S13 ─ author

Latest articles

Menguak The Economist

Pada Mei 2026, The Economist menurunkan dua judul keras: Indonesia disebut berada di "jalur berisiko", dan Prabowo dinilai membahayakan ekonomi sekaligus demokrasi. Empat tuduhan utamanya: sentralisasi kekuasaan, belanja populis yang membebani fiskal, ekspansi militer ke ruang sipil, dan erosi independensi institusi ekonomi.

Semantik Sekolah Rakyat

Sekolah Rakyat, program unggulan Presiden Prabowo ini kini disorot bukan karena gagasannya, melainkan pengadaan barangnya. Mesin cuci senilai Rp 2,9 miliar, kompor Rp 4,3 miliar, hingga bingkai foto presiden Rp 4,1 miliar memantik kecurigaan publik soal selisih harga antara e-katalog dan harga pasar. Dua pejabat Kemensos pun dicopot sementara. Narasi "pemborosan" menguat, menenggelamkan substansi program itu sendiri.

Pramono Adalah Jokowi 2.0?

Pramono mengubah 109 tiang monorel yang mangkrak 20 tahun di Rasuna Said menjadi simbol politik. Pembongkaran dimulai Januari 2026, lalu pada 10 Mei 2026 ia menggelar CFD perdana sebelum kawasan rampung. "Saya sengaja mengundang ketika belum selesai," akunya — mengubah proses pembangunan menjadi tontonan yang menegaskan warisannya sebagai gubernur yang membersihkan luka lama kota.

Filsafat, Kelas Wajib Indonesia

Ketika seorang menteri merespons tragedi kereta yang menewaskan 16 orang dengan mengusulkan pemindahan gerbong perempuan — bukan memperbaiki perlintasan — kita bukan hanya sedang menghadapi masalah kebijakan. Kita juga menghadapi masalah berpikir. Solusinya: filsafat. Sayangnya kelas filsafat belum diwajibkan di level pendidikan menengah atas. Bahkan, di level perguruan tinggi, prodinya mau dimatikan! Weh!

Mendayung Bersama Putin

Kremlin, 13 April 2026. Pertemuan tiga jam Prabowo–Putin melahirkan komitmen 150 juta barel minyak Rusia dengan harga khusus untuk Indonesia. Awalnya 100 juta barel, ditambah 50 juta bila dibutuhkan. Kilang Cilacap siap mengolah Urals dan ESPO Blend — menghemat triliunan rupiah sekaligus mengamankan ketahanan energi nasional. Kesepakatan diumumkan oleh… Hashim Djojohadikusumo.

Palak Laut

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memantik kontroversi global saat menyebut Indonesia berhak memungut tarif di Selat Malaka — mencontoh Iran di Hormuz. Dalam hitungan jam, Bloomberg menjadikannya headline dunia. Purbaya langsung walk back, namun Indonesia telanjur disebut sebagai aktor geopolitik yang berpikir ofensif soal aset geografisnya, meski belakangan sudah dibantah oleh Menlu Sugiono.

Street Smart is The New Genius

Di tengah ketegangan geopolitik yang mengguncang pasokan minyak dunia, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bergerak cepat: menjamin stok energi di atas standar minimum, menahan harga BBM subsidi hingga akhir 2026, mendiversifikasi sumber impor minyak, dan meluncurkan program B50 mulai Juli 2026 untuk memutus ketergantungan pada solar impor. Langkah-langkah ini menjadikannya panglima di garis depan ketahanan energi Indonesia dan wujud dari kecerdasan seorang pemimpin yang oleh Bahlil pernah ia sebut sebagai “street smart”. Apa itu?

The Exodus Ekonomi Tiongkok

Dengarkan artikel ini: Majalah The Economist edisi April 2026 berkisah tentang fenomena perpindahan masif warga Tiongkok ke Indonesia dalam artikel bertajuk "A New China...

Menanti Kebangkitan HTI?

HTI resmi dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 melalui Perppu No. 2/2017 tentang Ormas karena dinilai bertentangan dengan Pancasila. Namun pada Februari 2025, GP Ansor dan Banser melaporkan kemunculan kembali aktivitas eks-HTI di berbagai daerah — menggunakan kedok kegiatan keagamaan, halal bi halal di hotel, dan membonceng isu Palestina untuk menyebarkan paham khilafah. Akankah organisasi yang pernah punya pengaruh politik besar ini kembali ke panggung nasional?

Persimpangan Jalan Bank Indonesia

Rupiah dibuka di Rp17.110 per dolar AS pada 14 April 2026 — melampaui level tertinggi sepanjang sejarah. Tekanan datang dari lima arah sekaligus: tarif Trump 32%, blokade Selat Hormuz, suku bunga Fed yang bertahan tinggi, ketidakpastian Danantara, dan eskalasi geopolitik global. Tapi volatilitas rupiah justru terendah di antara negara berkembang: hanya 4,75.

Taiwan Kembali “ke Rumah Bapaknya”?

Pada 7–12 April 2026, Ketua KMT Cheng Li-wun mengunjungi Nanjing, Shanghai, dan Beijing atas undangan Xi Jinping. Di Balai Agung Rakyat, ia bertemu langsung dengan Xi — pertemuan pertama antara pemimpin KMT dan Partai Komunis Tiongkok dalam hampir satu dekade. Kunjungan ini terjadi menjelang KTT Trump-Xi pada Mei, menjadikannya momen geopolitik yang sangat krusial. Akankah ini momen awal berakhirnya ketegangan Taiwan dan Tiongkok?

Akhirnya Prabowo Habibienomics?

Prabowo mendorong Indonesia tak sekadar mengekspor nikel mentah, tapi mengolahnya jadi baterai dan mobil listrik nasional. Lewat 21 proyek hilirisasi senilai USD 40 miliar dan Danantara sebagai motor investasi, ia ingin Indonesia melompat dari eksportir komoditas menjadi produsen kendaraan listrik. Ini bukan sekadar kebijakan industri — ini taruhan besar bahwa Indonesia bisa ikut bermain di revolusi energi global. Akankah berhasil?
- Advertisement - spot_img