HomeCelotehJokowi Lawan Musuh dalam Selimut?

Jokowi Lawan Musuh dalam Selimut?

Kecil Besar

“Mereka pengacau karena ingin merusak tatanan demokrasi dengan berusaha menjatuhkan pemerintahan sah hasil Pemilu demokratis”. – Boni Hargens, Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia


PinterPolitik.com

Presiden Jokowi memang jadi sosok paling pusing di Indonesia saat ini. Kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya di negara ini. Saat ini jumlah total kasus positif virus yang pertama kali muncul di Wuhan tersebut sudah menyentuh angka 32.033 dengan 1.883 kematian.

Di saat yang sama, ekonomi mandeg, banyak yang kehilangan pekerjaan, dan tingkat kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah pun menurun. Yang terakhir itu adalah hasil survei dari Indikator Politik Indonesia ya, walaupun penurunan tingkat kepuasan itu hanya 3 persen.

Kini, tambah lagi pusingnya Pakde Jokowi setelah isu kudeta berhembus di mana-mana. Sebelumnya publik memang dihebohkan oleh pernyataan Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens, yang menyebutkan bahwa dirinya mengantongi nama-nama orang yang merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Jokowi.

Wih, ngeri kali kata-katanya Bang Boni. Mereka ini, menurut Bang Boni, melakukan propaganda dengan menggunakan isu seperti komunisme dan rasisme di Papua, menyusul apa yang terjadi di Amerika Serikat (AS) pasca meninggalnya George Floyd.

Mereka ini menurut Boni adalah gabungan kelompok politik yang ingin memenangkan Pilpres 2024, lalu ada kelompok “pebisnis hitam” yang menderita kerugian karena kebijakan pemerintahan Jokowi, ormas keagamaan terlarang, dan barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang.

Bahkan doi juga menyinggung bahwa kelompok-kelompok ini mulai kembali “menyundul” Pancasila sebagai ideologi negara.

Beh, ngeri kali analisisnya bang Boni ini. Makanya, habis ngomong begitu, doi diminta untuk membuka siapa aja sih namanya yang dituduh itu secara spesifik. Bukannya gimana-gimana ya, daripada jadi fitnah kan kalau menuduh tanpa bisa membuktikan. Apalagi, soal kudeta itu serius banget loh.

Nah, dari pernyataan Boni itu, banyak pihak kemudian menyimpulkan bahwa yang mungkin mengkudeta Jokowi adalah dari oposisi alias kelompok yang dirugikan oleh kebijakan sang presiden.

Namun, beberapa pihak justru malah menduga bahwa yang besar kemungkinan melakukan kudeta adalah pihak-pihak dari dalam pemerintah sendiri.

Wih, jadi tambah dahsyat kan bumbu-bumbu narasinya. Uppps. Jadi terlihat kayak Pak Jokowi sedang melawan musuh dalam selimut. Iya sih, dalam politik emang kawan dan lawan nggak ada yang abadi. Jadi wajarlah kalau itu terjadi.

Tapi, emangnya bener nggak sih tuduhan yang dibilang oleh Boni tersebut? Atau jangan-jangan ini hanya sekedar wacana yang dilempar untuk menarik simpati publik pada pemerintah?

Supaya apa, ya supaya masyarakat tidak bergejolak dan jadi bersimpati gitu kan sama pemerintah yang memang tengah didera oleh banyak kesulitan. Apalagi Bang Boni kan salah satu pendukung pemerintah.

Tujuannya jelas biar nggak timbul kekacauan. Soalnya, isu kudeta itu sering kali dilemparkan ke hadapan publik sebagai mainan elite aja agar gejolak yang lebih besar tidak timbul.

Ini memang hanya asumsi ya. Tapi, bisa jadi titik poin bagi masyarakat untuk melihat berbagai fenomena yang muncul dari sudut yang berbeda.

Bisa jadi Bang Boni emang benar bahwa ada yang ingin melakukan kudeta terhadap Pakde Jokowi. Tapi, mungkin juga dong bahwa isu ini hanya sekedar untuk menarik simpati dan menenangkan gejolak sosial.

Menarik untuk ditunggu sih kelanjutan isu ini. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.