HomeBelajar PolitikAl Jazeera Dihack, Qatar Dibungkam?

Al Jazeera Dihack, Qatar Dibungkam?

Kecil Besar

Belum reda panas yang terjadi di Timur Tengah, akibat pemutusan hubungan diplomatik tujuh negara dengan Qatar, kini jaringan satelit kantor berita milik Qatar, Al Jazeera, diretas. Mengapa?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]K[/dropcap]antor media milik Qatar, bernama Al Jazeera mengaku jaringan website mereka mengalami peretasan pada Kamis (8/6) kemarin. Hanya saja, semua data dan entitas dari media yang berbasis di Doha tersebut, masih tetap beroperasi. Hal tersebut dinyatakan oleh Al Jazeera melalui akun twitternya.

Dalam cuitan, Al Jazeera menyatakan, “seluruh sistem Al Jazeera media network berada dalam serangan siber, baik sistem, website, dan media sosial,” begitu yang tertulis dalam akun twitternya. Lebih lanjut, mereka menambahkan, “Ada upaya yang dilakukan untuk meretas sistem keamanan siber Al Jazeera, tapi kami berhasil menggagalkan upaya mereka, dan saat ini semua entitas kami tetap beroperasi,” sebut seorang karyawan Al Jazeera, yang enggan disebut namanya, seperti yang dilansir melalui Reuters.

Guna mengantisipasi peretasan siber lainnya, stasiun televisi ini menutup situsnya untuk sementara. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyelamatan dari peretasan. Kejadian ini merupakan upaya peretasan ketiga dalam 14 bulan terakhir yang dialami oleh Al Jazeera. Mereka mengakui jika website mereka sedang menghadapi upaya peretasan terus-menerus.

Efek Domino Perceraian?

Seperti yang dikatakan oleh Al Jazeera, pihaknya memang mengalami upaya peretasan beberapa kali. Setelah Qatar diceraikan oleh tujuh negara teluk tersebut, peretasan makin sering dan gencar terjadi.

Menariknya, upaya peretasan ketiga yang dialami Al Jazeera, terjadi setelah Arab Saudi resmi mencabut izin operasi dan berujung pada penutupan kantor Al Jazeera pada Senin (5/6) lalu di Riyadh, Arab Saudi. Al Jazeera mengeluarkan pernyataan pada Selasa (6/6), walaupun ditutup oleh Arab Saudi, pihaknya akan terus meliput berita di kawasan tersebut, “meskipun jaringan ini dibatasi, Al Jazeera akan terus meliput berita dan urusan yang terjadi saat ini dari kawasan tersebut dan di luarnya dengan cara objektif,” ungkapnya.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

Penutupan kantor berita di Arab Saudi memang menyusul keputusannya memutus hubungan diplomatik dengan negara terkaya di kawasan Timur tengah tersebut. Namun, hal tersebut tak bisa dibenarkan. Al Jazeera bahkan mengecam Arab Saudi dan meminta negara asal Raja Salman tersebut dapat mengizinkan jurnalis mereka tetap terus bekerja tanpa adanya intimidasi dan ancaman. “Kami sangat yakin bahwa ini langkah yang tidak bisa dibenarkan yang diambil otoritas di kerajaan tersebut untuk menentang jaringan ini dan operasinya,” ungkap Al Jazeera seperti yang dikutip dari Antara.

Pihak yang menutup kantor berita Al Jazeera di Arab Saudi adalah Saudi Press Agency (SPA), mereka mengaku jika mendapat amanat dari Kementerian Informasi untuk menutup kantor Al Jazeera  dan mencabut izin operasi. Selain itu mereka juga menuding bahwa Al Jazeera mendukung kelompok teroris dan pemberontakan Yaman. Qatar dituduh menyiarkan ideologi mereka ke dunia Arab lewat saluran televisi Al Jazeera.

Selain Arab, negara lain yang sudah lebih dulu memutus hubungan dengan Qatar dan memboikot kantor berita Al Jazeera adalah Mesir. Sama seperti Arab, Mesir menyatakan bahwa Al Jazeera mendukung Ikhwanul Muslimin, kelompok yang diduga mendalangi aksi kekerasan setelah militer Mesir menggulingkan pemimpin kelompok tersebut pada 2013 lalu. Maka dari itu, berbahaya bagi mereka, jika membiarkan Al Jazeera  terus mengudara.

Tak hanya memboikot, Mesir juga memenjarakan beberapa jurnalis kantor berita tersebut. Salah satu jurnalis yang saat ini masih ditahan oleh Mesir adalah Mahmoud Hussein. Ia sudah ditahan sejak 20 Desember 2016 lalu.

Al Jazeera Dihack Qatar Dibungkam
Mohammad Hussein (Tengah) Foto: Istimewa

Selain Arab dan Mesir, Bahrain sudah lebh dulu memboikot Al Jazeera. Pada tahun 2000, negara ini berkilah jika Al Jazeera terlalu sering dan terbuka menjabarkan persoalan domestik negara-negara tetangganya.

Baca juga :  Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan

Sepak Terjang Al Jazeera

Al Jazeera dalam Bahasa Arab berarti pulau atau jazirah. Ia merupakan stasiun televisi berbahasa Arab dan Inggris yang berpusat di Doha, Qatar. Stasiun televisi ini mereguk kepopuleran setelah tragedi serangan 11 September 2001. Al Jazeera menyiarkan rekaman pernyataan Osama bin Laden dan pimpinan Al Qaeda lainnya setelah serangan berlangsung.

Al Jazeera berdiri pada April tahun 1996 dengan modal dari Raja Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani, sejumlah US$ 150 juta. Mereka mengklaim sebagai satu-satunya stasiun TV yang independen secara politik di Timur Tengah. Saat ini, jumlah penikmat berita Al Jazeera sudah mencapai 50 juta, lebih banyak dibandingkan dengan BBC dari Inggris.

Raja Hamad (foto: Istimewa)

Pada April di tahun yang sama, siaran BBC World dalam Bahasa Arab mengalami masalah dengan pemerintah Arab Saudi, dan akhirnya menutup operasinya. Akhirnya, banyak mantan jurnais dan staf BBC pindah ke Al Jazeera. Hingga pada 15 November 2006 saluran Al Jazeera berbahasa Inggris resmi mengudara pertama kali.

Di samping reaksi yang melanda Al Jazeera, stasiun televisi ini adalah satu dari sedikit media yang konsisten mengungkap pemberitaan tanpa intervensi berlebih dari pihak pemerintahan atau politik manapun, namun mereka harus menelan dampak kebijakan politik yang diambil oleh beberapa negara lain.

Peretasan yang terjadi pada Al Jazeera tentu mengandung banyak arti di belakangnya, dan hal tersebut tak terlepas dari efek domino pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman, Mesir, Libya, dan Maladewa. Bahkan tak berlebihan jika tuntutan pembredelan Al Jazeera, bisa menjadi salah satu cara Qatar memperbaiki hubungan regionalnya dengan negara-negara Timur Tengah lain, yakni dengan menjadikan Al Jazeera sebagai tumbal. (Berbagai Sumber/A27)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Jangan Remehkan Golput

Golput menjadi momok, padahal mampu melahirkan harapan politik baru. PinterPolitik.com Gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 tunai sudah. Kini giliran analisis hingga euforia yang tersisa dan...

Laki-Laki Takut Kuota Gender?

Berbeda dengan anggota DPR perempuan, anggota DPR laki-laki ternyata lebih skeptis terhadap kebijakan kuota gender 30% untuk perempuan. PinterPolitik.com Ella S. Prihatini menemukan sebuah fakta menarik...

Menjadi Pragmatis Bersama Prabowo

Mendorong rakyat menerima sogokan politik di masa Pilkada? Prabowo ajak rakyat menyeleweng? PinterPolitik.com Dalam pidato berdurasi 12 menit lebih beberapa menit, Prabowo sukses memancing berbagai respon....