HomeCelotehDukung Ganjar, PPP Tidak Sabar?

Dukung Ganjar, PPP Tidak Sabar?

PPP secara resmi telah mengumumkan bahwa mereka akan mendukung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Apakah PPP terlalu tidak sabar?


PinterPolitik.com

“Ppppppp”

Di suatu hari yang tenang – apalagi di saat momen-momen libur Lebaran, kedamaian hati menjadi suasana yang paling dinanti-nanti. Ketika rasa tenang dan damai itu tiba, kenikmatannya pun tiada tara.

Namun, semua bisa saja berubah hanya karena nada dering telepon yang berbunyi secara berulang-ulang. Rasa tenang itu tiba-tiba berganti menjadi rasa terganggu dan – mungkin juga – panik.

Ternyata, oh, ternyata, ada banyak pesan atau chat masuk yang berasal dari satu orang yang sama. Deretan huruf P ternyata sudah berjejer di kotak pesan. “Waduh, ada apa ini?” ujar diri dalam hati.

Well, tanpa disadari, huruf P yang berbaris dan berjumlah jamak ini kerap digunakan dalam keseharian chat dan pesan pendek – seakan-akan huruf ini bisa membuat pesan terbalas secara langsung. Hayo, ngaku siapa yang biasa ngirim P berkali-kali kalau si doi slow response. 😁

Nah, penggunaan huruf P yang jamak dalam satu waktu ini kayak-nya juga terjadi di dunia politik. Buktinya, ada tuh partai yang namanya huruf P-nya lebih dari satu. Siapa lagi kalau bukan PPP alias Partai Persatuan Pembangunan?

Hmm, gimana nggak? Baru beberapa hari setelah pengumuman Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) dari PDIP, PPP langsung ikutan tuh buat nge-dukung di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Wait, wait, wait. Bukannya PPP udah punya koalisi sendiri ya? Kalau nggak salah, PPP kan udah gabung Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bersama Partai Golkar dan PAN

Baca juga :  Siasat Megawati Pengaruhi Para Hakim MK
PPP Dorong Ganjar Sandi

Ya, terlepas dari persoalan nama partainya yang mirip dengan “Pppp” dalam chat ketika tidak sabaran, PPP bisa aja memang melakukan sebuah strategi yang disebut sebagai pre-emption.

Mengacu ke tulisan Karl P. Mueller, Jasen J. Castillo, Forrest E. Morgan, Negeen Pegahi, dan Brian Rosen yang berjudul Striking First: Preemptive and Preventive Attack in U.S. National Security Policy, serangan terlebih dahulu (pre-emptive strike) dilakukan bila upaya bertahan lebih tidak menjanjikan. Tujuan utamanya sih agar dampak serangan dari luar dapat diperkecil.

Nah, Mueller dkk ini juga menyebutkan taktik yang disebut sebagai preventive attack (serangan pencegah). Serangan satu ini dilakukan bila terdapat kapabilitas yang timpang antara diri dengan pihak lawan.

Bukan nggak mungkin, PPP mempertimbangkan strategi-strategi pre-emption seperti ini ketika memutuskan untuk mendukung Ganjar. Pasalnya, bila dibandingkan dengan partai-partai politik (parpol) besar lain – seperti Partai Golkar dan Partai Gerindra, PPP merupakan parpol dengan jumlah suara yang jauh lebih kecil.

Padahal, jumlah suara dan kursi di parlemen menentukan daya tawar parpol dalam dinamika koalisi elektoral. Makin besar jumlah kursi yang dimiliki, makin besar pula daya tawar parpol tersebut.

Sebagai parpol kecil, bukan nggak mungkin, menjadi alangkah baiknya PPP melakukan strategi bandwagoning (mengikuti pihak yang lebih kuat dan besar) di tengah kontestasi yang tidak menentu. Ganjar dan PDIP pun bisa jadi jawaban atas pencarian bandwagoning partai berlambang Ka’bah tersebut.

Well, dukungan PPP yang tiba-tiba ini mungkin mirip-mirip lah ya dengan chat, “Ppppp.” Bila biasanya dikirimkan oleh teman yang nggak sabaran, kali ini PPP boleh jadi sedang mengirimkan chatnggak sabaran” ke PDIP tuh. Ya nggak tuh? 👀 (A43)

Baca juga :  Megawati Menulis: Etika Presiden Penting!

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Gibran, Wapres Paling Meme?

Usai MK bacakan putusan sengketa Pilpres 2024, Gibran Rakabuming Raka, unggah fotonya sendiri dengan sound berjudul “Ahhhhhh”.

Simpati, ‘Kartu’ Rahasia Prabowo?

Prabowo meminta relawan dan pendukungnya untuk tidak berdemo agar jaga perdamaian dan tensi politik. Apakah ini politik simpati ala Prabowo?

Puan Maharani ‘Reborn’?

Puan Maharani dinilai tetap mampu pertahankan posisinya sebagai ketua DPR meski sempat bergulir wacana revisi UU MD3. Inikah Puan 'reborn'?