HomeCelotehAndre Rosiade vs Everybody

Andre Rosiade vs Everybody

Kecil Besar

“All the n***as in the hood wanna fight you” – YG, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Akhir-akhir ini, judul-judul berita kembali diisi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia sendiri setelah sebelumnya ramai isu Perang Dunia III antara Amerika Serikat-Iran dan penyebaran virus Corona (Covid-19) di Tiongkok. Berita yang dimaksud ini datang dari Padang, Sumatera Barat.

Kabarnya, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Gerindra yang bernama Andre Rosiade udah nggerebek pekerja seks komersial (PSK) berbasis daring (atau online) di sebuah hotel di Padang. Katanya sih, penggerebekan ini menunjukkan bahwa prostitusi tetap eksis di kota asal Pak Andre itu.

Bukan dianggap sebagai pahlawan yang mengungkapkan fakta prostitusi di Padang, Pak Andre justru mendapat banyak kritik tuh.  Banyak pihak menilai bahwa beliau udah secara sengaja menjebak PSK itu.

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan misalnya, menilai apa yang dilakukan oleh Pak Andre malah merendahkan martabat perempuan sebagai manusia. Pasalnya, PSK yang digerebek itu dinilai telah dipermalukan.

Selain Komnas Perempuan, sorotan juga datang dari Ombudsman Republik Indonesia (RI). Lembaga ini menilai ada kejanggalan prosedur atas penggerebekan yang dilakukan oleh Pak Andre. Bahkan, kesewenang-wenangan dalam prosesnya diduga juga terjadi.

Mungkin, kritik-kritik inilah yang membuat Pak Andre berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak menjebak PSK. Namun, sebuah gambar kuitansi hotel yang menunjukkan nama beliau malah tersebar di medsos – menunjukkan bahwa Pak Andre tahu-menahu soal rencana penggerebekan itu.

Tak tinggal diam, Pak Andre langsung berencana mengajukan somasi pada pihak hotel. Namun, beliau malah dapat ancaman dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) karena dianggap merugikan nama baik industri perhotelan.

Hmm, merasa kesal dengan berbagai kritik yang datang, Pak Andre akhirnya curhat (curahan hati) kalau dirinya makin “diserang” karena telah mengomentari Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) a.k.a. Ahok yang dinilai berlagak seperti direktur. Wah, gimana nih? Ahok diseret-seret juga akhirnya.

Belum selesai menghadapi berbagai sorotan padanya itu, Pak Andre akhirnya juga dilaporkan ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR oleh Jaringan Aktivis (Jarak) Indonesia. Anggota MKD Fraksi PDIP Arteria Dahlan yang pernah dilaporkan ke MKD akhirnya turut berkomentar tuh.

Kata Pak Arteria, kekuasaan yang dimiliki oleh Pak Andre telah dipertontonkan secara tidak patut dalam kasus ini. Beliau menilai bahwa penggerebekan itu tidak masuk akal dan tidak mencerminkan sikap politikus.

Wah, terkait dengan kondisi tersebut, Pak Andre ternyata punya pernyataan tersendiri. Kata beliau, ia menyoroti ada anggota DPR yang pernah menghujat orang tua, sementara dirinya  gak pernah. Katanya, dia perlu ngaca soal sikapnya di masa lampau yang menghina orang tua itu.

Sementara itu, diketahui kalau Pak Arteria ini pernah dianggap memaki orang tua yaitu Profesor Emil Salim. Apakah yang dimaksud Pak Andre adalah Pak Arteria?

Hmm, kalau beneran gini caranya, musuh Pak Andre ini kayaknya bakal bertambah terus nih. Di tengah-tengah situasi yang mana menjadikan beliau sebagai sorotan banyak pihak, malah mengajak berantem rekan sejawatnya sendiri di DPR.

Ya, mungkin, situasinya kini dapat dianggap sebagai Pak Andre versus everybody. Bagaimana tidak? Sikap yang ditunjukkan oleh beliau malah makin mengundang banyak kritik. Ya, kita nantikan saja bagaimana nasib Pak Andre ini nanti – apakah sanksi pidana dan etik akan tetap menghantuinya. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Iron Cage Menteri PU
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?