HomeCelotehAnies dan Nadiem Dibanding-bandingke?

Anies dan Nadiem Dibanding-bandingke?

“Mendikbudristek meminta waktu hingga akhir Juni. Namun, hingga September 2022, tidak ada kabar terkait DIM yang dijanjikan. Bagi kami, hal ini merupakan pengabaian atas amanat/perintah UU sekaligus merupakan bentuk pelecehan kelembagaan, baik terhadap lembaga DPR maupun Lembaga Kepresidenan,” – Willy Aditya, Ketua Panja RUU Pendidikan Kedokteran DPR RI


PinterPolitik.com

Beredar surat terbuka dari kader Partai Nasdem Willy Aditya yang juga merupakan  Ketua Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-undang Pendidikan Kedokteran (RUU Dikdok) kepada Presiden Joko Widodo  (Jokowi). Dia menilai telah terjadi tindak pelecehan terhadap dua lembaga tinggi negara.

Willy menyebut bahwa Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim telah melecehkan lembaga kepresidenan dan DPR RI.

Diketahui sebelumnya kalau Presiden Jokowi telah menugaskan Menteri Nadiem bersama sejumlah menteri lainnya untuk mewakili pemerintah membahas RUU Dikdok.

Namun, setelah lebih dari 60 hari sejak Surat Presiden (Surpres) diterima DPR, Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) belum juga diterima. Bahkan, saat ini “usia” Surpres sudah lebih dari sembilan bulan.

By the way, ini bukan kali pertama Willy sebagai kader Nasdem mengkritik Nadiem. Sebelumnya, pada pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Willy melakukan hal yang sama.

DPR saat itu tidak menyetujui RUU Sisdiknas untuk masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2023. Saran mereka adalah agar Nadiem membuka ruang dialog dengan para pemangku kepentingan sebelum mengajukan RUU ini untuk dibahas.

- Advertisement -

Willy meminta Nadiem benar-benar matang dalam mempertimbangkan ragam aspirasi di publik terkait usulan RUU ini.

Mungkin ada benarnya kritik dan juga saran dari Willy, yang tentunya mewakili suara partainya, Nasdem. Namun, muncul pertanyaan. Apakah kritik bertubi-tubi Nasdem ini lahir dari ruang yang kosong dan tidak ada tendensi politik di dalamnya?

Baca juga :  Anies-Aher Ternyata Hanya Umpan?
image 10
Kejutan Surya Paloh di 10.11

Perlu kita ingat, kalau nama Nadiem akhir-akhir ini mencuat di panggung politik setelah munculnya komentar dari Direktur Pusat Kajian Pancasila Universitas Jakarta (Pusaka Pancasila Unija) Fakhruddin Muchtar.

Fakhruddin memandang pesta demokrasi akan lebih menarik dengan keterlibatan mahasiswa dan kelas revolusi baru ini dalam merebut demokrasi. Caranya dengan melibatkan Nadiem sebagai calon alternatif.

Kemunculan Nadiem dianggap sebagai bentuk ancaman bagi pendukung Anies Baswedan karena, seperti yang jamak diketahui, Anies merupakan kandidat yang diusung Nasdem pada Pilpres 2024 mendatang. 

Tentu, hal ini berkaitan dengan banyaknya kesamaan antara Nadiem dan Anies yang bisa jadi persoalan contrast effect – persoalan yang secara politik harus diantisipasi oleh Nasdem. 

Itamar Shatz dalam tulisannya The Contrast Effect: When Comparison Enhances Differences menyebutkan bahwa contrast effect atau efek kontras adalah bias kognitif yang mendistorsi persepsi kita tentang sesuatu ketika kita membandingkannya dengan sesuatu yang lain.

Tentunya, persoalan ini tidak hanya berefek pada cara pandang individu, seperti yang terjadi pada konteks psikologi, melainkan juga akan punya dampak politik jika isu perbandingan ini diamplifikasi menjadi komoditas politik tersendiri.

- Advertisement -

Dengan mengkritik Nadiem, Nasdem seolah ingin mengatakan kalau Nadiem belum sepenuhnya berhasil menjadi menteri yang membidangi pendidikan. Dengan kata lain, Anies masih lebih baik dibandingkan Nadiem meski diberhentikan di tengah jalan.

Hmm, jadi ingat syair lagu dari Farel Prayoga, “wong ko ngene kok dibanding-bandingke, saing-saingke, yo mesti kalah”. Uppss. Hehehe. (I76)


Kenapa Erdogan Begitu “Bad Boy”?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Mantra “Yakusa” Mahfud Buat Anies?

“Siap hadir ke arena Munas Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Yakin usaha sampai (Yakusa) untuk membangun insan cita HMI” –   Mahfud MD,...

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Jokowi dan Misteri Rambut Putih

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebut pemimpin yang pikirkan rakyat punya rambut warna putih. Siapa yang dimaksud oleh Jokowi?

Biden Bikin Circle Sendiri?

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menggelar rapat darurat dengan pemimpin-pemimpin negara anggota G7 – seperti Kanada, Italia, Jerman, Prancis, Britania (Inggris) Raya, dan...

Jokowi Buat “Taj Mahal” di Solo?

“Masjid Raya Sheikh Zayed Solo akan menjadi tempat salat, pusat dakwah, dan pendidikan Islam, sekaligus pusat destinasi wisata religi baru di Solo” –  Joko Widodo...

Megawati-Puan Sayang Korea?

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani tampak sangat "sayang" dengan Korea Selatan (Korsel). Mengapa?

More Stories

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...