HomeCelotehJokowi-Luhut ‘Mirip’ Majapahit?

Jokowi-Luhut ‘Mirip’ Majapahit?

Kecil Besar

“Beri mereka perintah dan penuhi kebutuhan mereka. Dengan demikian Anda meningkatkan kekuatan intelijen Anda dua kali lipat” – Sun Tzu, Jenderal asal Tiongkok


PinterPolitik.com

Gimana menurut kalian hubungan antara Pak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Ya, memang kali ini sebelum fokus pada Luhut-Jokowi relationshipmimin mau cerita sedikit tentang goal relationship antara Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Jelas kalian semua tahu duet maut kerajaan Majapahit itu kan? Sebagai yang lebih dulu mengarungi haru biru pemerintahan Majapahit, Gajah Mada yang sudah mengabdi pada Ratu Tribhuana Tunggadewi – ibunya Hayam Wuruk – kelihatan lebih powerful.

Makanya, nggak heran kalau cerita-cerita tentang Majapahit selalu menempatkan Gajah Mada sebagai aktor yang kedigdayaannya melampaui raja. Sampai sekarang toh begitu kan.

Jadi, benang merahnya ialah segi pengalaman merupakan faktor utama di balik kemonceran ‘pengaruh’ seseorang. Meski demikian, bukan berarti Hayam Wuruk nggak keren. Sebagai raja, tentu ia mewarisi dan memiliki banyak kharisma.

Hanya saja raja zaman dahulu kan karakternya memang begitu: memberi titah dari kursi empuknya. Sementara, babagan eksekusi lapangan, jelas anak buah saja. Demikianlah, semua memang sudah ada porsinya.

Dari kisah demikian, kayaknya kita akan lebih mudah membaca relasi Presiden Jokowi dengan Menko Marvest Luhut Binsar Pandjaitan. Secara nama, Pak Luhut mirip seperti Gajah Mada yang menang telak dibanding penguasanya sebab faktor pengalaman atau ‘lebih lama’ memasuki gelanggang pemerintahan dan perpolitikan.

Sementara, Pak Jokowi ya selayaknya Raja Hayam Wuruk – yang harus menjaga marwah dan kharisma lewat kewenangannya – memberi perintah dari kursi kekuasaannya. Nggak perlu repot-repot turun langsung selama masih ada mahapatih.

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Pendapat mimin demikian bisa kalian temui dalam pemberitaan yang baru-baru ini meramaikan lini masa, yaitu Presiden Jokowi yang memerintahkan Pak Luhut untuk segera melakukan tindakan taktis supaya dapat mengatasi kebandelan biang kerok Covid-19 di sembilan provinsi rawan meliputi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Bali, Sumatera Utara, dan Papua.

Pertanyaannya, kenapa kok harus Pak Luhut? Kok nggak menteri yang lain? Usut punya usut, Pak Luhut ini dikenal sangat lihai menghadapi banyak kasus. Mungkin, Pak Jokowi berpikir bahwa kesuksesan Pak Luhut tersebut bisa juga dilanjutkan dalam penanganan kasus Covid-19 ini.

Selain itu, memang ada yang lebih kuat dari Pak Luhut? Hehe. Saking besar pengaruh yang dimilikinya, sampai-sampai para netizen pernah menyebut Pak Luhut lebih berkuasa (secara informal) daripada presiden, cuy.

Netizen menahbiskannya sebagai ‘Lord Luhut’. Ada-ada aja ya netizen negara ber-flower nih.

Nah, mungkin hanya Pak Luhut yang bisa membuat bulu kuduk warga merinding sehingga harapannya semua pihak akan patuh tanpa membantah. Cerdas juga nih Pak Jokowi menunjukkan kelasnya sebagai raja. Hehe. (F46)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...