HomeCelotehAkhirnya, Jokowi ‘Rilis’ PPKM Baru!

Akhirnya, Jokowi ‘Rilis’ PPKM Baru!

Kecil Besar

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) menerapkan sejumlah aturan ketat yang batasi mobilitas masyarakat dengan peningkatan kasus positif Covid-19 harian yang terjadi. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutnya sebagai upaya penebalan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro.


PinterPolitik.com

Bagi para penggemar teknologi, gawai-gawai baru biasanya menjadi hal yang ditunggu-tunggu untuk dicoba. Bahkan nih, ada lho sejumlah YouTuber dan TikToker yang biasa membuat konten yang isinya me-review­ produk-produk teknologi yang baru.

Gadgetin, misalnya, merupakan salah satu channel YouTube asal Indonesia yang terkenal kerap memberikan review terhadap produk-produk teknologi – mulai dari ponsel terbaru hingga headphone dengan fitur true wireless (TWS).

Tentu dong, namanya juga teknologi, pasti tidak ada habisnya. Dari tahun ke tahun, pasti ada aja tuh gawai-gawai baru yang diproduksi dan dirilis. Semakin ke sini, tentunya, gawai-gawai ini semakin canggih dan mengikuti kebutuhan serta perkembangan zaman.

Tapi, sebenarnya nih, kebiasaan untuk berkembang guna mengikuti kebutuhan dan perkembangan zaman seperti ini harusnya tidak hanya ada di dunia teknologi dong, melainkan di berbagai aspek. Salah satu aspek kehidupan yang perlu mengambil pendekatan serupa adalah pengambilan keputusan dan kebijakan yang dilakukan pemerintah.

Maka dari itu, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terus membuat kebijakan-kebijakan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan terkini. Wong Pak Jokowi sendiri udah bilang kan kalau kita itu harus bisa mengikuti perkembangan zaman yang makin cepat.

Nah, salah satu solusi terbaru dari pemerintahan Jokowi adalah penerapan pembatasan sosial yang makin uptodate lho. Kalau kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, fitur komplit terbaru ini adalah penebalan PPKM Mikro. Hmm, jadinya PPKM MikrodongHehe.

Baca Juga: Mungkinkah PPKM Buat Jokowi Jera?

Baca juga :  Anies dan Dark Side of The Moon
Penebalan PPKM Mikro

Tapi nih, tanpa kita sadari, kebijakan-kebijakan penanganan pandemi Covid-19 sudah berkembang banyak lho – dari yang sebelumnya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga penebalan PPKM Mikro. Mungkin, kalau dianalogikan bak ponsel pintar seperti iPhone, “gawai” kebijakan pemerintah ini sudah sampai level iPhone 12 kali ya?

Kan, di tahun 2021 ini, Apple masih belum merilis iPhone baru lho. Malahan, Apple hanya merilis ulang iPhone 12 dengan warna baru, yakni ungu. Hmm. Lumayan lah, hanya kasih perubahan sedikit-sedikit – mirip dengan PPKM MikroHehe.

Nah, kalau gawai biasanya di-review oleh para reviewer seperti Gadgetin di YouTube, kebijakan pembatasan sosial ini juga perlu di-review dong oleh para ahlinya, yakni epidemiolog. Hmm, apa kata mereka ya, guys? Mari kita coba… lihat!

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (UNAIR), dr. Windhu Purnomo, misalnya, bilang kalau PPKM Mikro itu udah produk gagal. Bahkan, epidemiolog tersebut mempertanyakan mengapa istilah tersebut masih terus digunakan.

Nggak hanya dr. Windhu, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), dr. Pandu Riono, bahkan memiliki istilah unik untuk mengomentari pergerakan manusia yang banyak di tengah penerapan PPKM Mikro. Katanya sih, Indonesia ini bukan meraih herd immunity (kekebalan kelompok), melainkan herd stupidity (kebebalan kelompok).

Waduhgimana nih, Pak Jokowi? Kalau review-nya udah pada gitu, apa perlu nih dibuat produk kebijakan baru nih, misalnya lockdown (karantina wilayah)? Tapi ya susah juga sih sebenarnya. Kalau fitur pembatasannya ditingkatkan, bisa-bisa fitur ekonominya tuh yang dikorbankan. Hmm, dilematis juga ya. (A43)

Baca Juga: Laga PSBB: Anies vs Terawan


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Baca juga :  Kicepisme Pragmatis Politik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Jokowi Ditagih Buruh

"Marsinah adalah sebuah cermin perlawanan buruh dalam bibit tumbuhnya gerakan buruh." ~Munir PinterPolitik.com Tiap hari bersimbah peluh dan menahan keluh, buruh hanyalah golongan pesuruh dengan upah...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

More Stories

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?