Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Corona, Ganjar Salah Kaprah?

Corona, Ganjar Salah Kaprah?


F46 - Monday, April 13, 2020 14:30
Ganjar Pranowo

0 min read

“Humanity, auf wiedersehen. It's time to say goodbye. The party's over. As the laughter dies, an angel cries” – Scorpions, grup band rock asal Jerman






PinterPolitik.com

Beberapa hari ini banyak banget nih, cuy, media yang memberitakan tentang jenazah pasien virus Corona (Covid-19) yang ditolak oleh warga setempat untuk disemayamkan di pemakaman daerah. Lebih parah lagi, bukan hanya warga biasa gengs, petinggi desa setempat yaitu Ketua Rukun Tetangga (RT) juga ikut-ikutan kisruh, cuy. Hadehh.

Kasihannya lagi, jenazah pasien tersebut diketahui merupakan seorang perawat yang ikut menangani pandemi virus Corona, cuy. Sepertinya memang lagu dari Scorpions yang berjudul “Humanity” benar adanya.

Kita ucapkan selamat tinggal untuk kemanusiaan yang sudah hilang dari muka bumi. Kemanusiaan kembali menjadi mitos yang sudah terlupakan, bro.

Hayoloh, kalau kayak begini sudah kelihatan mereka manusia jenis apa. Padahal jenazah adalah perawat yang menangani wabah Corona lho.

Ternyata nih, guys, kejadian tersebut terjadi di Semarang, Jawa Tengah, yang merupakan ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah (Jateng), cuy. Karena pengaruh media sosial, berita ini menyebar dengan cepat sehingga terdengar juga oleh Sang Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Pakdhe-nya warga Jateng ini segera menanggapi berita tersebut dengan mempersiapkan Taman Makam Pahlawan (TMP) bagi para tenaga medis yang meninggal akibat wabah ini karena doi berpendapat bahwa tenaga medis harus dihormati dan diberi penghargaan setinggi-tingginya.

https://www.instagram.com/p/B-uIUkKFw7_/

Sekejap, memang wacana Pak Ganjar ini membuat kita semua salut bahkan dengan tanpa banyak komentar akan memberikan standing applause untuk gagasannya ya, cuy. Tapi, tunggu dulu, gengs. Agar menjadi warga yang kreatif, kritis, dan tidak apatis, hendaknya mengkaji terlebih dahulu pendapat doi ini. Pasalnya, ada sedikit ganjalan nih, cuy, di benak hati.

Setelah dipikir-pikir, bukannya disiapkannya makam itu seperti mendoakan untuk cepatnya kematian? Seperti sudah mempersiapkan dan mewanti-wanti gitu loh, gengs. Benar tidak? Apa harus sekali lagi ucapkan selamat tinggal pada rasa kemanusiaan? Uppsss.

Hmm, selain mempersiapkan makam untuk jenazah tenaga medis yang terpapar Covid-19 nih, bukannya mencegah kematian itu lebih penting? Penyediaan alat pelindung diri (APD) yang layak dan cukup misalnya, mestinya bisa lebih dijalankan karena kebanyakan kasus tenaga medis terserang virus Corona ini akibat kurangnya APD, seperti masker, baju hazmat, dan lain sebagainya.

Sampai-sampai, banyak perawat, dokter, dan petugas medis lainnya hanya menggunakan jas hujan apa adanya untuk melindungi diri mereka. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa banyak rumah sakit yang tenaga medisnya belum mendapatkan APD yang cukup sehingga saat menjemput pasien positif Covid-19 pun hanya menggunakan jas hujan dan pelindung diri secukupnya.

Sekali lagi nih, untuk Pak Ganjar, salah sasaran pak kalau ingin menyiapkan TMP sebagai peristirahatan terakhir tenaga medis dan dokter. Mungkin, lebih baik lagi apabila produksi APD diperbanyak deh. Kira-kira, itu lebih solutif ya, cuy. Hehehe. (F46)

https://www.youtube.com/watch?v=_PL3N7uPIbA

? Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait