HomeCelotehMahfud MD Tutup Sebalah Mata?

Mahfud MD Tutup Sebalah Mata?

Kecil Besar

“Kalau terpaksa juga itu misalnya benar terjadi itu (diubah setelah paripurna) kan berarti cacat formal. Kalau cacat formal itu MK bisa batalkan”. – Mahfud MD, Menko Polhukam


PinterPolitik.com

Pasca polemik salah ketik, typo, perbedaan jumlah halaman, dan pasal-pasal yang nggak nyambung satu sama lain yang terjadi pada UU Cipta Kerja, banyak pihak memang melemparkan kritik yang keras kepada pemerintah dan DPR.

Bukannya gimana-gimana ya, UU Cipta Kerja itu adalah sebuah produk hukum yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu, sudah selayaknya proses penyusunannya harus mengedapankan prinsip ketelitian dan kehati-hatian. Itu merupakan hal yang wajib hukumnya ketika pemerintah atau DPR membuat sebuah produk hukum.

Prinsip-prinsip inilah yang sepertinya tidak diperhatikan dalam proses penyusunan dan pengesahan UU Cipta Kerja.

Nah, hal ini dilihat oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD sebagai hal yang serius. Doi juga menyebutkan bahwa pemerintah akan meminta klarifikasi DPR sehubungan dengan masih ditemukannya kekeliruan teknis berupa salah ketik atau typo dalam penulisan UU tersebut.

Hmm, sebenarnya yang bikin heran itu bukan soal typo-typo saja, tapi soal pasal yang nggak saling nyambung, misalnya pasal 5 dan 6. Di pasal 6 UU Cipta Kerja disebutkan bahwa ketentuan di pasal tersebut merujuk pada bagian dari pasal 5. Nyatanya, tidak ada bagian yang dimaksudkan itu di pasal 5. Berasa horor kan? Hehehe.

Kan masyarakat jadi menduga-duga, apa presiden nggak baca-baca lagi itu Undang-Undang sebelum disahkan? Atau jangan-jangan naskahnya cuma nganggur di meja makan? Uppps. Itu kata follower Instagram PinterPolitik loh ya. Hehehe.

Sebenarnya hal yang juga harus disoroti adalah peran dari Pak Mahfud MD sih. Soalnya yang kayak ginian tuh harusnya Pak Mahfud yang paling paham. Doi kan profesor ilmu hukum dan pernah pula jadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Jadi harusnya khatam dengan hal-hal yang beginian.

Baca juga :  Reinkarnasi Ahmad Sahroni?

Semoga beneran seperti kata Pak Mahfud, bahwa ia melihat persoalan ini secara serius. Soalnya yang publik lihat kan Pak Mahfud jadi kayak menutup sebelah mata. Jiahhh, seperti lagunya band Dewa 19 yang bunyinya: “Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan”. Eaaa eaa. Hehehe. Tapi yang ini bertepuk sebelah mata. Uppps.

Yang jelas, publik menunggu ekspertisnya Pak Mahfud dalam persoalan ini. Kalau memang UU Cipta Kerja ini salah secara aturan pembuatannya, maka Pak Mahfud harus mengatakannya dengan lebih lugas. Biar nggak dicap menutup sebelah mata. Uppps. (S13)


Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengapa Deklarasi Anies 10 November Batal?

“Kita saling menghargai semuanya sehingga harapan itu belum bisa terpenuhi besok karena partai itu kan punya mekanisme sendiri-sendiri yang harus dibicarakan bersama-sama” – Ahmad Ali,...

Melirik Romantisme TGB-Somad

Netizen mendukung Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) TGB Dr. Zainul Majdi dan Ustadz Abdul Somad untuk maju sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2019. PinterPolitik.com Gubernur Nusa...

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Dengan Fredrich?

Setelah ditangkap KPK atas tuduhan menghalangan penyidikan, Fredrich Yunadi ternyata belum kapok. Ia berkoar sana sini, bahkan sampai mengajak boikot KPK segala. Ada apa...

Keluarga Fahri ‘Terlatih’?

“Dengan modal keberanian dan teror saja, tak banyak yang bisa dicapai dalam kehidupan modern begini.” ~ Pramoedya Ananta Toer PinterPolitik.com Sempat disebut sebagai politikus independen, Wakil...

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.