HomeCelotehAbu Janda Dibayar APBN?

Abu Janda Dibayar APBN?

Kecil Besar

“Pertama apakah Permadi Arya dibayar dengan anggaran APBN? Kedua, apakah demokrasi kita akan dibangun dengan influencer dengan karakter seperti Permadi Arya? Yang beberapa videonya tuduhan rasialis dan penistaan agama”. –  Al Muzzammil Yusuf, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS


PinterPolitik.com

Buzzer. Pada pertengahan 2018 lalu, media kenamaan asal Inggris, The Guardian, memuat analisis hasil Pilkada DKI Jakarta di tahun sebelumnya dari fenomean buzzer ini. Buat yang belum tahu, ini adalah sebutan untuk akun-akun di media sosial yang mem-blow up berbagai isu seputar Pilkada tersebut.

Ada yang akun-akunnya palsu alias fake, tapi ada juga buzzer dalam bentuk influencer alias mereka-mereka yang punya pengikut banyak. Tujuan utamanya jelas untuk pembentukan opini publik terkait narasi tertentu.

Kalau di era Pilkada tersebut buzzer yang bertarung adalah pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok melawan Muslim Cyber Army. Dalam ulasan The Guardian tersebut juga diketahui bahwa para buzzer yang mendukung Ahok dibayar hingga Rp 4 juta per bulan.

Baca juga: Moeldoko for Presiden 2024?

Wih, lebih dari pada UMR Jakarta dong. Luar biasa. Makanya, belakangan juga lagi ramai istilah buzzerRp yang merupakan gabungan dari kata buzzer dan Rp sebagai simbol mata uang rupiah.

Nah, hal-hal serupa inilah yang kini tengah menjadi perdebatan di masyarakat, terutama pasca kasus yang menjerat Abu Janda a.k.a. Permadi Arya. Buat yang belum tahu, doi merupakan salah satu influencer yang dituduh jadi buzzer juga.

Dalam Sidang Paripurna DPR RI beberapa hari lalu, fraksi PKS mempertanyakan pendanaan atau sokongan dana untuk sosok seperti Abu Janda ini. Bahkan, pertanyaan yang diajukan dalam interupsi tersebut langsung menembak: “Apakah Abu Janda dibayar dari APBN?”

Baca juga :  Waspada 3 "Kingdoms" of Jokowi?

Wih, pedes nggak tuh. Lha iya, APBN yang berasal dari duit rakyat lewat pajak – kalau bener ya – bisa-bisanya dipakai untuk mendanai kiprah Abu Janda.

Konteks pertanyaan yang diajukan oleh PKS beralasan. Soalnya, pernah ada laporan dari ICW yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2014 lalu, ada anggaran sekitar Rp 90 miliar yang dianggarkan pemerintah untuk membayar influencer.

Hmm, pertanyaan yang kemudian muncul adalah influencer macam apa yang dibayar negara lewat dana itu? Kalau yang dibayar kayak Om Deddy Corbuzier mah rela-rela aja. Soalnya doi aset bangsa cuy.

Nah kalau yang dibayar itu adalah Abu Janda – seperti yang dituduhkan oleh PKS – itu yang harus dipertanyakan. Upppps. Tapi beneran sih, dapat anggaran dari mana ya mereka itu? (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

Sambal Rocky Gerung Setelah Menghilang

“Sambala, sambala, bala sambalado. Terasa pedas, terasa panas.” – Ayu Ting Ting PinterPolitik.com Film pertama Rocky terlahir pada 1976. Sejak lahir doi langsung boyong tiga penghargaan...

More Stories

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.