya sebagai tersangka saat 6 laskar FPI juga ditembak mati oleh polisi menjadi wajah dari “kekerasan” yang dilakukan oleh negara.

Namun, Mahfud menyebutkan bahwa hal itu harus dilakukan karena negara atau pemerintah sebagai pemegang otoritas utama harus bersikap adil. Ada koruptor yang menilep duit rakyat, harus dihukum. Ada jaksa yang membantu aksi korupsi, harus dihukum. Ada polisi yang membantu buronan, juga harus dihukum.

Baca juga :  Jebakan Rindu Soeharto?

Demikianpun dalam konteks keadilan hukum terhadap orang-orang yang melanggar protokol kesehatan dan melawan aparat. Semuanya harus dihukum.

Hmm, iya sih. Tapi, yang menarik dari pernyataan Mahfud itu justru adalah seolah-olah doi meramalkan akhir pemerintahan Pak Jokowi sendiri loh.

Lha iya, soalnya beberapa waktu terakhir, pemerintahan Jokowi sendiri yang dituduh berlaku tidak adil. Kasus-kasus pelanggaran HAM terkait agraria misalnya, banyak terjadi di era Jokowi. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat bahwa di era Jokowi ada 41 orang diduga tewas, 546 dianiaya dan 51 orang tertembak terkait konflik ini.

Lalu, dalam konteks kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat, banyak aktivis yang mengalami tekanan, penyadapan dan bahkan upaya pembungkaman. Belum lagi kalau bicara keadilan di bidang yang lainnya.

Intinya, Pak Mahfud udah berasa jadi peramal atau oracle nih. Itu loh oracle alias orang penuh kebijaksanaan di era Yunani Kuno yang dianggap bisa melihat masa depan dan memberikan visi atau wejangan.

Wih, semoga visinya Pak Mahfud tidak terjadi dalam waktu dekat ya. Soalnya ngeri cuy. Uppps. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

Mencari Jejak Cak Imin

“Where'd you go? I miss you so. Seems like it's been forever that you've been gone” – Skylar Grey, penyanyi asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Sebagian besar...

Ma’ruf Amin yang Dirindukan

“I miss you, I miss you” – blink-182, grup band pop-punk asal Amerika Serikat PinterPolitik.com Tahun 2020 baru saja dimulai dengan memasuki awal bulan Januari. Namun,...

Prabowo vs Ma’ruf ‘Panaskan’ Tangsel

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih” – Jenderal Soedirman, Jenderal Revolusi Indonesia PinterPolitik.com Adakah di sini yang nge-fans sama Cristiano Ronaldo...

More Stories

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Komprador Gurita Batu Bara

Pemadaman listrik bergilir kembali menghantui sejumlah wilayah Indonesia. Di baliknya, PLN menghadapi defisit 20 juta ton batu bara yang belum dikontrak dari total kebutuhan 154 juta ton per tahun. Menteri Bahlil sempat membantah, namun tim koordinasi darurat sudah dibentuk — tanda masalah ini lebih serius dari yang diakui.

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...