HomeCelotehBima Arya Nge-fans ke Ganjar?

Bima Arya Nge-fans ke Ganjar?

Kecil Besar

Wali Kota Bogor Bima Arya yang juga merupakan Ketua DPP PAN mengusulkan agar Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil dipasangkan untuk menjadi pasangan calon di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Mengapa Bima begitu ngotot usung Ganjar?


PinterPolitik.com

“Am I breaking people’s hearts by saying this? I hope not.” – J.K. Rowling, Wonderland Magazine (2014)

Kalian masih ingat nggak dengan seri film-film Harry Potter? Nah, bukan rahasia lagi kalau franchise film satu ini merupakan salah satu franchise yang paling populer dalam sejarah.

Kalian yang termasuk generasi Milenial pasti pernah lah mendengar atau bahkan membaca dan menonton franchise satu ini. Film dan novel yang ditulis oleh J.K. Rowling ini berpusat pada petualangan penyihir-penyihir muda yang bernama Harry Potter, Hermione Granger, dan Ron Weasley.

Nah, petualangan mereka ini dimulai sejak mereka masih berusia 11 tahun – ketika Harry mengetahui bahwa dirinya adalah seorang penyihir. Mereka pun bertumbuh bersama film-film yang dibuat – yakni hingga menyentuh usia 17 tahun dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 (2010) dan Part 2 (2011).

Otomatis, para fans akhirnya merasakan diri mereka masuk dalam kehidupan dan kisah para karakter, termasuk dalam hal kehidupan asmara. Nggak jarang ada banyak fans yang menginginkan agar Harry akhirnya menikah dengan Hermione – meski J.K. Rowling sudah menentukan bahwa Hermione berakhir berpasangan dengan Ron.

Nah, upaya menjodoh-jodohkan dalam produk-produk budaya populer seperti film ini disebut sebagai shipping. Istilah “shipping” sendiri berasal dari kata “relationshipper” yang artinya orang yang menjodoh-jodohkan karakter-karakter yang ada dalam sebuah cerita fiksi.

Mungkin, upaya shipping seperti ini tidak hanya terjadi di film, serial, atau komik aja nih, melainkan di dunia nyata. Gimana nggak? Wali Kota Bogor Bima Arya yang juga sekaligus merupakan Ketua DPP PAN tampaknya tidak pernah menyerah untuk menjodohkan sejumlah politisi lain untuk menjadi pasangan calon (paslon) di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Baca juga :  Adu Nasib Rusdi-Sandi
Ganjar Tak Mau Pindah Hati

Sejak beberapa bulan lalu, Pak Bima ini terus-terusan shipping Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dengan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil untuk menjadi paslon. Sampai-sampai nih, Pak BIma udah turut bawa-bawa namanya PDIP – partai politik di mana Pak Ganjar bernaung sebagai kader.

Kata Pak Bima nih, Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri atas PAN, Partai Golkar, dan PPP bisa aja merapat ke PDIP kalau partai yang berlambang banteng tersebut memutuskan untuk mengusung Ganjar di Pilpres 2024.

Hmm, jangan-jangan, Pak Bima ini nge-fans ya sama Pak Ganjar – sampai-sampai shipping terus biar Pak Ganjar bisa gandingan sama Kang Emil? Cihuy. Hehe.

Ya, mungkin nih, bila dilihat dari analisis diskursus, Pak Bima bisa jadi ingin narasi ini bergulir agar tetap mempengaruhi diskursus yang ada terkait pencalonan Ganjar di tahun 2024. Soalnya nih, masih ada banyak narasi yang bergulir terkait siapa yang akan mendapatkan tiket calon presiden (capres) dari PDIP.

Tapi, ingat, Pak. Pak Bima juga perlu belajar ke para fans-nya Harry Potter nih. Meskipun banyak dari mereka berharap Harry jadiannya sama Hermione, J.K. Rowling memutuskan agar Hermione tetap bersama Ron.

Nah, kalau dalam kasus Pak Ganjar dan Kang Emil nih, ada juga nih penulis takdirnya dalam perpolitikan menuju 2024 nanti. Gimana pun juga, takdir Pak Ganjar – baik nasib maju maupun “jodohnya” – berada di tangan satu orang. Siapa lagi kalau bukan Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri? Hehe. (A43)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Gimik Haedar di Istana Presiden?

“Bilangnya sayang sama negara, negara banyak diperas kok pada enggak lihat?” PinterPolitik.com Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengusulkan enam poin Nawacita II untuk...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?