HomeCelotehBerani Mendagri Tito Sanksi Gibran?

Berani Mendagri Tito Sanksi Gibran?

Kecil Besar

“Selain teguran kami juga sudah sampaikan kemungkinan membahas adanya aturan diskualifikasi. Itu bisa saja terjadi misalnya dengan membuat PKPU atau yang lainnya yang diperlukan”. – Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri


PinterPolitik.com

Sejak era proto demokrasi, manusia memang telah mengenal model pemilihan terbuka untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Di era yang umumnya dicirikan oleh masyarakat yang masih berburu dan mengumpulkan makanan ini, kelompok atau komunitas yang biasanya terdiri atas 50 hingga 100 orang dipercaya telah menerapkan prinsip dasar demokrasi.

Komunitas ini terikat atas hubungan kekeluargaan dan melahirkan keputusan lewat konsensus bersama. Inilah era demokrasi kuno yang sering dikenal sebagai tribalisme.

Tradisi demokrasi ini berkembang begitu pesat ketika kelompok masyarakat yang diatur bertambah besar dan cakupan luas wilayahnya juga bertambah. Hingga saat ini, perayaan warisan proto demokrasi itu masih dirasakan, termasuk dalam tajuk Pilkada 2020 yang saat ini sedang mendapatkan hype-nya.

Sayangnya, pesta demokrasi di tahun ini harus diwarnai oleh pandemi Covid-19. Tak heran, warisan gegap gempitanya seolah sedikit berkurang. Kerumunan orang akan dibatasi, konser dangdut dan musik lainnya untuk kepentingan kampanye sepertinya akan dihilangkan, dan kampanye tatap muka akan berganti dengan kampanye virtual.

Walaupun demikian, dalam 2 minggu terakhir ini gairah “berpesta” tersebut seolah meledak dan tak terbendung. Terbukti di beberapa daerah ada paslon yang masih melakukan konser dangdut untuk kampanye, dan beberapa juga melakukan konvoi dengan jumlah massa besar saat mendaftarkan diri ke KPUD.

Hmm, tak ada yang mau ketinggalan momentum sepertinya.

Makanya, pemerintah dipercaya akan memberlakukan sanksi tegas kepada kandidat yang melanggar protokol kesehatan. Bukannya gimana-gimana ya, dalam beberapa hari terakhir saja sudah ada 260 bakal pasangan calon yang melanggar protokol kesehatan.

Nah, setelah muncul seruan dari Presiden Jokowi, gerak cepat pun dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Doi menyebut tengah membahas sejumlah aturan dan sanksi terkait pelanggaran protokol kesehatan selama masa Pilkada 2020.

Nggak tanggung-tanggung cuy, sanksinya bisa sampai didiskualifikasi dari kontestasi loh. Wah.

Hmm, tapi berani nggak nih Pak Tito kasih sanksi buat putra Pak Jokowi, Gibran Rakabuming Raka? Soalnya, saat daftar ke KPUD beberapa hari lalu di Solo, ada konvoi yang mengiringi doi loh. Masyarkat yang datang juga diklaim capai ribuan orang.

Wih, jadi pertaruhan besar nih. Semoga ke depannya Mas Gibran nggak konvoi-konvoi lagi deh. Soalnya kasihan, sang ayah lagi pusing dengan angka Covid-19 yang naik, eh anaknya malah melakukan proses demokrasi tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Uppps.

Harapannya Pilkada 2020 bisa berjalan lancar tanpa memicu angka pertambahan jumlah pasien positif ya. Agar pesta demokrasi yang telah terjadi sejak ribuan tahun sejak era proto demokrasi ini masih bisa dirasakan semangat dan nuansanya. Uhhuyy. (S13)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

Yenny “Jomblo”, Diperebutkan Jokowi-Prabowo

“Kamu kejam buat mereka terlihat jahat. Mereka keji membuat kamu terlihat jijik. Atau kalian berdua yang kejam dan keji karena tidak mau jujur melihat...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.