HomeCelotehJokowi dan Setelah Sekian Wacana

Jokowi dan Setelah Sekian Wacana

Kecil Besar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengadakan sebuah reuni kecil dan bertemu dengan teman-teman semasa kuliahnya di kawasan Ambarukmo, Sleman, DI Yogyakarta. Apakah ini sebuah reuni yang biasa terjadi setelah sekian wacana? Ataukah ini sebuah reuni yang spesial?


PinterPolitik.com

Siapa sih yang nggak rindu dan kangen dengan masa-masa saat masih sekolah atau kuliah dulu? Hampir semua dari kita yang kini sudah masuk ke generasi jompo pasti merindukan masa-masa yang lebih sederhana dulu.

Gimana nggak? Dulu, kita bisa lebih muda bertemu dengan teman-teman. Masa sekolah dan kuliah juga merupakan waktu yang tampaknya lebih sering kita habiskan bersama teman-teman kita.

Kehidupan kampus secara khusus, misalnya, menjadi wadah yang lebih luas di mana kita bisa membangun kapasitas diri yang sejalan dengan tujuan hidup kita. Ada beberapa dari kita yang akhirnya menjadi aktivis. Ada juga yang menempuh jalur untuk menjadi akademisi. Dan, ada juga yang akhirnya menempuh jalur karier – baik di pemerintahan atau swasta.

Namun, terlepas apa pun pilihan yang diambil, semua itu bisa ditanggalkan ketika semua kembali berkumpul mengenang masa lalu – mulai dari drama-drama kecil antara senior dan junior hingga kisah percintaan yang tidak jarang melibatkan banyak teman lainnya.

Memang sih, urusan “ditanggalkan” menjadi mudah bila pernah punya memori kecil bersama. Namun, tetap saja, semua menjadi susah ketika sudah sibuk masing-masing. Sederhananya, mudah untuk ditanggalkan ketika bertemu tetapi sulit untuk di-tanggal-kan guna bertemu.

Hmm, coba bayangkan aja. Meski hati sudah rindu untuk bertemu, jadwal masing-masing kerap susah untuk dipertemukan. Alhasil, koar-koar untuk reuni biasanya hanya menjadi wacana dan angin lalu saja.

Akhirnya Jokowi Reuni Ijazah Kuliah UGM Juga

Tapi, pernah nggak sih kalian tiba-tiba bertemu dengan teman lama tanpa direncanakan dari jauh-jauh hari? Kayak, rencana yang biasanya sudah lama dibuat malah gagal terlaksana. Justru, rencana yang dibuat mendadak alias last minutes malah terwujud beneran.

Nah, mungkin nih, kasus yang sama terjadi pada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan teman-teman semasa kuliahnya di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebagai presiden, sudah pasti jadwal Pak Jokowi sangat padat. Jelas, untuk menyamakan jadwal, kompleksitas untuk bisa bertemu makin menjadi-jadi tuh

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Namun, siapa sangka kalau ternyata Pak Jokowi akhirnya bisa bertemu dengan mereka pada Minggu, 16 Oktober 2022 kemarin di kawasan Ambarukmo, Sleman, DI Yogyakarta – ya meskipun Pak Jokowi hanya bisa hadir sebentar. Langsung dah, sesi foto bersama akhirnya di-upload di akun Instagram.

Eits, tapi nih, layaknya reuni pada umumnya, apakah ini semacam rencana mendadak yang akhirnya terwujud – dibandingkan dengan rencana yang sudah lama tapi malah gagal? Ataukah ada semacam alasan mendadak di baliknya? Hmm.

Ya, kita sih nggak tahu secara pasti ya – wong kita bukan teman-teman kuliahnya Pak Jokowi. Namun, akhir-akhir ini, ramai tuh isu soal gugatan atas ijazah palsu Pak Jokowi yang dilayangkan oleh Bambang Tri Mulyono di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus).

Terlepas dari kemungkinan keterkaitan di reuni tersebut, bukan nggak mungkin sih kalau isu gugatan itu menimbulkan diskursus di masyarakat. Mengacu pada tulisan The Aspen Institute yang berjudul Questions of Legitimacy, pertanyaan-pertanyaan ini bisa berujung pada keraguan atas legitimasi pemimpin.

Padahal, kunci utama dari sebuah pemerintahan adalah legitimasi karena, dari legitimasi itulah, timbul kredibilitas dan kepercayaan masyarakat pada pemerintahnya. Bukan begitu, guys? (A43)


spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?