HomeCelotehAnies-Ganjar Hanya Sebuah Permainan?

Anies-Ganjar Hanya Sebuah Permainan?

Kecil Besar

Politik merupakan sebuah permainan. Sama seperti dengan lomba 17-an yang diikuti oleh nama-nama populer seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Erick Thohir, itu semua pun adalah permainan.


PinterPolitik.com

“Now I run the game, got the whole world talkin’” – Kendrick Lamar, “King Kunta” (2015)

Sadarkah kita bahwa setiap aspek dalam kehidupan kita ini sering kali merupakan sebuah permainan? Ketika kita berusaha menyebut hati seseorang, misalnya, kita pun akan bermain permainan hati – apalagi bila ada pesaing yang cukup kompeten juga.

Tidak hanya persoalan hati, di dunia kontemporer ini pun, hampir semua dari kita memiliki sejumlah permainan yang terpasang di ponsel-ponsel pintar (smartphones) kita. Bahkan, kita membuat sebuah cabang olahraga baru dari permainan-permainan digital ini – disebut sebagai e-sports.

Selain untuk hiburan, permainan juga biasa dilakukan untuk merayakan atau memperingati momen-momen tertentu. Pada peringatan HUT Kemerdekaan RI setiap 17 Agustus, misalnya, masyarakat Indonesia banyak berpartisipasi di berbagai macam permainan, seperti tarik tambang, balap karung, lomba makan kerupuk, dan sebagainya.

Ini terlihat dari bagaimana para pejabat dan politisi – di antaranya ada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo, komika Kiky Saputri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (Men-KP) Susi Pudjiastuti, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK), dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir – mengikuti sebuah kegiatan lomba 17-an pada Sabtu (20/8/2022) kemarin.

Boleh jadi, permainan memang menjadi salah satu aktivitas yang dibutuhkan oleh manusia. Siapa tahu, dengan permainan, manusia modern pun akhirnya bisa mengasah kemampuan otak mereka – katakanlah dalam upaya untuk bertahan hidup (survive)?

Politik pun menjadi salah satu aspek kehidupan yang tidak luput dari permainan. Mungkin, permainan kekuasaan seperti ini juga menantang mereka-mereka yang berpartisipasi untuk bisa tetap bertahan hidup di dunia kompetitif mereka sendiri.

Lomba 17-an atau Pilpres 2024

Tidak jarang, politik juga digambarkan dengan teori permainan (game theory). Konsep zero-sum game, misalnya, menggambarkan bagaimana keuntungan satu pihak bisa menjadi kerugian bagi pihak lainnya dalam politik.

Ini jelas sekali terlihat dalam politik elektoral yang tengah dimainkan oleh partai-partai politik (parpol) dan para kandidat. Perebutan suara pemilih yang digambarkan oleh angka-angka seakan-akan menjadi poin yang digunakan untuk saling “mematikan” lawan.

Namun, untuk bisa berpartisipasi dalam sebuah permainan, pemain juga perlu memenuhi syarat-syarat tertentu. Untuk bisa bermain balap karung, misalnya, pemain jelas membutuhkan karungnya terlebih dahulu.

Mungkin, dalam dunia politik elektoral – khususnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang, “karung” ini juga menjadi penting (baca: parpol). Coba bayangkan kalau tidak memiliki “karung”, tentu pasti bakal kesulitan untuk bisa ikut dalam lomba Pilpres-an.

Hmm, hayoo, siapa yang di sini disebut-sebut bisa maju di Pilpres 2024 tapi “karungnya” belum pada punya? Hati-hati lho, bapak-bapak dan ibu-ibu. (A43)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?