HomeBelajar PolitikDari Satu Periuk, Kita Makan

Dari Satu Periuk, Kita Makan

Adalah salah mengatakan bahwa toleransi antar umat beragama di negara ini sedang goyah. Justru yang terjadi adalah banyak pihak yang menggunakan isu keberagaman itu secara negatif untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk kepentingan politik


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]T[/dropcap]empat itu bernama Nangapanda, sebuah kecamatan di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Karena pelafalan huruf ‘a’ yang cenderung menjadi ‘e’ seperti pada kata ‘pedang’, maka Nangapanda oleh orang-orang di Flores cenderung disebut Nangapenda. Jadi, kalau berkunjung ke Flores dan ingin mampir ke tempat ini, tanyakan: “Om, Nangapenda di mana?”

Lalu, apa yang menarik dari daerah ini? Tempat ini berkesan bagi saya karena dari daerah inilah saya pertama kali belajar tentang sikap toleransi dan saling menghormati antar umat beragama. Nangapanda adalah kampung halaman ayah saya. Daerah ini adalah daerah yang plural karena lokasinya yang berada di dekat pantai. Penduduk yang berasal dari pedalaman rata-rata beragama Kristen, sementara para pedagang dan pendatang rata-rata beragama Islam. Selama bertahun-tahun terjadi percampuran budaya dan banyak pula orang pedalaman yang menikah dengan orang pantai: sebutan untuk para pendatang. Karena percampuran tersebut, akhirnya saya mempunyai banyak keluarga yang beragama Islam. Walaupun berbeda keyakinan, umat Kristiani hidup berdampingan dengan damai dengan umat Muslim.

Saya teringat sebuah kisah yang terjadi ketika saya masih kecil – saya lupa umur berapa, tetapi saya sudah bisa mengingat dengan baik saat itu – dan diajak ayah ke kampung untuk mengikuti acara syukuran keluarga. Pada saat itu, untuk keperluan pesta, keluarga akan menyembelih sapi dan kambing. Saya sangat tertarik ingin menyaksikan proses tersebut. Namun, ternyata saya harus menunggu cukup lama untuk menyaksikan acara itu. Akhirnya, karena tidak sabar saya bertanya pada nenek saya. “Nek, kenapa lama sekali, sapi dan kambing tidak dipotong-potong juga?” Nenek saya pun menjawab bahwa mereka masih menunggu Pak Haji – salah satu keluarga saya – yang akan menyembelih hewan-hewan tersebut. Dasar bocah yang ingin tahu, saya lantas bertanya lagi: “Kenapa Pak Haji yang harus menyembelih hewan-hewan tersebut?” Nenek saya memandang saya untuk beberapa saat, lalu tersenyum. Jawaban berikut yang keluar dari mulutnya waktu  itu cukup berkesan bagi saya dan tidak akan pernah saya lupakan. Beliau bilang: “Kita ini bersaudara semua, jadi biarlah kita makan dari periuk yang sama”.

Pada momen perayaan Natal tahun ini saya teringat kembali kisah tersebut dan merefleksikan bagaimana nenek saya dulu mengajarkan hal yang sangat berharga bagi saya: toleransi. Nenek saya mungkin tidak pernah bersekolah, tetapi ia tahu bahwa dalam ajaran agama Islam ada aturan-aturan tentang menyembelih hewan sehingga halal untuk dimakan. Oleh karena itu, demi tetap menjaga kebersamaan dengan saudara-saudara yang Muslim dan makan dari periuk yang sama, maka saudara-saudara yang Muslim lah yang akan menyembelih hewan-hewan tersebut. Hal ini tidak hanya terjadi di Nangapanda. Di banyak tempat di Flores yang keluarganya telah terjadi percampuran keyakinan, hal seperti ini bukanlah sesuatu yang asing untuk dijumpai. Sungguh sebuah pemandangan yang indah ketika menyaksikan keluarga berkumpul, bercanda dan makan bersama tanpa peduli apa keyakinannya, semuanya merasa menjadi saudara dari periuk masak yang sama.

Tahun ini perayaan Natal dapat berlangsung dengan aman dan damai. Ada sebuah kesan yang teramat mendalam ketika mengikuti perayaan Natal di sebuah Gereja di Jakarta dan ada umat beragama lain juga yang ikut dalam perayaan tersebut. Hal ini seakan ingin mengatakan bahwa di negeri ini penghargaan dan penghormatan terhadap keberagaman adalah hal yang paling tinggi. Identitas kemanusiaan telah melampui segala batasan apa pun. Maka, adalah salah mengatakan bahwa toleransi antar umat beragama di negara ini sedang goyah. Justru yang terjadi adalah banyak pihak yang menggunakan isu keberagaman itu secara negatif untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk kepentingan politik. Pihak-pihak tersebut sesungguhnya telah merendahkan martabat dan kehormatan bangsa yang berbhineka tunggal ika ini. Para politisi yang demikian sesungguhnya tidak tahu di mana dia berpijak dan tidak layak untuk dipilih sebagai wakil rakyat. Pada perayaan Natal kemarin juga di banyak tempat pengamanan Gereja dan pengamanan ibadat Natal juga dilakukan oleh umat Muslim. Hal tersebut menunjukkan bahwa segala perbedaan boleh diartikulasikan, namun hal itu tidak menghalangi rasa kebanggaan kita sebagai satu bangsa: Indonesia.

Filosofi ‘satu periuk’ yang diajarkan oleh nenek saya itu sungguh sesuatu yang harus dimaknai secara mendalam. Beliau mungkin telah meninggal, namun apa yang dikatakannya akan selalu membekas dalam sanubari saya. Beliau mungkin tidak pernah sekolah, tetapi apa yang dikatakannya boleh jadi jauh lebih mendidik daripada para professor yang berpendidikan tinggi, namun tidak pernah memandang sesamanya sebagai saudara. Filosofi ‘satu periuk’ tersebut harus dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menyatukan kita sebagai satu bangsa: Indonesia. Sungguh menyedihkan jika melihat ada pihak yang mencoba mempermainkan isu-isu toleransi antar umat beragama tersebut demi kepentingan pribadi. Negara ini telah diperjuangkan dalam keberagaman. Dalam keberagaman itu pula, darah yang tertumpah di bawah panji-panji merah putih telah bercampur menjadi satu. Oleh karena itu, adalah sebuah penghargaan dan penghormatan terhadap kemerdekaan, jika kita memandang sesama kita sebagai saudara, tanpa membeda-bedakan keyakinan, suku, ataupun golongannya.

“We must live together as brothers or perish together as fools.” Demikianlah salah satu ungkapan terkenal yang diucapkan oleh Martin Luther King Jr. Kita harus hidup bersama sebagai saudara atau kita akan mati bersama-sama sebagai orang bodoh. Di negara yang plural seperti ini, perbedaan harus dipandang sebagai penguat persaudaraan, jika tidak kita akan mati sebagai orang-orang bodoh. Sebentar lagi tahun 2016 akan berakhir dan tahun 2017 akan menanti. Akan ada banyak persoalan politik dan kebangsaan yang akan kita hadapi. Semoga di tahun 2017 nanti, persoalan keberagaman bisa dipandang dengan lebih positif. Biarlah kita benar-benar menjadi saudara seperiuk, saudara sedarah perjuangan. Selamat Natal 2016 untuk semua saudara yang merayakannya. Sambil menikmati liburan akhir tahun, baiklah berkunjung ke tukang periuk tanah liat di pinggir jalan. Mungkin saja ada pot tanah liat yang menarik, mumpung musim hujan, mari menanam lebih banyak tumbuhan. (SAN)

Previous article
Next article

#Trending Article

Jokowi Kalah Perkasa dari Modi?

Dalam Deklarasi Bali yang dibuat oleh para pemimpin negara G20, peran Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi disebut-sebut jadi faktor krusial. Padahal, pertemuan itu dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Mengapa itu bisa terjadi?

Cuan Nikel Jokowi Hanya “Ilusi”?

Indonesia yang kalah atas gugatan World Trade Organization (WTO) terkait kebijakan larangan ekspor nikel dan berencana untuk melakukan banding. Namun, di balik intrik perdagangan...

Timor Leste “Login”, ASEAN “Powerful”?

Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) setelah sempat mendapat penolakan akibat tingginya kesenjangan dan dikhawatirkan tidak mampu mengejar...

Kenapa Peradaban Barat “Kuasai” Dunia?

Orang Eropa dan Amerika Serikat (AS) sering dianggap lebih unggul karena negara mereka “menguasai” dunia saat ini. Apakah ini akibat persoalan ras atau ada hal lain yang tersembunyi di balik kesuksesan peradaban Barat?

Optimisme Intelijen Berpihak Kepada Prabowo?

Pasca kelakar “rambut putih” Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan tampak membesarkan hati Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan di...

Tidak Ada Kebenaran di Era Informasi?

Di era kemajuan internet, manipulasi kebenaran justru malah semakin marak. Bagaimana kita memaknai fenomena ini?

Laksamana Yudo Patahkan Mitos?

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Panglima TNI untuk menggantikan Jenderal Andika Perkasa. Menjabat hingga akhir...

Relawan Bermanuver, Jokowi Terjebak Ilusi?

Serangkaian respons minor eksis pasca acara relawan Joko Widodo (Jokowi) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang dihadiri langsung oleh sang RI-1....

More Stories

Mengapa BBM Bisa Bahayakan Jokowi?

Pemerintah telah menaikkan harga BBM. Pertalite naik hingga 30 persen, dari sebelumnya Rp 7.650 per liter menjadi Rp 10.000 per liter. Kebijakan ini kemudian...

Kasus Sambo Untungkan Jokowi?

Bergulirnya kasus pembunuhan Brigadir J yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo memang menarik perhatian masyarakat luas. Isu ini bahkan mengalahkan narasi krisis ekonomi yang kini...

Ini Alasan 2024 Harus Kandidat Militer

Peningkatan kapasitas militer Tiongkok dan manuver yang dilakukan oleh negara tersebut atas Taiwan diprediksi akan memanaskan situasi politik di Asia Timur. Banyak ahli geopolitik...