HomeCelotehInikah Perjuangan Airlangga Cari Pasangan?

Inikah Perjuangan Airlangga Cari Pasangan?

Kecil Besar

Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartarto beberapa kali menemui sejumlah pimpinan partai-partai politik lain, termasuk Presiden PKS Ahmad Syaikhu. Apakah ini merupakan perjuangan Airlangga untuk mencari pasangan calon wakil presiden (cawapres) untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang?


PinterPolitik.com

Kehidupan di dunia yang fana ini memang dipenuhi dengan berbagai misteri. Namun, ada satu misteri yang kerap dicari-cari oleh setiap orang. Misteri satu ini adalah jodoh.

Terkadang, ketika kita jomblo, sering kali perasaan sedih dan galau menghantui kesendirian di setiap malam tuh. Rasanya sulit sekali menemukan si doi yang bisa kita panggil sebagai pasangan – atau bahkan jodoh.

Namun, berkat teknologi internet yang serba cepat, kini mencari jodoh pun bisa dibilang turut dipermudah tuh. Caranya bisa dilakukan dengan membuat akun di berbagai aplikasi jodoh (dating appstuh, mulai dari Tinder hingga Bumble.

Dengan memasang sejumlah foto dan menyertakan biografi diri, aplikasi-aplikasi jodoh seperti ini langsung tuh meluncurkan profil dirimu kepada mereka-mereka yang berpotensi untuk menjadi pasangan atau jodohmu tuh. Bahkan, kita pun bisa langsung tinggal memainkan jari jempol kita dengan menggeser ke kanan (suka) atau ke kiri (tidak suka).  

Nah, mungkin nih, upaya mencari jodoh ala dating apps seperti ini tampaknya tidak hanya dilakukan oleh para muda-mudi yang mencari cinta, melainkan juga para politisi. Pasalnya nih, dengar-dengar, Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar Airlangga Hartanto lagi rajin-rajinnya bertemu dengan pimpinan partai-partai politik lain nih.

Baca Juga: Di Balik Push Rank Airlangga

Ketika Airlangga Jamu PKS

Yang terbaru nih, ada PKS yang bertandang ke Kantor DPP Partai Golkar. Dalam kunjungan tersebut, Pak Airlangga pun membahas banyak hal bersama Presiden PKS Ahmad Syaikhu. Menariknya nih, mereka juga berbicara soal regenerasi kepemimpinan nasional lho.

Apalagi, sudah banyak unsur Golkar yang yakin untuk mendukung Pak Airlangga untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tuhWah, apa mungkin Pak Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian tersebut juga tengah menjaring siapa-siapa saja yang berpotensi untuk menjadi calon wakil presidennya (cawapres) ya?

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Apalagi nih, selain bertemu dengan PKS, Pak Airlangga juga diberi usulan oleh sejumlah unsur Golkar untuk menggandeng Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa untuk dijadikan cawapres tuh. Padahal, sebelumnya, juga muncul tuh wacana agar Pak Ketum Golkar ini juga mempertimbangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan lho.

Hmm, mungkin, seperti tengah berseluncur di Tinder dan Bumble, Pak Airlangga ini tengah mencari-cari siapa nih yang match (cocok) dengan dirinya untuk dijadikan pasangan maju di tahun 2024 nanti. Ya, barang kali, kalau udah match kan bisa jodoh nanti untuk mengarungi pesta demokrasi nanti. Hehe.

Tapimimin yang berpengalaman mengarungi aplikasi-aplikasi jodoh tersebut ingin memberi nasihat ke Pak Airlangga nih. Buat bisa match sih hitungannya nggak terlalu susah. Yang susah itu kalau udah di-ghosting nih, Pak Airlangga. Hati-hati tuh, Pak.

Ya, semoga aja Pak Airlangga nggak gampang kena ghosting oleh para calon cawapresnya ya, Pak. Soalnya nih, masih banyak tuh calon presiden (capres) yang potensial di luar sana yang lebih “seksi” (baca: populer) di hasil-hasil survei tuhWaduhgimana tuh, Pak Airlangga? Hehe. (A43)

Baca Juga: Ada Siasat Airlangga-Anies 2024?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?