HomeBelajar PolitikFahri: DPR Itu Pengganggu!

Fahri: DPR Itu Pengganggu!

Kecil Besar

“DPR itu harus mempunyai “dapur” pemikiran yang besar, sehingga siapa pun politisi yang datang, wakil dari pedagang cabai, wakil dari petani kacang, atau apa pun yang dipilih oleh rakyat, bukan karena dia pintar, tetapi karena mengakar, masuk ke DPR ini menjadi orang  pintar.” ~Fahri Hamzah


PinterPolitik.com

[dropcap]W[/dropcap]akil Ketua DPR RI Fahri Hamzah bilang kepada kita semua bahwa selain menjadi wakil rakyat, DPR RI memiliki tiga hak, yakni angket, interpelasi dan budget yang diamanatkan dalam UUD 1945. Terlebih DPR RI juga punya hak yang belakangan kerap digunakan oleh para anggotanya, yaitu “hak ganggu”!

Wah yang begini-begini nih gengs, pantas aja negeri ini enggak maju-maju! Wong pemerintah mau kerja malah diganggu terus sama DPR! Ketahuan kan sekarang siapa yang jadi beban negara. Weleh-weleh.

Woke lah gengs kalau alasannya DPR gunain hak ganggu itu untuk kemajuan bangsa. Nah ini punya hak ganggu kok malah membuat pemerintah semakin ngablu jalanin roda kepemimpinan? Ckckck.

Apa mungkin ya hak ganggu yang dimiliki DPR itu tidak digunakan dengan baik? Kok bisa?

Iya bisa gengs, contohnya itu Kementerian Perdagangan. Bukannya menjaga kedaulatan malah buat banjir impor barang dari luar! Hmm, tapi yang dibilang Fahri bahwa DPR punya hak ganggu, kenapa enggak dari awal aja kementerian yang mau impor itu diganggu-ganggu? Atau karena waktu itu ada jatahnya jadi nggak diganggu-ganggu? Uppss wkwkwk.

Nah lihat deh sekarang, pas sudah masuk tahun-tahun Pemilu, baru deh DPR teriak bilang pemerintah gagal! Emang kemarin ke mana aja cuy? Share on X

Aneh, jangan-jangan DPR selama ini kebanyakan tidur! Mereka sampai lupa punya hak ganggu. Nah bagi sebagian anggota yang ingat punya hak ganggu, ini cuma dipakai buat minta proyek, terus untuk fungsi yang selebihnya enggak dimanfaatin dengan baik. Weleh-weleh.

Padahal di negeri yang sudah mengenal pepatah “sedia payung sebelum hujan” dan memahami slogan “lebih baik mencegah daripada mengobati” ini, masih banyak politisi yang teriak soal masalah yang sudah terlanjur terjadi! KZl…

Gimana menurut kalian gengs, mungkinkah kegagalan pemerintahan Jokowi terkait ekonomi juga salah kubu oposisi yang sekarang ada di kursi DPR? Atau ini semua salah kita semua sebagai rakyat? Sebab kita salah pilih Jokowi jadi presiden dan salah pilih oposisi jadi penguasa DPR yang nyatanya mereka enggak bisa kerja membangun negeri! (G35)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

More Stories

Rocky Gerung Seng Ada Lawan?

“Cara mereka menghina saja dungu, apalagi mikir. Segaris lurus dengan sang junjungan.” ~ Rocky Gerung PinterPolitik.com Tanggal 24 Maret 2019 lalu Rocky Gerung hadir di acara kampanye...

Amplop Luhut Hina Kiai?

“Itu istilahnya bisyaroh, atau hadiah buat kiai. Hal yang lumrah itu. Malah aneh, kalau mengundang atau sowan ke kiai gak ngasih bisyaroh.” ~ Dendy...

KPK Menoleh Ke Prabowo?

“Tetapi kenyataannya, APBN kita Rp 2.000 triliun sekian. Jadi hampir separuh lebih mungkin kalau tak ada kebocoran dan bisa dimaksimalkan maka pendapatan Rp 4.000...