HomeBelajar PolitikPolri Angkat Tangan Soal Rizieq

Polri Angkat Tangan Soal Rizieq

Kecil Besar

“Gugur satu tumbuh seribu.”


PinterPolitik.com

[dropcap]A[/dropcap]duh! Kasihan sekali ya Rizieq, sudah terasingkan di Arab Saudi, eh sekarang malah terancam dihukum pihak berwenang di sana! Weleh-weleh.

Kalau dengar isu-isu kayak gini gengs, rasanya tuh senada banget deh eyke sama lirik lagunya Superman is Dead yang bunyinya seperti ini: “Andaiku malaikat, ku potong sayapku dan rasakan perih di dunia bersamamu!”

Tapi sayang gengs, eyke hanya manusia biasa. Jangankan nolongin Rizieq dari belenggu Polisi Arab, nolongin temen ketilang aja repot! Wkwkwk. Share on X

Ternyata gengs, bukan eyke aja yang ngerasa seperti serpihan debu. Mungkin Polri juga merasakankan hal yang sama. Buktinya mereka bilang, bahwa Polri tidak memiliki wewenang terkait kasus pemeriksaan Habib Rizieq Shihab di Arab Saudi. Polri hanya memiliki wewenang di dalam yurisdiksi Republik Indonesia. Tuh kan cuy, kasihan banget Rizieq, enggak di mana-mana dicari sama polisi!

Menurut Kadiv Humas Polri, Setyo Wasisto, berdasarkan undang-undang, Polri hanya menangani kasus yang berada si wilayah hukum Republik Indonesia. Sementara, terkait isu diperiksanya Rizieq oleh kepolisian di Arab Saudi, ia enggan melontarkan banyak komentar. Menurutnya itu wilayahnya di luar, bukan yurisdiksi Polri. Weleh-weleh, kasihan, semoga yang terbaik deh buat Rizieq.

Terkait perlindungan umum pada warga negara Indonesia yang mempunyai masalah di luar negeri itu kan menjadi kewenangan Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal. Jadi semoga saja duta besar kita tidak bisa berbuat apa-apa juga. Uppss, maksud eyke semoga dubes kita bisa maksimal kerjanya gengs! Kepleset lidah gengs, maaf. Apa? Gitu aja udah mau demo? Ckckck.

Intinya mah gengs, soal penangkapan Rizieq jangan dibikin-bikin runyam lagi ya gengs. Ga usah deh kalian segala bilang itu bagian dari operasi intelijen Indonesia. Masa sih kita mau terus suudzon sama Jokowi, kasihan loh gengs.

Kalian enggak ada yang tahu kan kalau Jokowi di setiap pertengahan malam menangis tersedu karena sering dinyinyirin netizen? Kalian enggak tahu kan? Sama, eyke juga neggak tahu. Wkwkwk.

Pokoknya gengs, ga usah deh kita pusing-pusing mikirin orang yang kerjaannya bikin gaduh. Mending kita pikirin solusi gimana caranya membangun negara ini dari tindakan yang terkecil. Contohnya: nyinyir, bikin meme, posting Instagram dan hal-hal lainnya yang unfaedah. Wkwkwk. Bercanda cuy! (G35)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...