HomeCelotehListyo Edo Tensei Mantan Kapolri?

Listyo Edo Tensei Mantan Kapolri?

Kecil Besar

“Kami para purnawirawan Polri ini terpanggil tentu dengan situasi yang kita sama-sama prihatin adanya berbagai peristiwa” – Jenderal (Purn) Tan Sri Da’i Bachtiar, Mantan Kapolri


PinterPolitik.com

Siapa sih yang nggak kenal anime Naruto? Naruto Uzumaki merupakan seorang ninja (shinobi) dari Desa Konoha yang mempunyai mimpi besar untuk menjadi hokage (kepala Desa Konoha) dengan sekelumit rintangan dan tantangan yang dihadapinya.

Dalam perjalanannya, Naruto dihadapkan dengan tantangan untuk memahami berbagai teknik ninja yang disebut jutsu sebagai bekal untuk mengalahkan para musuhnya.

Nah, ada satu jutsu yang mencuri perhatian dalam kisah Naruto ini. Jutsu tersebut adalah edo tensei, sebuah jutsu yang mampu menghidupkan kembali ninja yang telah meninggal. Meski hidup sementara, para ninja ini mempunyai seluruh kemampuan ninjanya sebagaimana mereka hidup dahulu.

Terdapat beberapa ninja yang pernah menggunakan jutsu ini. Mungkin, sosok yang banyak dikenal adalah Orochimaru karena pernah menghidupkan beberapa hokage.

Namun, di ending anime ini, ada tokoh lain yang mampu menghidupkan semua pemimpin desa ninja, termasuk Konoha. Orang itu adalah Hagoromo Otsutsuki yang dikenal sebagai Rikudou Sennin.

Pada komik Naruto Chapter 690, Hagoromo menggunakan jutsu turunan edo tensei yang disebut Teknik Gedo. Ia memanggil para kage terdahulu untuk menyelesaikan tugas terakhirnya menyelesaikan persoalan dunia ninja.

Hmm, meski edo tensei Teknik Gedo merupakan imajinasi Masashi Kishimoto penulis kisah Naruto, hal ini juga terejawantahkan loh dalam kehidupan nyata.

image 16
Listyo: Kapolri Assemble!

Mungkin, ini mirip peristiwa datangnya tujuh purnawirawan mantan Kapolri menemui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk membahas kondisi Korps Bhayangkara – seolah mengingatkan kita dengan kisah Naruto di atas.

Bayangkan, tidak  tanggung-tanggung Listyo mampu menggunakan Teknik Gedo untuk menghadirkan tujuh mantan Kapolri. Tentu, kedatangan mereka di Gedung Rupatama Mabes Polri itu mendapat banyak atensi.

Mereka yang datang untuk bertemu Listyo adalah Jenderal (Purn) Bambang Hendarso Danuri, Jenderal (Purn) Roesmanhadi, Jenderal (Purn) Chaerudin Ismail, dan Jenderal (Purn) Tan Sri Dai Bachtiar.

Tidak luput juga, terlihat ada Jenderal (Purn) Sutanto, Jenderal (Purn) Timur Pradopo, dan Jenderal (Purn) Badrodin Haiti. 

Menurut berbagai pemberitaan, para mantan Kapolri itu merasa terpanggil untuk datang ke tempat mereka pernah berdinas dulu. Mereka prihatin dengan kondisi Polri saat ini.

Seperti yang diketahui banyak pihak, Polri menghadapi rentetan peristiwa yang dianggap mengecewakan oleh masyarakat dalam beberapa waktu terakhir – mulai dari kasus Ferdy Sambo hingga Tragedi Kanjuruhan pada awal Oktober lalu

Anyway, mungkin, kehadiran para mantan Kapolri ini bisa juga dianggap sebagai bagian dari strategi Kapolri Listyo untuk membenahi institusinya. Secara simbolik, Listyo ingin memperlihatkan kalau para pendahulu masih ada untuk membantu institusi ini. 

Dalam konteks manajemen organisasi, strategi ini bisa disebut sebagai upaya untuk memperbaiki persoalan organisasi melalui pendekatan kultural. Secara umum, organisasi mempunyai empat kategori secara manajemen – yakni internal, eksternal, struktural, dan kultural.

Masalah yang menimpa Polri selama ini selalu terkait dengan persoalan internal. Untuk itu, selain pendekatan struktural dalam bentuk penataan ulang aturan untuk anggota Polri, perlu adanya pendekatan kultural karena pendekatan ini menurut doktrin manajemen dianggap perekat sebuah lembaga atau organisasi.

Well, kita akhirnya menunggu apakah kehadiran para mantan Kapolri ini mampu memberikan dampak psikologis karena merupakan bagian dari pendekatan kultural. Mungkin, butuh waktu untuk melihat itu.

Semoga Listyo hanya menggunakan “edo tensei” kepada tujuh mantan Kapolri. Takutnya, jutsu-nya malah lebih moncer lagi kalau seandainya dapat memanggil Alm. Jenderal Pol. Hoegeng. Bisa-bisa, polisi bisa langsung suuuaangggaaat dicintai rakyat. Hehehe. (I76)


Hoegeng Rela Makan Nasi & Garam
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Esemka, Mobil Dinas Baru Jokowi?

“Karakter bukan diajarkan lewat teori dan wejangan. Karakter diajarkan pakai teladan, dengan contoh nyata”. – Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta PinterPolitik.com Ada waktu untuk tertawa, ada...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...