HomeCelotehJokowi Telah Rendahkan Prabowo?

Jokowi Telah Rendahkan Prabowo?

Kecil Besar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 merupakan jatah Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto. Apakah benar ini bentuk dukungan Jokowi kepada Prabowo di Pilpres 2024? Atau justru itu merupakan pernyataan satir Jokowi kepada Prabowo?


PinterPolitik.com

“And, just like every single other thing in my life, you can have her when I’m finished” – Drake, “6 God” (2014)

Kata-kata, frasa-frasa, hingga kalimat-kalimat yang tersusun hingga bait ke bait merupakan tumpukan makna yang membentuk kesatuan makna. Bahkan, permainan sajak dan rima dalam puisi turut membangun makna yang ingin disampaikan oleh penulisnya kepada pembaca dan pendengarnya.

Namun, siapa sangka kalau ternyata teknik penulisan yang begitu rumit dalam bait yang penuh kata-kata ini juga terkandung dalam banyak bentuk budaya populer lainnya – selain puisi itu sendiri? Kalau kita perhatikan nih, lirik-lirik lagu juga memiliki unsur-unsur ini.

Nggak jarang, penulis lagu yang cerdas akan membuat lirik-lirik yang maknanya bisa membuat pendengarnya berpikir ulang soal pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Nah, permainan lirik yang lihai dan rumit seperti ini bisa juga kita temukan di lirik-lirik rap lho.

Eminem yang terkenal dengan lagunya “Rap God” (2013), misalnya, terkenal cerdas dalam memainkan pemilihan kata (wordplay) dan rima (rhymes). Alhasil, lirik-liriknya pun mengandung makna-makna yang bisa dibilang nonjok buat para pendengarnya.

Nggak hanya Eminem, ada juga rapper (penyanyi rap) lain yang terkenal dengan permainan liriknya yang dianggap bisa menciptakan banyak makna dalam satu kalimat, yakni Jay-Z. Rapper yang dikenal dengan nama Hov atau Jigga itu terkenal dengan tekniknya yang disebut sebagai double entendre (dwi-makna), bahkan hingga triple entendre (tri-makna).

Baca juga :  Komprador Gurita Batu Bara

Nah, mungkin nih, teknik seperti ini juga digunakan nih oleh para politisi dalam permainan kata mereka ketika beretorika. Bukan rahasia lagi bahwa para politisi juga menggunakan permainan kata yang mumpuni untuk menciptakan efek tertentu kepada audiens mereka.

Benarkah Jokowi Dukung Prabowo

Mungkin, ini bisa dipahami sebagai sebuah speech act – ungkapan atau pernyataan yang ditujukan untuk membuat pihak lainnya melakukan apa yang diinginkan oleh pemberi pernyataan. Jadi, secara nggak langsung, mengacu ke speech act theory dari J.L. Austin, speech act merupakan pernyataan yang memiliki makna yang diinginkan meskipun makna literal-nya tidak terkandung dalam kalimat yang diucapkan.

Boleh jadi, speech act ini baru aja dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Partai Perindo. Di acara tersebut, Jokowi bilang ke audiens – yang mana di dalamnya juga ada Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto – kalau Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 adalah jatahnya Pak Prabowo.

Hal yang menarik adalah Pak Jokowi tidak langsung bilang demikian, melainkan menjelaskan bagaimana pengalamannya dalam menjalani karier politiknya. Pak Jokowi bilang kalau dirinya sudah menjabat banyak posisi – bahkan memenangkan Pilpres sebanyak dua kali, yakni pada 2014 dan 2019.

Padahal nih ya, di dua Pilpres tersebut, lawan Jokowi adalah Pak Prabowo. Hmm, berarti, secara nggak langsung, Pak Jokowi merendahkan Pak Prabowo dong? Kayak, “Saya udah ngalahin Anda dua kali. Sekarang, monggo giliran Anda.”

Hmm, kalau emang benar demikian, Pak Jokowi ini udah semacam bikin double entendre kali ya? Apakah Pak Jokowi ini bakal ganti nama ya jadi The Big Jok ala rappers gitu? Hehe.

Ya, since Pak Jokowi ini ucapan dukungannya di Pilpres 2024 sangat ditunggu-tunggu banyak pihak, mungkin beliau memang jadi The Big Jok yang perlu dihormati oleh para “pemain” lainnya. Boleh jadi, ini jadi cara Jokowi untuk bilang, “Akulah the OG!”

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Bila benar demikian, pernyataan Jokowi soal Pilpres 2024 adalah jatah Prabowo merupakan bukti bahwa sang presiden tetap memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik elektoral ke depan. Bahkan, who knows kalau ternyata Pak Jokowi bisa menentukan calon presiden (capres) siapa yang bisa melanjutkan legacy-nya di 2024? (A43)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

Dokter: Goodbye Jokowi?

“Seorang dokter menyembuhkan, dan alam yang menciptakan kesehatan.” Aristoteles PinterPolitik.com BPJS… Oh BPJS… Karena kehadiranmu ku tak perlu khawatir lagi jika tiba-tiba jatuh sakit. Iuran tidak...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?