HomeCelotehGibran, ‘Anak Emas’ Megawati?

Gibran, ‘Anak Emas’ Megawati?

Kecil Besar

“I read passages, I read areas, chapters. I don’t have the time” – Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

Akhir-akhir ini, mungkin banyak politisi mulai beralih menjadi bookstagram – sebuah istilah yang kerap digunakan untuk menyebut akun para influencer yang bergerak di bidang kegemaran membaca. Gimana nggak? Banyak dari mereka kini mulai mengunggah foto-foto diri sembari membaca sebuah buku.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, misalnya, mengunggah foto dirinya sambil membaca  sebuah buku yang berjudul How Democracies Die. Tidak hanya Pak Anies, Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon turut mengunggah foto dirinya yang terlihat membaca sebuah buku karya Mohammad Hatta yang berjudul Demokrasi Kita.

Tren membaca buku di kalangan politisi ini tidak hanya berhenti di situ, melainkan juga merembet ke sejumlah pemimpin lembaga negara. Salah satunya adalah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri. Mantan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Selatan tersebut mengklaim dirinya sudah membaca buku Why Nations Fail sejak tahun 2002 – meskipun buku tersebut baru terbit pada tahun 2012.

Nggak mau kalah dengan para politisi dan pejabat tersebut, Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri pun akhirnya bicara mengenai buku. Alih-alih mengunggah sebuah foto, presiden kelima Indonesia tersebut menyebutkan bahwa ayahnya – Soekarno – juga hobi membaca buku.

Saking hobinya tuh, Bu Mega mengklaim bahwa presiden pertama Indonesia tersebut menata buku-bukunya dengan sangat rapi. Ketum PDIP tersebut menyebutkan bahwa Bung Karno merupakan sosok yang sangat haus akan pengetahuan dan ilmu.

Dari semangat Bung Karno untuk membaca buku ini, Bu Mega pun mengajak generasi muda – khususnya generasi milenial – untuk mengikuti kegemaran literasi Sang Proklamator. Bu Mega juga mengusulkan agar para anak milenial juga membaca buku-buku yang ditulis oleh Bung Karno – seperti Indonesia Menggugat.

Hmm, meskipun sebelumnya Ketum PDIP tersebut menyindir kaum milenial, bagus juga sih sebenarnya ajakannya ini. Membaca memang penting karena dapat membuka pengetahuan seseorang menjadi lebih luas.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?

By the way, ajakan membaca buku Bung Karno dari Bu Mega ini sepertinya mengingatkan kita pada satu sosok lain deh, yakni Gibran Rakabuming Raka – putra dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kini maju sebagai Calon Wali Kota Solo dalam Pilkada 2020.

Kalau diingat-ingat kembali nih, Bu Mega dulu juga ngasih tugas lho ke Mas Gibran buat ngebaca buku-buku Bung Karno. Bahkan, Ketum PDIP tersebut berniat memberikan kursus selama satu jam untuk Mas Gibran lho.

Wah, kalau begitu, para milenial mau dikasih kursus juga nggak nih, Bu Mega? Kan, lumayan ya dapat kursus dari politikus ulung seperti Bu Mega. Barang kali, siapa tahu bakal bermunculan calon-calon kepala daerah milenial layaknya Gibran? Hehe.

Hmm, apa mungkin Bu Mega memang ingin para milenial meniru Mas Gibran ya? Boleh jadi, Mas Gibran ini dijadikan oleh presiden kelima tersebut sebagai “anak emas” yang dijadikan percontohan.

Tapi ya, terlepas dari manfaat membaca buku yang dapat meluaskan wawasan seseorang, nggak sedikit kok orang-orang yang sukses tanpa gemar membaca buku. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, misalnya, dikabarkan tidak suka membaca buku lho.

Meski begitu, nggak sedikit juga orang sukses yang merasakan manfaat membaca buku kok. Bill Gates, contohnya, merupakan tokoh sukses yang membaca setidaknya sampai 50 buku sehari lho.

Jadi, gimana nih, Bu Mega? Mending rajin membaca buku layaknya Bill Gates atau tidak suka layaknya Trump. Hmm, itu semua kembali ke pilihan dan preferensi masing-masing sihHehe. (A43)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?