HomeCelotehKSP Seperti Doktor Strange

KSP Seperti Doktor Strange

Kecil Besar

“Memang ada buzzer-buzzer swasta, partikelir, yang bekerja sendiri.” – Donny Gahral Adian, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden


PinterPolitik.com

Isu tentang buzzer dan influencer memang beberapa waktu terakhir menjadi perdebatan menarik di masyarakat. Buzzer misalnya, selalu menjadi tajuk benturan utama yang terjadi di media sosial, utamanya antara kubu yang suka mengkritik pemerintah melawan kubu yang pro pemerintah.

Pemerintah sendiri sangat sering dituduh menggunakan strategi buzzer ini lewat akun-akun tertentu – kadang kala juga akun anonim – untuk memainkan opini dan narasi politik yang beredar di masyarakat. Manajemen isu lah istilahnya.

Sementara influencer lebih mengarah orang riil – entah itu figur publik maupun sosok-sosok yang dianggap punya pengikut banyak – yang bisa “memainkan” opini tertentu di media sosial dan mengubah persepsi atau pandangan banyak orang terkait hal tertentu.

Belakangan strategi influencer ini digunakan untuk meredam isu tertentu, mengajak masyarakat untuk melakukan hal tertentu, dan lain sebagainya. Soal influencer ini dikritik oleh banyak pihak beberapa waktu terakhir karena pemerintah disebut menghabiskan dana hingga Rp 90 miliar untuk membayar orang-orang tersebut. Jumlah uang yang tidak sedikit tentunya.

Bahkan, saking seringnya buzzer dan influencer itu dipakai, banyak yang menyebutkan bahwa persoalan-persoalan pemerintah tak akan bisa selesai tanpa dua faktor ini. Wih, sangar cuy.

Tapi, terkait buzzer, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) dalam salah satu pernyataan terbarunya justru menuduh pihak-pihak tertentu – utamanya dari kelompok swasta – yang disebut memainkan isu buzzer ini. Kelompok ini memainkan isu tertentu – entah yang menyerang pemerintah ataupun pihak-pihak tertentu – untuk bayaran tertentu pula yang dijanjikan. Bisa dibilang bisnis lah.

Baca juga :  Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Sekalipun memang pernyataan ini bisa dipahami maknanya, namun ini sekaligus juga menunjukkan bahwa pemerintah sebetulnya punya kemampuan untuk mendeteksi atau mengetahui para buzzer ini. Kalau nggak tahu, nggak mungkin dong KSP sampai ngomong seperti itu.

Pemerintah emang sudah pasti memiliki alat atau tools canggih yang bisa digunakan untuk melakukan hal ini. Wong untuk menyadap aja pemerintah punya alat yang namanya Pegasus kok, apalagi untuk sekedar mendeteksi buzzer.

Makanya, pemerintah dan khususnya KSP ini udah bertindak layaknya Doctor Strange dari seri superhero Marvel. Doi kan punya kemampuan kayak cenayang yang bisa melihat banyak hal, bisa melihat masa depan, dan lain sebagainya. Sangat mungkin dengan kemampuannya, doi juga bisa tahu buzzer siapa yang menyerang dirinya. Uppps.

Intinya, persoalan buzzer dan influencer ini sudah selayaknya menjadi kritik tersendiri bagi pemerintah. Bukan hanya dari konteks ujung penyelesaian persoalannya, tetapi juga dari sisi apakah layak uang negara dalam jumlah besar dihabiskan pada saat kondisi sulit seperti ini untuk buzzer dan influencer? Menarik untuk ditunggu jawabannya. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.